Rabu, 06 Maret 2024

Kuat Menghadapi Badai (Mawardin Zega)

 

KUAT DALAM MENGHADAPI BADAI

(Filipi 4:13)

Tiap orang pasti menghadapi badai. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub dalam realita hidup mereka juga mengalami badai kehidupan, seakan ditinggalkan Tuhan dan tidak terselamatkan. Musa juga mengalami badai dalam memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir. Para nabi, bahkan murid-murid Yesus seperti Andreas, Petrus, Yohanes juga mengalami badai kehidupan. Disimpulkan setiap orang mengalami badai hanya takaran besar kecilnya yang berbeda.

Paulus menulis: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13). Paulus bersaksi memberikan pernyataan badai selalu ada dan Paulus dapat melewati dan menanggungnya karena tahu dan percaya pada satu nama, Dia yaitu Yesus yang memberi kekuatan. Paulus mengatakan segala perkara bukan satu atau dua saja, tetapi semua persoalan bisa dilewati karena Yesus memberi kekuatan. Melalui firman ini kita belajar bagaimana menghadapi badai kehidupan itu sehingga kita kuat.

Pertama, badai pasti datang, pasti hadir dan celakanya kita memberinya peluang dan kesempatan berkarya dalam diri kita. Salomo menulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Yakobus menulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:14-15)

Pada teks ini menyatakan badai atau persoalan hidup muncul karena kita memberi peluang, memberi tempat, kesempatan untuk berkarya. Badai itu bukan dari Tuhan, bukan dari Iblis, melainkan dari diri kita sendiri, karena tidak bisa mengontol hawa nafsu yaitu keinginan sendiri. Amsal menyebut: disangka orang lurus, sebenarnya kita tahu jalan berkelok, tahu itu menuju maut, tahu itu salah, tetapi keinginan kita lebih berkuasa, keinginan itu mengendalikan diri kita sehingga jalan di depan itu kita sederhanakan dalam pikiran kita, jalan berkelok-kelok kita anggap lurus. Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sudah berkecukupan malah bertindak bodoh dengan korupsi, merampas milik orang lain, menipu banyak orang, merampas hak Tuhan, hak anak yatim dan para janda dilahap tanpa malu, halalkan segala cara mencapai tujuan bahkan menggunakan doa dan gereja sebagai kamuflase dari kejahatan yang dilakukan. Tepat pernyataan Yakobus: keinginannya sendiri yang menjerumuskan orang. Keinginan atau nafsu itu memikat dan menyeret, mula-mula pikiran, dibuahi dan menjadi tujuan, berubah menjadi tindakan itulah dosa.

Jadi, jangan pernah katakan badai ini dari Tuhan, badai ini dari Iblis, memang Tuhan menginjinkan badai itu datang menerpa, Iblis melengkapinya dengan bermacam-macam godaan yang memikat hati, hal ini terjadi karena nafsu dan pengetahuan kita tentang Tuhan sempit, bahkan kurang, mungkin saja tidak ada, sehingga kita menjadi budak untuk diri kita sendiri. Karena itu mulai sekarang cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, jangan serakah, kikir, pelit dan jangan ingin yang berlebihan, ingatlah dalam segala yang ada padamu itu ada juga bagian orang lain, juga ada bagiannya Tuhan.

Kedua, badai menerpa orang-orang hebat, apa lagi orang yang biasa-biasa saja, badai ada karena bimbang, khawatir dan takut pada keadaan sekelilingnya. Kisah Petrus hampir tenggelam ketika ia berjalan di atas air dan kisah murid-murid yang marah pada Yesus karena Yesus tidur saat badai mengamuk menjadi contoh bagi kita. Matius menulis: “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (Matius 14:30). “Sekonyong-konyong menga-muklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur (Injil Matius 8:24).

Dua peristiwa berbeda, tetapi ada kesamaannya yaitu badai yang mengamuk dan keduanya mengancam jiwa orang-orang yang dekat dengan Yesus. Kenapa Petrus bisa tenggelam padahal ia beriman pada Yesus dan bahkan Yesus yang memerintahkan untuk berjalan di atas air. Jawabnya Petrus mulai bimbang karena situasi dan kondisi. Ada tiupan angin, muncullah ketakutan dan dalam ketakutan itu imannya goyah dan kekhawatiran mememuhi pikirannya.

Bimbang, khawatir, takut adalah satu paket keadaan dan kondisi yang terus dihadapi dalam hidup. Bimbang akan menghasilkan keragu-raguan pada harapan yang seharusnya dicapai dan karena keragu-raguan terpaksa mencari jalan lain sebagai tambahan pegangan untuk menyakinkan bahwa harapan dapat dicapai. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam mencapai tujuan beriman yaitu percaya pada Yesus, harusnya sepenuhnya bergantung pada Yesus, tetapi karena ia ragu, ia mencari cara memenuhi harapannya itu.

Hal ini dilakukan Sara istri Abraham, seorang istri yang percaya pada Tuhan, tetapi Sara menawarkan Hagar pada Abraham untuk memperoleh anak walau itu bukan yang dijanjikan Tuhan. Demikian juga sikap Ribka istri Ishak, ia ingin membantu Tuhan agar berkat yang seharusnya pada Yakub, jangan sampai terlanjur diambil Esau. Sara takut karena ia mandul, Ribka takut karena ia lebih menyayangi Yakub, lalu tindakan mereka menjadi salah akibat keraguan dan ketakutan, mereka akhirnya menyederhanakan sikap mereka menjadi seolah-olah benar. Ini akibat dari kebimbangan seperti Petrus bimbang dan khawatir karena tiupan angin, seperti murid-murid di atas perahu takut dan khawatir karena badai yang mengamuk itu. Jadi karena kebimbangan, khawatir, takut, kita tidak bisa bertahan pada badai yang datang  dan akhirnya terperosot dalam tindakan yang salah.

Ketiga, karena badai itu pasti datang, kita wajib untuk memiliki penyangkal ke luar dalam badai, sehingga kita kuat ketika badai itu tiba pada kehidupan kita. Alkitab mengajarkan langkah sederhana agar kuat menghadapi badai.

Satu. Bertekun dalam doa dan tetap tenang menghadapi tantangan. Semua orang tahu berdoa, terkadang doa terkesan disepelekan, akibatnya kehilangan kekuatannya. Kalau kita berdoa kita mendapat kekuatan baru dalam menghadapi badai, karena itu ambillah waktu untuk berdoa. Paulus menulis: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Ketika rasa sesak tiba dan godaan kenikmatan dunia datang, maka yang utama dilakukan adalah berdoa, sebab doalah menghubungkan kita dengan TuhanYesus. Dengan doa kita bisa mengendalikan diri kita, mengendalikan pikiran kita, mengendalikan tindakan kita agar tidak diseret, tidak terpikat dalam hawa nafsu yang rendah.

Dua. Bertahan dalam keadaan, jangan berbalik, apalagi berhianat pada Tuhan. Saat ombak kehidupan menerjang, kita dapat tergoda dan bahkan berhenti berusaha, juga berhenti beriman. Saat seolah tidak ada harapan, tidak punya apa-apa, biasanya iman ikut terbang melayang entah kemana. Ini yang harus kita perjuangkan agar semagat kita tetap ada. Seorang pahlawan takkan mendapat kemenangan jika berhenti berjuang dan menyerah, inilah yang harus kita teladani. Kita perlu terus berjuang dan berpegang pada iman, jangan biarkan tantangan membuat iman kita terhenti! Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Berhenti berdoa akan membuat kita ditelan ombak dan badai itu sendiri. Berlari membuat kita bisa menyelamatkan diri dari tsunami kehidupan.

Tiga. Tetap menjaga hati agar semakin kuat dan dewasa. Biasanya terjadi saat badai menerjang seseorang bisa semakin kuat dan bisa makin jahat kalau tidak mampu menjaga hati. Situasi dan kondisi ini buat kita menjadi tidak bersyukur, mengeluh, mengutuki Tuhan, ragu pada kuasa-Nya. Di saat itulah kita menjadi rentan godaan Iblis. Karena itu jika hidup sangat sulit, perlu menjaga hati dengan lebih intens. Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Semua hal memang bermula dari hati kita, pikiran, perkataan dan perbuatan berasal dari hati. Itulah alasan bagi kita untuk terus menjaga hati, utamanya saat-saat sulit. Renungkanlah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Pdt. Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli, 3 Maret 2024).

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...