curahan hati perempuan
SERI 3, MERTUAKU BUKAN IBUKU
Curahan
hati perempuan tidak pernah habis untuk dicurahkan kepada kita semua walau
sesungguhnya ini hanyalah topic besar diskusi pada rubric Perempuan Bicara
MATAHATI.TV. Keharmonisan keluarga ditandai dengan hubungan yang akrab antar
anggota keluarga besar. Perempuan memegang peranan penting dalam menata keluarga,
baik selaku ibu dan juga perempuan lainnya dalam keluarga yang kita sebut mantu
yang juga menjadi seorang anak bagi seorang yang disebut mertua. Tetapi dalam
kehidupan sehari-hari kita menemukan pernyataan seorang mantu yang menyatakan
bahwa mertua bukan ibuku dan itu mengundang kontroversi di masyarakat, tetapi
pertanyaanya apakah itu salah? Selintas
kita melihatnya salah, tetapi apakah sesungguhnya itu salah? Diskusi Curahan
Hati Perempuan (seri 3) ini memberikan topik bahasan: Mertuaku itu, bukan ibuku. Mari kita simak beberapa bagian catatan yang
dihimpun redaksi MATAHATI.TV.
Sebagai
pembicara utama dalam diskusi ini Marini Siahaan, SE., MTh memberikan gambaran Role model di Alkitab
tentang mertua & menantu yaitu Naomi dan Ruth. NAOMI sebagai seorang ibu dan mertua menjalani
training iman dan kepribadian yaitu dengan bersikap manis terhadap kedua
menantunya, menganggap kedua menantunya sama seperti anaknya sendiri, berhasil
menyaksikan imannya kepada menantunya, tidak memaksakan kehendak kepada
menantunya dan memikirkan kebaikan menantunya. Sementara sebagai menantu Ruth menganggap
mertua sebagai orang tuanya sendiri, tidak
bersifat materialistis, seorang menantu yang rajin dan berinisiatif untuk
bekerja dan mau mendengar nasihat
mertuanya.
Lebih
lanjut Marini mengatakan bahwa konflik antara mertua dan menantu dari sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan
menantu perempuan berada di dalam ketegangan. Ini berbeda dengan
hubungan mertua laki-laki dengan menantu laki-laki seperti Musa dan Yitro.
Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya karena ibu
mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya, ibu mertua
merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya dan ibu mertua merasa
tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup dengan orang lain. Sementara itu merasa bahwa ibu mertuanya terlalu ikut
campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengkritik pekerjaannya, tidak pantas
untuk anaknya, dan sebagainya.
Baik Marini Siahaan maupun Christine Kalvin yang keduanya adalah wanita professional memberikan tips yang sama dalam membina hubungan antara mertua dan menantu yang perempuan yaitu saling mengasihi. Kedua pembicara percaya bahwa kalau mertua mengasihi menantunya dan menganggapnya sebagai anak dan sebaliknya menantu mengasihi mertuanya dan menganggapnya sebagai ibu maka hubungan keduanya pasti akan baik dan tentu saja mengakibatkjab dalam keluarga terjalin hubungan yang akrab dan keluarga jadi bahagia. Lengkapnya diskusi ini dapat saksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/sd_KHfunqXs selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar