Kamis, 18 April 2024

DIA PUN GANTIKAN AKU (Marini Siahaan, SE., M.Th)


Peristiwa yang tak pernah lepas dari air mata umat Kristen adalah setiap kali mengenang dan mengingat penderitaan Tuhan Yesus yang berawal di taman Get-semani. Saat kita merenungkan kisah penderitaan dan kematianNya, kita diingatkan akan kasih yang tak terbatas, dari Tuhan yang mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita karena melalui peristiwa ini, kita diberikan kesempatan mendapatkan keselamatan dan hidup yang kekal. 

Dosa hal serius, dari sisi Allah merupakan perkara yang harus dibereskan, diselesaikan sampai tuntas dalam kehidupan manusia. Dan bayaran yang mahal dan tuntas itu hanya bisa dibayar dan diselesaikan Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus. 

Darah dan air mata yang tercurah bahkan sejak sebelum Dia naik ke Kayu Salib, menggambarkan betapa berat dan besarnya perkara dosa dan maut yang harus diselesaikan. Dan hanya ada satu alasan untuk Tuhan Yesus rela melakukan semua itu bagi umat ciptaanNya, yaitu: KasihNya. Seperti yang jelas dituliskan dalam Firman-Nya: Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Jumat Agung adalah puncak peristiwa yang meng-gambarkan kasih yang sempurna itu. Kasih dari Sang Pencipta kepada makhluk ciptaan Nya . Tidak  ada Kasih yang lebih tinggi dan yang lebih sempurna dari itu. Kasih yang membuat Dia memberi diri-Nya sendiri untuk menggantikan tempat saya dan saudara di Kayu Salib, untuk membayar hutang dosa dan menuntaskan segala perkara bahkan maut sekalipun. Tuntas... tidak ada yang terlewati dan tidak ada yang terlupakan...

Dan hal ini hendaknya menjadi kekuatan dan kebanggaan bagi semua kita umat tebusan Nya, tidak ada lagi yang dapat "menuduh" kita, tidak ada lagi yang dapat "mengintimidasi" kita...karena kita sudah bebas oleh darah dan kematian Tuhan yesus di Kayu Salib.

Ada suatu paradoks yang sangat menarik dari peristiwa substitusi di Kayu Salib ini. Yaitu dimana Tuhan Yesus memberikan kebebasan (kemerdekaan) bagi kita.. justru ketika kita dengan rela memberikan diri kita menghamba/terikat pada anugerah keselamatan-Nya dalam Iman kepada Yesus Kristus. Sesuatu yang aneh menurut pikiran dunia ini, tapi itulah yang TUHAN buat dan kerjakan bagi kita umat ciptaan Nya. Memberi diri terikat untuk menjadi merdeka !!

Dan pertanyaan bagi diri kita sendiri adalah : "apakah kita mau memberi diri kita terikat pada Yesus, untuk menjadi seorang yang merdeka seutuhnya ?"

MARINI SIAHAAN, SE., MTh

Marini Siahaan seorang konselor, dipakai Tuhan dalam banyak kegiatan kerohanian, aktif di MATAHATI.TV memimpin rubrik PEREMPUAN BICARA dan juga sebagai host, pembicara tetap untuk topik-topik tentang perempuan di Alkitab.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita dengan menjadi ganti diri kita di Kayu Salib, adalah kemerdekaan yang abadi, berkuasa dan penuh dengan janji yang mulia. Dan melalui pengorbanan Kristus, kita diajak untuk memperdalam iman kita, memperbaiki kesalahan kita, dan memaafkan orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita. Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan cara kita dapat menjadi lebih baik sebagai orang Kristen dan melayani sesama dengan kasih.

Kematian bukanlah akhir dari Inilah pesan yang harus kita sampaikan kepada dunia: bahwa dalam setiap kesulitan dan penderitaan, ada harapan yang terletak dalam iman kepada-Nya yang telah bangkit.

Akhirnya, Jumat Agung adalah gambaran KASIH Tuhan yang sempurna itu. Melalui kata-kata dan tindakan kita, mari kita menjadi saksi bagi kasih dan kekuatan Allah yang telah memenangkan kematian dan dosa. Semoga kita dapat menjalani hidup yang tercerahkan oleh kehadiran Kristus dalam segala aspek kehidupan kita, dan membawa cahaya dan harapan kepada mereka yang membutuhkannya. Tuhan Yesus Memberkati.

(Penulis: Marini Siahaan, SE., MTh, Host Matahati.TV)


Selasa, 19 Maret 2024

DOKUMEN PELAYANAN

keluarga memang selalu menarik untuk dibicarakan, terlebih aktifitas yang menyertainya. dalam beberapa dokumen dibawah ini tersimpan foto keluarga dalam beberapa peristiwa. semoga dapat bermanfaat.


bersama istri pada pernikahan sahabat kami Alm Nelson dan Alm Novi, dua sahabat kami ini berkenalan dan kemudian menikah. sebagai keluarga The Papas Vocal Band kami mendukungnya sepenuh hati dan pada akhirnya keduanya telah lebih dulu dipanggil Tuhan Yesus



melayani pernikahan di Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL), kedua penganting adalah warga jemaat GPIL yang laki-laki suku toraja (Sulsel) dan perempuan suku karo (Sumut). dilayani di gereja yang baru saja selesai kami dibangun pada masa menjadi pendeta jemaat di GPIL.




"berdua saja., dulu sampai sekarang"

TAK SEORANG PUN DIABAIKAN (Mawardin Zega)

Kitab Ulangan salah satu kitab Musa yang ditulis sebagai buku terakhir dari lima kitab. Seluruh kitab Musa mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Ulangan mengisahkan bagaimana awal alam semesta dan hidup manusia sampai pada terbentuknya bangsa Israel. Kitab Ulangan berisikan amanat perpisahan Musa dimana di dalamnya mengulas kembali dan memperbaharui perjanjian Allah dengan Isreal untuk angkatan Isreal yang baru.

Menarik untuk direnungkan firman Tuhan dari kitab Ulangan 6:6-7 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Teks ini ada perintah Tuhan kepada bangsa Israel untuk mempercakapkan, membicarakan secara berkesinambungan tentang Tuhan dan kekuasaanNya yang dasyat dan luar biasa yang dialami manusia dan khususnya bangsa Israel dan yang harus mereka ingat selamanya bagaimana Tuhan sudah menolong mereka.


"melayani ibadah raya"

Dalam kaitan mengingat pertolongan Tuhan bangsa Isreal dapat belajar dari beberapa peristiwa diantaranya 10 tulah yang terjadi di Mesir, tetapi tanah Goshen tempat kediaman bangsa Israel yang berbatasan dengan Mesir tidak terlulahi. Peristiwa terbelahnya laut Taberaum yang membawa keselamatan bagi Israel, tetapi membawa kemusnahan dan kematian bagi serdadu Mesir yang mengejar mereka. Ada peristiwa dahsyat selama dalam perjalanan di gurun pasir yaitu keberadaan tiang awan di siang hari melindungi mereka dari terik panas dan tiang api di malam hari yang melindungi mereka dari udara yang dingin. Peristiwa di Masa dan Meriba ada air yang mengalir dari dalam batu ketika mereka kehausan dan meminta air dari Tuhan. Peristiwa datangnya burung puyuh dan manna setiap pagi ketika meminta roti dan daging untuk dimakan. Kemenangan dalam peperangan melawan bangsa-bangsa sekitarnya diantaranya bangsa Amori, Amalek, Moab dan Midian dan sederet peristiwa lainnya yang terjadi sepanjang perjalanan dari Mesir. Marilah kita merenungkan makna dari bacaan kita.

Pertama, apa yang diperintahkan Tuhan Allah untuk bangsa Israel sebagaimana dalam bacaan kita? Jawabannya adalah mengajarkan dan membicarakan suatu keberhasilan dan sebab-sebab keberhasilan itu dapat dicapai. Keberhasilan bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir sampai pada suatu tempat di tepi sungai Yordan dan mereka segera menyeberang untuk menduduki tanah Kanaan. Keberhasilan itu hanya satu sebabnya karena Tuhan menuntun mereka.

Kitab Ulangan 32:7 “Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perha-tikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu”. Dalam teks ini ada hal yang harus dingat, peristiwa masa lalu jangan sampai dilupakan. Kita harus mengingat sesuatu tentang banyak hal yang pernah terjadi termasuk sebab-sebab dari peristiwa keberhasilan itu terjadi.

Sebab dalam suatu peristiwa banyak orang telah mengambil bagian dan tak seorangpun dapat diabaikan. Keberhasilan dapat dicapai bukan hanya karena satu faktor, tapi beberapa faktor lainnya yang mendukung keberhasilan itu. Seberapa kecilpun dukungan merupakan berkat Tuhan yang diizinkan terjadi dan diberikan untuk membuka jalan mencapai sukses, yang paling penting di dalamnya adalah peristiwa itu ada Tuhan dan diizinkan terjadi sebagai sebuah catatan sejarah bagi tiap-tiap orang.

Karena itu jangan pernah lupa sejarah, jangan lupa pada peristiwa masa lalu dan yang terpenting jangan juga larut dalam peristiwa masa lalu itu sehingga dirimu tenggelam di dalamnya. Ingatlah selalu dari pengalaman masa lalu, kita belajar sesuatu yang tidak perlu lagi kita ulangi peristiwa itu terjadi kembali sebagai pembelajaran.

Kedua, sesuatu yang baik dan benar hendaklah berkelanjutan. Belajar dari pengalaman, banyak orang sukses tidak lagi membutuhkan penunjangnya yang bersama mereka ketika mereka memulai sesuatu itu. Banyak yang lupa pada orang-orang yang menopang tangannya pada saat-saat sulit yang sebelumnya. Hal ini terjadi karena sukses yang sudah dicapai itu dianggap sebagai hasil karya sendiri, perjuangan sendiri yang patut dibanggakan. Tetapi firman Tuhan mengatakan sukses itu agar tetap langgeng membutuhkan penasehat-penasehat yang member pertimbangan-pertimbangan. Amsal 20:18 “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat” dan Amsal 24:6 “Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak”.

Dalam teks ini menjelaskan kepada kita petimbangan dan siasat adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Pertimbangan perlu agar di dapatkan masukan yang memadai dari banyak orang dan siasat perlu sebagai bentuk strategi dalam menjalankan hasil pertimbangan yang matang dan inilah yang sering disebut keputusan yang bijaksana. Dalam suatu peperangan dibutuhkan banyak orang, bukan hanya semata-mata sebagai orang-orang  yang turut bertempur, tetapi juga mereka-mereka yang mengatur pertempuran itu agar berhasil dengan baik.

Kerena itu janganlah juga kita mengabaikan mereka-mereka yang sudah memberikan nasehat-nasehat, memberikan masukan-masukan, kita perlu mengingat mereka, memberikan apresiasi terhadap yang telah mereka lakukan, memberikan penghargaan dan juga hormat sehingga mereka turut terus mendoakan perjuangan yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan.

Ketiga, bersyukur selalu dalam segala hal yang sudah dicapai. Arti kata syukur secara umum adalahberterima kasih kepada yang telah memberikan sesuatu kepada kita. Syukur itu pengakuan terhadap nikmat yang diberikan Tuhan Allah yang disertai dengan ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

Mengucap syukur dilakukan agar sukses yang dicapai itu langgeng dan penuh berkat, baik menjadi berkat bagi diri sendiri dan juga akan menjadi berkat bagi banyak orang. Kitab I Tesalonika 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Hanya karena kita bisa mengucap sukur kita dapat merasakan bahagia dengan apa yang sudah kita peroleh. Tidak ada hukum lain yang datangkan damai sejahtera selain mengucap syukur. Tuhan Yesus memberkati. (Pdt. Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Khusus, 16 Maret 2024).

Jumat, 15 Maret 2024

Tentang Putus Asa (Mawardin Zega)

TENTANG PUTUS ASA


Mengakhiri perjalanan hidup di dunia yang fana dan memulai hidup baru di dunia orang mati, harusnya itu adalah hak Ilahi, sang pencipta tubuh yang pada awalnya berasal dari debu tanah. Tak seorangpun dapat mengambilnya, juga termasuk untuk dirinya sendiri jika iapun mau. Dan ketika seseorang menamatkan kisahnya di dunia, menyelesaikan seluruh cerita tentang hidupnya melalui jalan senyap yaitu bunuh diri, orang terperangah dan berkata dengan tanda tanya yang dalam sedemikian rumitkah hidup orang itu sampai ia harus menamatkan riwayatnya tanpa persetujuan sang Ilahi?



Ega Mawardin

Menurut pakar kejiwaan sebagai sebuah pendapat saja, penyebab utama orang bunuh diri adalah keputus’asaan. Seseorang merasa putus asa karena berbagai persoalan hidup yang mendera dan seakan tidak lagi menemukan jalan ke luar dari persoalan hidupnya itu. Entah itu karena sakit yang tidak kunjung sembuh, bisnis yang terus merugi, menganggur dalam waktu lama, kesepian, keinginan yang tak terkabul dan banyak faktor lain yang tidak dapat dijawab yang bersangkutan itu sendiri. Beban kejiwaan yang menghimpit itu dan tiadanya teman untuk berbagi menghasilkan keputus’asaan yang tak lagi dapat ditanggung hati yang lemah dan itu menyebabkan seseorang mengambil keputusan senyap untuk mengakhiri seluruh riwayat dan cerita tentang hidupnya dengan bunuh diri.

Itulah sebabnya dalam Kitab segala kitab dalam suatu masa sebelum masehi, seorang pemazmur menulis: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Penulis yang bermazmur itu adalah seorang raja besar pada zamannya, sepertinya ia berada dalam keadaan tertekan menanggung beban dan ia dihantui rasa gelisah yang sangat. Sesungguhnya sang raja sedang dalam kondisi kejiwaan yang terguncang masuk dalam keputus’asaan yang sangat, walaupun pada akhirnya ia dapat ke luar dari kondisi itu. Sesungguhnya situasi tertekan dan gelisah yang dialami adalah jalan awal dalam keputus’asaan.

Kata putus asa menurut kamu bebas bahasa Indonesia dapat diartikan dengan keadaan yang tidak ada harapan atau sia-sia, bingung sekali, sangat kusut dan terganggu pikirannya. Dari arti kata dapat disimpulkan jika seseorang putus asa maka yang terjadi adalah orang itu kehilangan pengharapan dan kemampuan akal sehatnya untuk ke luar dari persoalan yang dihadapinya. Dan saat seperti itulah terbersit kata akhir untuk menyelesaikan seluruh riwa- yatnya di dunia yang fana ini dengan jalan pintas bunh diri.

Ketika seorang anak yang masih pelajar harus mengakhiri kisah hidupnya hanya karena tidak memi- liki hape android, atau ada seorang remaja yang mengantung dirinya karena cintanya ditolak orang yang ia sukai atau sepasang kekasih menyelesaikan perjalanan hidup di dunia yang fana karena orang tua tidak merestui cinta yang indah miliknya, sesungguhnya itu diawali oleh rasa tertekan dan gelisah dan berkembang menjadi keputus’asaan yang sangat dan seterusnya menjadi jalan buntu untuk hidup dan karena tidak mampu untuk berbagi cerita dengan orang yang lain pada akhir- nya menamatkan riwayat hidupnya sampai disitu.

Itulah sebabnya dalam Kitab segala kitab, pada zaman dahulu kala ketika para pujangga Yahudi memberi nasihat kepada bangsanya untuk bertahan dalam segala tekanan dan ke luar dari segala kegelisahan agar hidup ini dapat dinikmati. Kalau kita mengutip kalimat dalam Kitab segala kitab, dari tulisan seorang pujangga besar bernama Yesaya bangsa Izara- eli dari keturunan Yahudi di negeri berlimpah susu dan madu pernah menulis syair indah bunyinya: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya”. Sungguh, syair ini mengingatkan sesungguhnya hidup itu masih ada harapan ada pengharapan dari Dia pemilik seluruh hidup.

Buluh yang patah terkulai itu, masih ada harapan untuk hidup kembali dan bertumbuh. Sumbu yang pudar nyalanya masih ada harapan untuk tetap bersinar menerangi sekeliling. Karenanya percayalah bahwa keputus’asaanmu, kegelisahanmu sekalipun, tak akan membuat engkau tekapar kalah dalam perjuangan ini. Hidup ini untuk diperjuangkan dan bukan untuk disesali.

(Penulis: Ega Mawardin)

DIA Menegur (Mawardin Zega)

 

DIA MENEGUR, sebuah renungan

Topik ini disampaikan pada ibadah siswa di SMK Negeri 1 Gunungsitoli pada hari Jumat, tanggal 1 Maret 2024. Dalam kesempatan ibadah yang dihadiri sekitar 300 siswa lebih khusus kelas 10 (sepuluh). sebelumnya pernah juga di kelas 11 dan di kelas 12 pada minggu-minggu sebelumnya. Sebagai landasan firman Tuhan dikutip dari kitab Amsal 28:23 "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat", dan disampaikan oleh Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th., dari Gereja Bethany Indonesia Gunungsitoli.



bersama siswa/i kelas 10 smk n 1 gusit


di depan panji-panji smk n 1 gusit

Sebuah teguran yang keras biasanya akan membekas dihati. Ada kalanya teguran itu menyakitkan dan membuahkan air mata yang jatuh berderai, kadang juga menghasilkan sesak di dada dan dapat menimbulkan sesak nafas, juga dapat menimbulkan sakit hati dan bahkan terluka, bisa juga menimbulkan marah, ada rasa kesal berkempajangan, ada rasa benci, dan ingin membalas dendam dan banyak hal lainnya yang bisa terjadi hanya karena teguran yang dilontarkan. Kadang kala juga teguran itu menyenangkan hati yang menerimanya bahkan menghasilkan sukacita yang membuat ia menjadi makin baik, ada rasa bahagia, juga senang dan sukacita, ada juga habis di tegur malah semakin akrab dengan yang menegurnya, makin cinta dan lain sebagainya. Semua ini tergantung hati yang menerima teguran itu.

Bagian ini adalah referensi Alkitab tentang teguran; pertama: Wahyu 3:19 “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”. Kata kunci adalah kerelaan hati untuk mau menerima teguran dan diikuti dengan mau bertobat. Kalau Tuhan menegur hati kita harus rela dan siap untuk menyesali dosa dan bertobat dan kedua: Amsal  6:23 “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan”. Dalam kaitan ini bisa saja teguran itu menjadi: pelita atau cahaya atau jalan kehidupan yang pada akhirnya membawa kita makin baik dan dewasa.

Harus diingat bahwa teguran itu ibarat tungku api untuk memurnikan dan menghaluskan, tetapi tidak untuk menghabiskan dan menghancurkan. Maka janganlah kita berduka dan bersedih hati karena dalam hidup ini kita tidak lepas dari kekecewaan dan kesusahan. Teguran itu betapapun sakitnya, ia akan membawa kita kepada pertobatan dan jalan kehidupan.

Sukses untuk siswa-siswi kami kelas 10 SMK Negeri 1 Gunungsitoli. (by Mawardin Zega)

Menjadi Berhasil Di Masa Depan (Mawardin Zega)

Belajar firman Tuhan, tema hari ini: “Menjadi Berhasil Di Masa Depan”. Bacaan Alkitab kitab I Raja-raja 2:3 “Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju”.

Kisah ini sebuah pesan dari Daud raja Israel menjelang hari kematiannya yang disampaikannya pada anaknya Salomo sebelum diangkat menjadi raja. Dalam catatan sejarah Daud seorang raja yang diurapi Tuhan. Daud sebelumnya orang biasa dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa selain tugasnya menjadi gembala ternak yang baik. Perjalanan hidupnya Daud percaya dan beriman kepada Tuhan dan karena itulah ia memenangkan banyak sekali pertempuran diantaranya kisah fenomenal ketika mengalahkan Goliath pahlawan orang Filistin.

Salomo adalah orang muda belum berpengalaman, karena ia bergaul erat dengan ayahnya yang seorang pahlawan sejati dan juga seorang raja serta teguh dalam beriman, maka secara tidak langsung Salomo belajar dan menerima didikan yang baik, ajaran yang benar dan hikmad dari Tuhan dalam memimpin kerajaan Israel sebagai raja yang ketiga. Sebagai seorang anak raja, seorang muda tentu Salomo sedia memberi dirinya dididik, diajar, dinasehati  agar ia menjadi berhasil di masa depan.


"sebagian dari mereka yang pamitan"

Demikian juga semua kita yang hadir pada hari ini, terlebih bagi remaja usia muda SMK Negeri 2 Gunungsitoli dan sudah kelas akhir, di kelas 12, dan orang tua kami dari anak-anak yang segera akan mengakhiri kegiatan sekolahnya, menyelesaikan studinya tentu dengan harapan baik dan memuaskan. Kita belajar dari raja Salomo yang dengan teguh memegang nasehat dari ayahnya Daud untuk sepenuhnya menjadikan Tuhan Allah sebagai sumber hikmad untuk masa depannya.

Belajar dari kitab 1 Raja-raja 2:3 tentang nasehat Daud kepada Salomo dan menjadi pembelajaran bagi kita sebagai nasehat Tuhan untuk kita semua pada hari ini, terlebih bagi anak-anak muda, para siswa yang segera akan mengakhiri studi di tempat ini, mari sendengkan telinga dan memberi perhatian untuk mendengar.

Pertama, Daud mengatakan kepada Salomo; Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN Allahmu; ini sebuah pernyataan yang menuntut kepatuhan kepada Tuhan Allah sebagai kewajiban yang pasti. Untuk menjalankan kepatuhan itu, Salomo harus belajar mengenal Tuhan dengan benar sehingga dapat meminta hikmad kepada Tuhan yang benar itu. Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. Salomo sekalipun ia masih muda, tetapi setelah menjadi raja ia mengajukan permohonan memohon hikmad kepada Tuhan yaitu pengetahuan tentang Allah, hikmad dalam bertindak bijaksana dan Tuhan menganggap permintanyanya itu baik, Salomo menerima lebih dari yang dibutuhkannya (1 Raja-raja 3:9-10).

Karena itu bagi kita hari ini yang utama adalah bagaimana mengenal Tuhan dengan benar. Tuhan dalam Yesus Kristus sebagai juru slamat kita. Pengenalan kita akan Tuhan adalah sebuah pengetahuan yang kita peroleh dengan belajar yang benar dan tekun sehingga kita mengenal yang kita pelajari itu dengan baik dan benar. Mengenal itu ibarat mempelajari sesuatu membutuhkan ketekunan dalam belajar, ibarat kalau mau lulus, maka belajar dengan tekun dan benar tentang yang kita pelajari itu. Guru dan orang tua adalah pembimbing yang baik dan benar sehingga pengetahuan kita menadi benar. Demikian juga dengan Tuhan Allah, Yesus Kristus sang juruslamat, Firman Tuhan mengatakan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, permulaan hikmat. Kata takut diartikan sebagai belajar dengan tekun dan belajar dengan benar sehingga mengenal Tuhan itu dengan benar juga. 


"mereka yang mengambil bagian dalammkegiatan"
   

Kedua, Daud menasehatkan hal penting pada Salomo yaitu tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan yaitu apa yang Tuhan gariskan sebagai pedoman dalam mengerjakan keselamatan agar berhasil dimasa kini dan masa depan. Hal ini penting sebab ketetapan, perintah, peraturan, ketentuan dari Tuhan adalah penuntun kepada jalan kebenaran dan hidup. Itulah sebabnya kepatuhan pada ketentuan dan perintah itu sebuah didikan yang harusnya dan wajib diikuti dan bukan dilalaikan. Amsal 1:8-9 “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu”.

Teks ini memberikan pengetahuan dan mengajarkan kepada kita tentang sikap seorang anak terhadap ayah dan ibunya dan gurunya, agar berhasil dalam hidupnya. Dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, ini bicara tentang rasa hormat kepada orang tua. Kalau menghormati orang tuamu atau guru maka tentu engkau mendengar didikannya, melakukan ajarannya sebagai penuntun dalam hidup yang berhasil. Tidak ada seorangpun orang tua ingin anaknya gagal, tidak ada seorangpun guru ingin siswanya tidak berhasil, semua ingin berhasil, tetapi itu sia-sia jika anak atau siswa itu lalai dalam mendengar nasehat orangtuanya, didikan ayahnya, ajaran ibunya. Sebab didikan itu harusnya sebagai mahkota yang indah di kepala dijaga dan dipelihara. Ajaran itu bagaikan mutiara yang tergantung di leher sebagai kalung diperhatikan dengan baik agar tetap ada ditempatnya, tidak terbuang atau terhilang. Karena itulah hormati orang tuamu, ayah dan ibumu dan gurumu dan semua yang diajarkannnya agar berhasil hidupmu dimasa depan.

Ketiga, Daud memesankan agar Salomo hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Jalan yang ditunjukan Tuhan itu jelas, sebab Yesus berkata: Aku adalah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku (Yoh.14:6). Jalan kita hendaknya jalan yang lurus kepada terang yaitu Yesus, sebab banyak di dunia ini jalan berliku-liku dan jalan buntu. Pergaulan kita menentukan jalan yang kita tempuh, pergaulan kita menentukan masa depan yang kita raih. Paulus menulis: I Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.

Kata sesat adalah berkaitan dengan jalan yang ditempuh. Pergaulan kita berkaitan dengan jalan yang menjadi pilihan kita. Sebab itu jagalah pergaulanmu agar hidupmu berkenan kepada Tuhan, tanpa pergaulan yang intim dengan Tuhan tidak ada masa depan yang cerah. Salah satu menjaga keintiman dengan Tuhan memperkatakan firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8).

Akhir kata kami pesankan pada anak-anak kami, kenanglah orang tuamu dan cintailah mereka, sebab berkat Tuhan, kesuksesan ada dalam doa mereka yang menyertaimu kemanapun engkau pergi. Kenanglah guru-gurumu yang telah mendidik engkau dengan susah payah membekali engkau menapak masa depan penuh harapan, sebab guru-gurumulah yang memberikan engkau pengetahuan dasar sebagai awal sukses masa yang akan datang.

Pada akhirnya, kelak setelah engkau berhasil dalam hidup ini kembalilah ke sekolahmu di SMK Negeri 2 Kota Gunungsitoli, lihatlah, sekedar menyemangati guru-gurumu yang masih berumur panjang dan mengabdi tanpa tanda jasa apapun untukmu dan untuk generasi berikutnya. Tuhan Yesus memberkati. (disampaikan para ibadah pamitan SMKN2, 9 Maret 2024)

Rabu, 06 Maret 2024

Kuat Menghadapi Badai (Mawardin Zega)

 

KUAT DALAM MENGHADAPI BADAI

(Filipi 4:13)

Tiap orang pasti menghadapi badai. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub dalam realita hidup mereka juga mengalami badai kehidupan, seakan ditinggalkan Tuhan dan tidak terselamatkan. Musa juga mengalami badai dalam memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir. Para nabi, bahkan murid-murid Yesus seperti Andreas, Petrus, Yohanes juga mengalami badai kehidupan. Disimpulkan setiap orang mengalami badai hanya takaran besar kecilnya yang berbeda.

Paulus menulis: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13). Paulus bersaksi memberikan pernyataan badai selalu ada dan Paulus dapat melewati dan menanggungnya karena tahu dan percaya pada satu nama, Dia yaitu Yesus yang memberi kekuatan. Paulus mengatakan segala perkara bukan satu atau dua saja, tetapi semua persoalan bisa dilewati karena Yesus memberi kekuatan. Melalui firman ini kita belajar bagaimana menghadapi badai kehidupan itu sehingga kita kuat.

Pertama, badai pasti datang, pasti hadir dan celakanya kita memberinya peluang dan kesempatan berkarya dalam diri kita. Salomo menulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Yakobus menulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:14-15)

Pada teks ini menyatakan badai atau persoalan hidup muncul karena kita memberi peluang, memberi tempat, kesempatan untuk berkarya. Badai itu bukan dari Tuhan, bukan dari Iblis, melainkan dari diri kita sendiri, karena tidak bisa mengontol hawa nafsu yaitu keinginan sendiri. Amsal menyebut: disangka orang lurus, sebenarnya kita tahu jalan berkelok, tahu itu menuju maut, tahu itu salah, tetapi keinginan kita lebih berkuasa, keinginan itu mengendalikan diri kita sehingga jalan di depan itu kita sederhanakan dalam pikiran kita, jalan berkelok-kelok kita anggap lurus. Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sudah berkecukupan malah bertindak bodoh dengan korupsi, merampas milik orang lain, menipu banyak orang, merampas hak Tuhan, hak anak yatim dan para janda dilahap tanpa malu, halalkan segala cara mencapai tujuan bahkan menggunakan doa dan gereja sebagai kamuflase dari kejahatan yang dilakukan. Tepat pernyataan Yakobus: keinginannya sendiri yang menjerumuskan orang. Keinginan atau nafsu itu memikat dan menyeret, mula-mula pikiran, dibuahi dan menjadi tujuan, berubah menjadi tindakan itulah dosa.

Jadi, jangan pernah katakan badai ini dari Tuhan, badai ini dari Iblis, memang Tuhan menginjinkan badai itu datang menerpa, Iblis melengkapinya dengan bermacam-macam godaan yang memikat hati, hal ini terjadi karena nafsu dan pengetahuan kita tentang Tuhan sempit, bahkan kurang, mungkin saja tidak ada, sehingga kita menjadi budak untuk diri kita sendiri. Karena itu mulai sekarang cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, jangan serakah, kikir, pelit dan jangan ingin yang berlebihan, ingatlah dalam segala yang ada padamu itu ada juga bagian orang lain, juga ada bagiannya Tuhan.

Kedua, badai menerpa orang-orang hebat, apa lagi orang yang biasa-biasa saja, badai ada karena bimbang, khawatir dan takut pada keadaan sekelilingnya. Kisah Petrus hampir tenggelam ketika ia berjalan di atas air dan kisah murid-murid yang marah pada Yesus karena Yesus tidur saat badai mengamuk menjadi contoh bagi kita. Matius menulis: “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (Matius 14:30). “Sekonyong-konyong menga-muklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur (Injil Matius 8:24).

Dua peristiwa berbeda, tetapi ada kesamaannya yaitu badai yang mengamuk dan keduanya mengancam jiwa orang-orang yang dekat dengan Yesus. Kenapa Petrus bisa tenggelam padahal ia beriman pada Yesus dan bahkan Yesus yang memerintahkan untuk berjalan di atas air. Jawabnya Petrus mulai bimbang karena situasi dan kondisi. Ada tiupan angin, muncullah ketakutan dan dalam ketakutan itu imannya goyah dan kekhawatiran mememuhi pikirannya.

Bimbang, khawatir, takut adalah satu paket keadaan dan kondisi yang terus dihadapi dalam hidup. Bimbang akan menghasilkan keragu-raguan pada harapan yang seharusnya dicapai dan karena keragu-raguan terpaksa mencari jalan lain sebagai tambahan pegangan untuk menyakinkan bahwa harapan dapat dicapai. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam mencapai tujuan beriman yaitu percaya pada Yesus, harusnya sepenuhnya bergantung pada Yesus, tetapi karena ia ragu, ia mencari cara memenuhi harapannya itu.

Hal ini dilakukan Sara istri Abraham, seorang istri yang percaya pada Tuhan, tetapi Sara menawarkan Hagar pada Abraham untuk memperoleh anak walau itu bukan yang dijanjikan Tuhan. Demikian juga sikap Ribka istri Ishak, ia ingin membantu Tuhan agar berkat yang seharusnya pada Yakub, jangan sampai terlanjur diambil Esau. Sara takut karena ia mandul, Ribka takut karena ia lebih menyayangi Yakub, lalu tindakan mereka menjadi salah akibat keraguan dan ketakutan, mereka akhirnya menyederhanakan sikap mereka menjadi seolah-olah benar. Ini akibat dari kebimbangan seperti Petrus bimbang dan khawatir karena tiupan angin, seperti murid-murid di atas perahu takut dan khawatir karena badai yang mengamuk itu. Jadi karena kebimbangan, khawatir, takut, kita tidak bisa bertahan pada badai yang datang  dan akhirnya terperosot dalam tindakan yang salah.

Ketiga, karena badai itu pasti datang, kita wajib untuk memiliki penyangkal ke luar dalam badai, sehingga kita kuat ketika badai itu tiba pada kehidupan kita. Alkitab mengajarkan langkah sederhana agar kuat menghadapi badai.

Satu. Bertekun dalam doa dan tetap tenang menghadapi tantangan. Semua orang tahu berdoa, terkadang doa terkesan disepelekan, akibatnya kehilangan kekuatannya. Kalau kita berdoa kita mendapat kekuatan baru dalam menghadapi badai, karena itu ambillah waktu untuk berdoa. Paulus menulis: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Ketika rasa sesak tiba dan godaan kenikmatan dunia datang, maka yang utama dilakukan adalah berdoa, sebab doalah menghubungkan kita dengan TuhanYesus. Dengan doa kita bisa mengendalikan diri kita, mengendalikan pikiran kita, mengendalikan tindakan kita agar tidak diseret, tidak terpikat dalam hawa nafsu yang rendah.

Dua. Bertahan dalam keadaan, jangan berbalik, apalagi berhianat pada Tuhan. Saat ombak kehidupan menerjang, kita dapat tergoda dan bahkan berhenti berusaha, juga berhenti beriman. Saat seolah tidak ada harapan, tidak punya apa-apa, biasanya iman ikut terbang melayang entah kemana. Ini yang harus kita perjuangkan agar semagat kita tetap ada. Seorang pahlawan takkan mendapat kemenangan jika berhenti berjuang dan menyerah, inilah yang harus kita teladani. Kita perlu terus berjuang dan berpegang pada iman, jangan biarkan tantangan membuat iman kita terhenti! Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Berhenti berdoa akan membuat kita ditelan ombak dan badai itu sendiri. Berlari membuat kita bisa menyelamatkan diri dari tsunami kehidupan.

Tiga. Tetap menjaga hati agar semakin kuat dan dewasa. Biasanya terjadi saat badai menerjang seseorang bisa semakin kuat dan bisa makin jahat kalau tidak mampu menjaga hati. Situasi dan kondisi ini buat kita menjadi tidak bersyukur, mengeluh, mengutuki Tuhan, ragu pada kuasa-Nya. Di saat itulah kita menjadi rentan godaan Iblis. Karena itu jika hidup sangat sulit, perlu menjaga hati dengan lebih intens. Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Semua hal memang bermula dari hati kita, pikiran, perkataan dan perbuatan berasal dari hati. Itulah alasan bagi kita untuk terus menjaga hati, utamanya saat-saat sulit. Renungkanlah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Pdt. Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli, 3 Maret 2024).

 

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...