KUAT DALAM MENGHADAPI
BADAI
(Filipi 4:13)
Tiap orang pasti
menghadapi badai. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub dalam realita
hidup mereka juga mengalami badai kehidupan, seakan ditinggalkan Tuhan dan
tidak terselamatkan. Musa juga mengalami badai dalam memimpin bangsa
Israel ke luar dari Mesir. Para nabi, bahkan murid-murid Yesus seperti Andreas,
Petrus, Yohanes juga mengalami badai kehidupan. Disimpulkan setiap orang
mengalami badai hanya takaran besar kecilnya yang berbeda.
Paulus menulis: “Segala
perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13).
Paulus bersaksi memberikan pernyataan badai selalu ada dan Paulus dapat melewati
dan menanggungnya karena tahu dan percaya pada satu nama, Dia yaitu Yesus yang memberi
kekuatan. Paulus mengatakan segala perkara bukan satu atau dua saja, tetapi
semua persoalan bisa dilewati karena Yesus memberi kekuatan. Melalui firman ini
kita belajar bagaimana menghadapi badai kehidupan itu sehingga kita kuat.
Pertama, badai pasti datang,
pasti hadir dan celakanya kita memberinya peluang dan kesempatan berkarya dalam
diri kita. Salomo menulis: “Ada jalan yang
disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Yakobus menulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai
oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila
keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah
matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:14-15)
Pada teks ini menyatakan
badai atau persoalan hidup muncul karena kita memberi peluang, memberi tempat,
kesempatan untuk berkarya. Badai itu bukan dari Tuhan, bukan dari Iblis,
melainkan dari diri kita sendiri, karena tidak bisa mengontol hawa nafsu yaitu
keinginan sendiri. Amsal menyebut: disangka orang lurus, sebenarnya kita tahu
jalan berkelok, tahu itu menuju maut, tahu itu salah, tetapi keinginan kita
lebih berkuasa, keinginan itu mengendalikan diri kita sehingga jalan di depan
itu kita sederhanakan dalam pikiran kita, jalan berkelok-kelok kita anggap lurus.
Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sudah berkecukupan malah
bertindak bodoh dengan korupsi, merampas milik orang lain, menipu banyak orang,
merampas hak Tuhan, hak anak yatim dan para janda dilahap tanpa malu, halalkan
segala cara mencapai tujuan bahkan menggunakan doa dan gereja sebagai kamuflase
dari kejahatan yang dilakukan. Tepat pernyataan Yakobus: keinginannya sendiri
yang menjerumuskan orang. Keinginan atau nafsu itu memikat dan menyeret,
mula-mula pikiran, dibuahi dan menjadi tujuan, berubah menjadi tindakan itulah
dosa.
Jadi, jangan pernah
katakan badai ini dari Tuhan, badai ini dari Iblis, memang Tuhan menginjinkan
badai itu datang menerpa, Iblis melengkapinya dengan bermacam-macam godaan yang
memikat hati, hal ini terjadi karena nafsu dan pengetahuan kita tentang Tuhan
sempit, bahkan kurang, mungkin saja tidak ada, sehingga kita menjadi budak
untuk diri kita sendiri. Karena itu mulai sekarang cukupkanlah dirimu dengan
apa yang ada padamu, jangan serakah, kikir, pelit dan jangan ingin yang
berlebihan, ingatlah dalam segala yang ada padamu itu ada juga bagian orang
lain, juga ada bagiannya Tuhan.

Kedua, badai menerpa
orang-orang hebat, apa lagi orang yang biasa-biasa saja, badai ada karena
bimbang, khawatir dan takut pada keadaan sekelilingnya. Kisah Petrus hampir
tenggelam ketika ia berjalan di atas air dan kisah murid-murid yang marah pada
Yesus karena Yesus tidur saat badai mengamuk menjadi contoh bagi kita. Matius
menulis: “Tetapi ketika dirasanya
tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan,
tolonglah aku!" (Matius 14:30). “Sekonyong-konyong
menga-muklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang,
tetapi Yesus tidur (Injil Matius 8:24).
Dua peristiwa berbeda,
tetapi ada kesamaannya yaitu badai yang mengamuk dan keduanya mengancam jiwa
orang-orang yang dekat dengan Yesus. Kenapa Petrus bisa tenggelam padahal ia
beriman pada Yesus dan bahkan Yesus yang memerintahkan untuk berjalan di atas air.
Jawabnya Petrus mulai bimbang karena situasi dan kondisi. Ada tiupan angin,
muncullah ketakutan dan dalam ketakutan itu imannya goyah dan kekhawatiran
mememuhi pikirannya.
Bimbang, khawatir, takut
adalah satu paket keadaan dan kondisi yang terus dihadapi dalam hidup. Bimbang
akan menghasilkan keragu-raguan pada harapan yang seharusnya dicapai dan karena
keragu-raguan terpaksa mencari jalan lain sebagai tambahan pegangan untuk
menyakinkan bahwa harapan dapat dicapai. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam
mencapai tujuan beriman yaitu percaya pada Yesus, harusnya sepenuhnya
bergantung pada Yesus, tetapi karena ia ragu, ia mencari cara memenuhi
harapannya itu.
Hal ini dilakukan Sara istri
Abraham, seorang istri yang percaya pada Tuhan, tetapi Sara menawarkan Hagar
pada Abraham untuk memperoleh anak walau itu bukan yang dijanjikan Tuhan.
Demikian juga sikap Ribka istri Ishak, ia ingin membantu Tuhan agar berkat yang
seharusnya pada Yakub, jangan sampai terlanjur diambil Esau. Sara takut karena
ia mandul, Ribka takut karena ia lebih menyayangi Yakub, lalu tindakan mereka
menjadi salah akibat keraguan dan ketakutan, mereka akhirnya menyederhanakan
sikap mereka menjadi seolah-olah benar. Ini akibat dari kebimbangan seperti
Petrus bimbang dan khawatir karena tiupan angin, seperti murid-murid di atas
perahu takut dan khawatir karena badai yang mengamuk itu. Jadi karena kebimbangan, khawatir, takut,
kita tidak bisa bertahan pada badai yang datang dan akhirnya terperosot dalam tindakan yang
salah.
Ketiga, karena badai itu pasti
datang, kita wajib untuk memiliki penyangkal ke luar dalam badai, sehingga kita
kuat ketika badai itu tiba pada kehidupan kita. Alkitab mengajarkan langkah
sederhana agar kuat menghadapi badai.
Satu. Bertekun dalam doa dan tetap tenang menghadapi
tantangan. Semua orang tahu berdoa, terkadang doa terkesan disepelekan, akibatnya kehilangan
kekuatannya. Kalau kita berdoa kita mendapat kekuatan baru dalam menghadapi
badai, karena itu ambillah waktu untuk berdoa. Paulus menulis: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah
dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Ketika rasa
sesak tiba dan godaan kenikmatan dunia datang, maka yang utama dilakukan adalah
berdoa, sebab doalah menghubungkan kita dengan TuhanYesus. Dengan doa kita bisa
mengendalikan diri kita, mengendalikan pikiran kita, mengendalikan tindakan
kita agar tidak diseret, tidak terpikat dalam hawa nafsu yang rendah.
Dua. Bertahan dalam keadaan, jangan berbalik,
apalagi berhianat pada Tuhan. Saat ombak kehidupan menerjang,
kita dapat tergoda dan bahkan berhenti berusaha, juga berhenti beriman. Saat
seolah tidak ada harapan, tidak punya apa-apa, biasanya iman ikut terbang
melayang entah kemana. Ini yang harus kita perjuangkan agar semagat kita tetap
ada. Seorang pahlawan takkan mendapat kemenangan jika berhenti berjuang dan
menyerah, inilah yang harus kita teladani. Kita perlu terus berjuang dan
berpegang pada iman, jangan biarkan tantangan membuat iman kita terhenti! Paulus
menulis: “Tidak tahukah kamu, bahwa
dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya
satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga
kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Berhenti berdoa akan membuat kita
ditelan ombak dan badai itu sendiri. Berlari membuat kita bisa menyelamatkan
diri dari tsunami kehidupan.
Tiga. Tetap menjaga hati agar semakin kuat dan
dewasa. Biasanya terjadi saat badai menerjang seseorang
bisa semakin kuat dan bisa makin jahat kalau tidak mampu menjaga hati. Situasi
dan kondisi ini buat kita menjadi tidak bersyukur, mengeluh, mengutuki Tuhan,
ragu pada kuasa-Nya. Di saat itulah kita menjadi rentan godaan Iblis. Karena
itu jika hidup sangat sulit, perlu menjaga hati dengan lebih intens. Amsal
4:23 “Jagalah hatimu dengan
segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Semua hal
memang bermula dari hati kita, pikiran, perkataan dan perbuatan berasal dari
hati. Itulah alasan bagi kita untuk terus menjaga hati, utamanya saat-saat
sulit. Renungkanlah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Pdt.
Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli, 3 Maret
2024).