Drs. Mawardin Zega, M.Th (Redaksi MATAHATI.TV)
Jadwal Siaran MATAHATI.TV (live)
SERI 4, DUA
LELAKI DI BUKIT GOLGOTA, SEBUAH PEMBELAJARAN
Dua lelaki itu juga disalib bersama
Yesus fdi bukit tengkorak yang disebut Golgota. Dalam kesakitan dan harapan
yang punah tak ada jalan lagi bagi mereka untuk selamat, mereka memang patut
dihukum, keduanya adalah penjahat kambuhan dan pembenrontak. Keduanya pasrah
pada kematian yang lagi menyongsong tinggal menunggu waktu tak lama lagi,
tulang-tulang mereka akan dipatahkan dan tubuh mereka akan dipunahkan dan
mereka juga harus mati di hari ini.
Dalam keputusasaan itu dua lelaki itu
masih berfikir tentang orang yang tergantung diantara mereka, sejak pagi mereka
menyaksikan iring-iringan orang banyak yang dating menonton hukuman mati itu.
Betapa tidak, lelaki itu sungguh beda dari mereka berdua, raut kejahatan tak
ada dimukanya dan sepertinya lelaki yang satu ini tenang sekali menuju
kematian. Bahkan dalam siksaan yang ia alami lelaki yang beda ini masih saja
sempoat memohon pengampunan untuk para musuhnya dan berkata “ampunilah mereka
Bapa karena tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Salah satu diantara lelaki itu
menaruh hati, entah karena apa membuat ia mengagumi dan percaya bahwa laki-laki
yang menderita itu orang tak bersalah dan lelaki penjahat yang ada disebelah
kanan Yesus menaruh harapan selamat dari kematian Yesus dan iapun berkata: Yesus
ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja. Apa yang terjadi
kemudian? Silahkan simak MATAHATI.TV https://youtu.be/1xXoCcqSK4U selamat menyaksi-kan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV
dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)
SERI 3, CINTA
BETSYEBA, MASIHKAH MURNI?
Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak
selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada
seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat
diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan
dua kata saja "aku mengandung".
Apa yang terjadi kemudian, seorang raja
yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan yang
luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan
yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa
lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu
dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang
ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah
dianggap murni?
Sebagai narasumber pada seri diskusi ini dari dua latar pendidikan yang berbeda. Pertama adalah Fransina Ndolu, STh., M.PdK yang adalah seorang dosen serta aktifis pelayanan penginjilan dan patnernya adalah Drs. Idaman Zega, SE., MM., MTh yang adalah professional bisnis yang aktif dalam melayani serta penanggap adalah Pdt. Djanne Tando, STh., MTh yang saat ini sebagai gembala di GPDI Jakarta Pusat. Bertindak sebagai host dan moderator adalah Pdt. Joice Ester Raranta, MTh dari tim redaksi MATAHATI.TV.
Materi yang disampaikan menyoroti
tentang sikap dari kedua tokoh Alkitab baik Daud maupun Batsyeba yang
dua-duanya punya andil dalam perbuatan kejahatan baik dosa perselingkuhan
maupun dosa pembunuhan. Pendapat kedua narasumber dapat disaksikan di
MATAHATI.TV https://youtu.be/DSSe_-92U3o selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV
dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)
SERI 2, KISAH LEA DAN RAKHEL, PERSAINGAN DALAM KELUARGA?
Alkitab itu buku suci yang
mengkisahkan tiap kisah orang secara jujur apa adanya. Terntu saja semua tahu
bahwa Tuhan memiliki setiap rencana bagi tokoh-tokoh yang disebutkan dalam
kitab Alkitab. Demikian juga tentang cinta bahwa sesungguhnya cinta itu tidak
bisa dipaksakan. Hal ini dialami juga oleh tokoh besar Alkitab yaitu Yakub dan
Lea. Sekalipun mereka sudah membentuk keluarga sesuai dengan hokum pada waktu
itu, tetapi cinta keduanya tidaklah utuh. Yakub lebih mencintai Rakhel istinya
yaitu adek Lea, sementara Lea harus meminta jatah pada adeknya untuk bisa
bersama suaminya sendiri. Poligami sekalipun diperkenankan kala itu tetap saja
tak pernah bisa berlaku adil dan tak pernah ada yang bisa berlaku adil pada istrinya.
Lea dan Rakhel adakah persaingan dalam merebut cinta yang tak utuh?
Tentang cinta yang dialami dalam
keluarga besar Yakub, Lea dan Rakhel juga terjadi dalam keluarga Kristen sekarang
ini. Derita Lea juga banyak dialami oleh para istri-istri masa kini yang kecewa
dengan suaminya. Sekalipun poligami dilarang, tetapi ada saja yang melakukannya
dengan diam-diam dan hal itu tentu akan melukai hati pasangannya.
Diskusi seri dua Bincang Malam MATAHATI.TV menghadirkan dua narasumber yang kedua-duanya adalah Candidat doktor Teologi dari salah satu sekolah tinggi teologia di Jakarta. Pembicara pertama adalah Pendeta Iin Nur Indrayani, SE., MM., MTh seorang pendeta dan melayani bersama sumi di salah satu gereja di Jakarta. Sementara pembicara kedua adalah Pendeta Samuel Dalle, MTh yang juga seorang dosen di salah satu STT di Jakarta. Sementara host dan moderator adalah Pendeta Joice Ester Raranta, MTh.
Dalam diskusi Bincang Malam
MATAHATI.TV yang disiarkan secara langsung oleh tim redaksi melalui kanal
MATAHATI.TV selama 60 menit mengundang banyak perhatian dan komentar yang
disampaikan kepada redaksi. Diskusi ini mengungkap sisi lain dari tokoh Alkitab
dan kejadiannya dapat disejajarkan dengan kejadian di masyarakat dewasa ini. Acara
lengkap dari diskusi ini dapat disaksikan melalui MATAHATI.TV https://youtu.be/Nyk4mH5d-So selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV
dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)
bincang malam teologi
Adapun pembicara atau narasumber pada diskusi ini adalah Pdt. Abraham Irwan Santoso MA., M.Th adalah Gembala Eglo Church Moi Jakarta berdomisili di Jakarta dan Pdt. Dr. Jaury R Merukh, M.Pd.K saat ini adalah Ketua STT Paulus Jakarta dan berdomisili di Jakarta serta dipandu oleh host dan moderator Pdt. Joice Ester Raranta, MTh.
Diskusi yang ditayangkan secara langsung (live) melalui kanal MATAHATI.TV berlangsung dalam 60 menit, masing-masing pembicara diberikan kesempatan memaparkan pemikirannya dan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman dan Tanya jawab dari beberapa orang yang diundang secara khusus sebagai tamu.
Sebagai pengantar dalam publikasi topic disebutkan bahwa pencurahan Roh Kudus merupakan momentum untuk berbenah yaitu bagaimana umat Kristen menjadi pionir dalam menge-depankan peran umat untuk mengambil bagian membangun gereja dan jemaat agar bisa saling menyatu dalam memberikan kesaksian sebagai warga gereja untuk menjaga Negara kesatuan republic Indonesia.
Dalam paparan awalnya Pendeta Abraham Irwan Santoso MA., M.Th yang adalah Gembala Eglo Church Moi Jakarta menyatakan bahwa orang sering dianggap sebagai teologi yang berkaitan dengan dunia roh sehingga dianggap sulit untuk dipahami dan diterima oleh akal manusia karena ukuran manusia adalah yang Nampak dan terlihat oleh mata. Lebih lanjut menyatakan bahwa pentakosta itu adalah penyempurnaan karya Yesus bagi umat manusia dan sudah doirencanakan oleh Allah sendiri.
Sementara itu J Pdt. Dr. Jaury R Merukh, M.Pd.K saat ini adalah Ketua STT Paulus Jakarta dalam paparan awalnya menyebutkan bahwa pentakosta mengingatkan kita tentang pribadi Tuhan pada orang-orang percaya. Di Negara kita ini Indonesia kepada kita dituntut untuk memiliki api Roh Kudus dan jangan sampai mati dengan demikian menjadi berkat bagio orang-orang disekitar kita.
Diskusi ini terbagi dalam tiga sesi yang semuanya berlangsung 60 menit sebagaimana di jadwalkan tim redaksi. Secara lengkap jalannya diskusi dapat disaksikan dalam tayangan MATAHATI.TV sesuai dengan topic melalui MATAHATI.TV https://youtu.be/tjtniY4HOQo. selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin
|
Drs. Mawardin Zega, MTh (Mediator), Pendiri Group MATAHATI
Perjalanan keberadaan MATAHATI.TV sesungguhnya
sudah digagas di tahun 2018 sebelum pandemi covid 19 menggejala. Pemikiran penerbitannya
dimulai dari obrolan santai tentang fungsi media dalam menyuarakan suara umat
untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan umat Kristen kala itu. Memang
sebelumnya telah berupaya menginisiasi penerbitan media baik cetak maupun audio
visual, tetapi karena keterbatasan sumber daya yang ada pengelolaannya mengalami
kendala dan pada akhirnya tidak berkembang dengan baik.
Selaku aktifis organiasi dan karena
kebutuhan perlu adanya media sosial untuk mempublikasi kegiatan, menyalurkan, memperjuangkan
aspirasi kepentingan umat, dirancang dua model publikasi yang memungkinkan
diwujudkan yaitu dalam bentuk cetak dan audio vidio. Gagasan terus diupayakan dan
diwujudkan di tahun 2020 ada model cetak bernama Buletin MATAHATI dan terbit dari Oktober 2020 sampai dengan Juni 2021 dan audio
visual di akhir tahun 2020 bernama Channel Youtubi MATAHATI.TV yang berkembang dimasa pandemi dan mengudara dalam
siaran uji coba dari bulan April sampai Juli 2021.
Kehadiran MATAHATI.TV sekalipun sudah
dimanfaatkan sebelumnya tidaklah disambut baik di rumahnya sendiri tempat dilahirkan
pertama kali. Entah apa sebabnya tidak ada yang tahu pasti dan dari pada MATAHATI.TV
mati sebelum waktunya, penggagas yang juga pendiri berusaha menyelamatkannya
walau dengan susah payah dan penuh perjuangan. Komitmen yang kuat, ketulusan dalam
bebuat menjadikan MATAHATI.TV dapat bernafas lega dan mengudara dengan baik
sampai saat ini karena dukungan beberapa sahabat yang setia.
Perkembangan MATAHATI.TV makin hari makin
baik, ibarat orang yang berobat ke dokter semakin lama makin sembuh dan pulih
dari penyakitnya. Ia disuntik dengan komitmen dan diobati dengan ketulusan
sehingga perkembangannya demikian cepat memikat hati dan melahirkan gagasan-gagasan
baru yaitu menghadirkan dalam media cetak menduplikasi kehidupan awalnya ketika
ia digagas hadir di dunia media sosial.
Semoga saja kehadiran MATAHATI.TV dan
MATAHATI.NEWS dapat memberi arti dalam gerak umat memperjuangkan aspirasi dan
kepentingannya sekalipun ia ada di rumah yang berbeda.
|
2 |
Tim Redaksi
|
|
Oleh: Fransina Ndolu, S.Th., M.Pd.K*
Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan dua kata saja "aku mengandung". Apa yang terjadi kemudian, seorang raja yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah dianggap murni?
PENDAHULUAN
Penulis Alkitab memaparkan bahwa tiap
tokoh atau orang dalam Alkitab, memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, mereka bukanlah orang
suci atau sempurna, namun memiliki
kejelekan atau sisi gelapnya agar kita belajar dari mereka. Dalam konteks diskusi ini, kita
belajar dari kisah Betsyeba dan Daud bagaimana mereka menempatkan cinta? Apakah
sudah pada tempatnya? Namun sebelumnya mari kita mengenali siapakah Betsyeba
dan Daud.
Betsyeba dalam bahasa Ibrani berarti perempuan kelimpahan atau putri yang diikat janji. Betsyeba adalah cucu Ahitofel, salah satu penasehat utama Daud, 2 Samuel 15:12, anaknya bernama Eliam yang menjadi orang kepercayaan Daud, 2 Samuel 23:34. Eliam inilah ayah Betsyeba, ia merupakan salah satu dari 30 pahlawan dari raja Daud,. Betsyeba menikah dengan Uria orang Het, 2 samuel 11:3. Uria mengabdi pada raja Daud sebagai perwira kerajaan. Betsyeba adalah wanita yang elok parasnya, ia sangat cantik.
|
|
DAUD JATUH CINTA PADA PANDANGAM PERTAMA.
Daud tidak dapat menahan dirinya saat melihat wanita cantik yang sedang mandi, yaitu Betsyeba, 2 samuel 11: 2. Daud jatuh dalam dosa perselingkuhan dengan Betsyeba, yang adalah istri Uria orang Het, bawahannya yang sangat setia kepadanya. Berawal dari pandangan pertama timbul keinginan untuk tidur dengan wanita cantik itu, walau ia tahu telah bersuami. Keinginan itu disemai dari mata turun ke hati, dikelola disana. Dosa ingin itu disirami, oh indah ya, cantik ya, menarik hati dan tidak pada tempatnya yang kemudian lahirlah dalam tindakan nyata. Bukankah dosa awal dalam kejadian 3:6 Adam dan Hawa jatuh, tidak saja jatuh karena makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu? Namun karena ingin. Dosa awal atau dosa asal karena keinginan. Mereka ingin makan buah itu karena menarik hati, kemudian mendorong mereka untuk ingin makan. Keinginannya disemai, maka lahirlah tindakan.
PENEMPATAN EKSPRESI CINTA YANG SALAH.
Sayangnya Daud dan Betsyeba menempatkan cinta tidak pada porsinya., dimana nafsu Daud ini telah membutakan mata hati mereka dan akalnya bahwa Betsyeba ini adalah istri Uria, salah satu perwiranya yang sangat loyal dan setia kepadanya. Daud dan Betsyeba tidak peduli kalau Uria sedang berjuang dan bertarung nyawa di medan perang.
Penempatan cinta yang salah ini telah menyeret mereka jatuh dalam dosa perselingkuhan dan perzinahan, 2 Samuel 11:4. Akibatnya Betsyeba mengandung, lalu dikirimlah berita itu kepada Daud "aku mengandung" . Dua kata ‘aku mengandung’ itu telah menjungkirbalikan akal sehat Daud, dosa pertama berusaha ditutupi, maka melahirkan dosa berikutnya lagi, jika tidak bertobat.
Upaya menutupi aib, kepanikan terhadap
kata aku mengandung Daud segera memerintahkan Uria (suami Betsyeba) ditarik
dari medan pertempuran, sang raja memerintahkan orang Het itu, untuk istirahat di rumah, maka Daud bisa
terhindar dari tuduhan bahwa ia telah menghamili betsyeba. Namun Daud gagal menu-tupi jejak
permainannya yang kotor. Uria tidak mau sekalipun diulang beberapa kali, Uria
adalah seorang pahlawan Dn setia kepada raja, 2 Samuel 11 :11. Dosa telah
menutupi mata hati nurani Daud. Dosa awal diikuti dosa selanjutnya. Setelah
gagal dengan trik liciknya, Daud sengaja mengirim Uria ke garis paling depan,
pertempuran yang paling ganas. Sang raja ingin membunuh perwiranya sendiri, secara
sistematis.
Daud sebagai raja memberi surat perintah kepada Yoab panglima perangnya untuk menempatkan Uria di barisan paling depan dan membiarkan orang Het itu tanpa perlindungan, 2 Samuel 11:15. Hasilnya menjadi apa yang diharapankan Daud yaitu Uria gugur di medan perang, 2 Samuel 11:24.
SOLUSINYA PERTOBATAN MENJADI LANGKAH SELANJUTNYA.
Setelah kematian anak pertama mereka,
berdua menyesali dosa-dosa mereka dihadapan Allah. Tuhan menganugerahkan seorang anak lelaki di
masa selanjutnya yaitu Salomo yang artinya damai sejahtera. Salomo merupakan
simbol kasih Tuhan terhadap Daud dan Betsyeba, bahkan Nabi Natan memanggil Salomo
dengan sebutan Yedijah artinya kekasih Tuhan, 2 Samuel 12:25-25. Implikasinya
bagi kita saat ini bahwa dalam Alkitab para penulis Alkitab memaparkan secara jelas
dan transparan dimana para tokoh- tokoh Alkitab atau orang-orang dalam Alkitab
tidak ada yg sempurna atau suci, mereka memiliki sisi gelap dan disitu kita
belajar dan bertobat jika jatuh di area perselingkuhan dan perzinahan agar
mengalami pemulihan dari Tuhan. Bagi
orang percaya kita belajar mawas diri, menjaga hidup dan keluarga kita dari
bahaya perselingkuhan dan perzinahan. Tidak ada yang kebal dengan dosa,
khususnya dosa perselingkuhan dan perzinahan dizaman ini.
*Penulis adalah Dosen STT Paulus
Jakarta.
Editor: Ega Mawardin - Redaksi MATAHATI.TV
bincang malam kebangsaan
MELAWAN PERSEKUSI DAN INTOLERANSI, APA KATA MEREKA?
Masyarakat Indonesia belakangan ini sangat terganggu dengan
sikap sebagian orang yang suka tindakan mempersekusi dan berfaham intoleransi
dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dalam kamus bahasa Indonesia, arti persekusi adalah pemburuan
sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga, dan kemudian disakiti,
dipersusah, atau ditumpas. Tindak-an persekusi yang dilakukan bisa berupa penyiksaan atau
penganiayaan tanpa memandang kemanusiaan lagi. Sedangkan intoleransi adalah paham atau
pandangan yang mengabaikan seluruh nilai-nilai dalam toleransi atau dapat
diartikan sikap intoleransi merupakan
sikap tidak tenggang rasa atau tidak toleran terhadap orang lain dalam ber-masyarakat
dan berbangsa.
MATAHATI.TV dalam rubric bincang malam kebangsaan yang
disiarkan secara langsung menggelar diskusi kebangsaan produksi ke-120 dengan topik:
Melawan persekusi dan intoleransi, apa kata mereka? Diskusi ini menghadirkan
nara sumber dua orang muda yang masing-masing memimpin orga-nisasi pemuda
yaitu: Johan Nainggolan, S.Hut saat ini Ketua Umum DPP Aaliansi Kebangsaan
Gotongroyong Indonesia atau AKGI dan Imanuel E. Lubis, S.Th yang saat ini Ketua
Umum DPP Gerakan Penerus Bangsa atau GPB dan bertindak sebagai Host adalah Pdt.
Pitonggam Tobing, Ph.D dari tim MATAHATI.TV.
Kedua pembicara sepakat untuk melawan sikap persekusi dan
intoleransi, menurut John Nainggolan bahwa kata penutupnya bahwa melawan
kekerasan dengan kekerasan akan menimbulkan kekerasan yang lebih besar.
Lawanlah Kekerasan dengan Kasih, Kelembahlembutan, Kebaikan, kerendahan hati
dan Kesabaran. Dengan terus menjaga diri dan keluarga untuk tetap menanamkan
nilai-nilai dan budaya Indonesia yang luhur yang bersumber dari Pancasila dan
UUD 1945. Be part of the solution, not part of the problem. Sementara itu kata
penutup dari narasumber Imanuel E. Lubis menyebutkan bahwa persekusi tidak akan
berakhir jika kita tidak bersuara dan bergerak.
Kegiatan diskusi kebangsaan ini dipandu oleh Dr. Pitonggam
Tobing, MTh seorang pendeta yang memiliki ketertarikan pada masalah-masalah
kebangsaan. Pitonggam Tobing adalah bagian dari tim redaksi MATAHATI.TV.
Seluruh rangkaian diskusi dapat disaksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/Ub1tBBgGkYc selamat menyaksi-kan dan jangan
lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan
Editor : Ega Mawardin)
renungan
Pengadilan Sesat Pontius Pilatus
“Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut,
supaya Ia disalibkan, dan akhir-nya mereka menang dengan teriak mereka”. Injil
Lukas: 23:23
Belajar
terminologi hukum “keadilan harus tetap dijalankan sekalipun langit runtuh.”
Namun dalam Kenya-taan hidup sekarang ini slogan tetap slogan tak ada artinya
sebab banyak orang terjebak dalam perangkap dan tak mampu melakukan dan menja-lankan
keadilan sekalipun tahu tentang keadilan itu sendiri dan kebe-narannya. Apa
yang disaksikan di pengadilan sering memutus perkara-perkara yang terlihat dan
dirasakan begitu tidak adil dalam pandangan masyarakat yang menuntut keadilan.
Hal
ini tentu bukan hal baru, ketidak-adilan dalam pengadilan sudah di praktekan
jauh sebelumnya. Penga-dilan sesat pernah dipraktekan oleh Pontius Pilatus wali
negeri Romawi di tanah Samaria dan Yudea (Israel kini) sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 23.
Saat keadilan harus ditegak-kan dan kebenaran jelas terpampang dihadapannya,
Pontius Pilatus justru berlaku tidak adil, barusaha melawan hati nuraninya
sendiri.
Pontius
Pilatus orang yang fenomenal pada masanya dengan keputusannya yang keliru dalam
pengadilan sesat (menghukum mati orang tak ber-salah), tanpa hati nurani
menyalibkan Yesus, sekalipun telah memeriksanya dengan seksama dan nyakin tidak
menemukan kesalahan apapun pada-nya sebagaimana kesaksian Lukas 23:4 “Kata
Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak
mendapati kesalahan apa pun pada orang ini." Ayat 14: “Kamu lihat sendiri
bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tu-duhkan
kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.”
Pilatus
nyakin berdasarkan pemerik-saannya sebagai hakim pengadilan Romawi bahkan
dikuatkan oleh pemeriksaan Herodes sebagai raja, tidak menemukan kesalahan
apapun sebagaimana dituduhkan pada Yesus, tetapi Pilatus tetap pada putusan
pengadilan sesatnya yang disengaja olehnya, menyesah, menyiksa dan menghukum
mati orang yang tidak bersalah bernama Yesus.
Pengkhotbah
3:16 menulis "di tempat pengadilan, di situ pun terdapat keti-dakadilan,
dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidak adilan". Ruang
pengadilan apapun menjadi hampa makna dan kehilangan kebenaran, sebab para
hakim yang memutus perkara dihatinya sudah didahului dengan ketidak-adilan.
Penyebab hal ini terjadi karena adanya rasa takut terhadap manusia dan bukan
lagi kepada Tuhan, sehingga tidak berani menyatakan keadilan sekalipun
perpampang jelas dihadapannya.
Pada
dasarnya Pontius Pilatus selaku hakim tidak mendapati kesalahan pada Yesus, dan
ingin melepaskan Yesus (ayat 20). Dua kali memeriksa perkara Yesus (ayat 3 dan
14) dan tiga kali berunding dengan para imam Yahudi dan menyatakan bahwa Yesus
tidak bersalah (ayat 13-23). Akan tetapi para imam dan rakyat terus mendesak
Pilatus menuntut kematian Yesus; dan karena suara mereka besar dan teriakan
mereka keras, mereka menang karena teriakan mereka itu (ayat 23) dan akhirnya
Pilatus meng-hukum mati Yesus (ayat 24).
Mengapa
Pontius Pilatus berani me-lawan hati nuraninya sendiri? Ternya-ta dorongan
mempertahankan posisi sebagai seorang kepala, sebagai penguasa, jauh lebih kuat
ketimbang mengikuti kata hatinya sebagai se-orang hakim. Ia lebih memilih menu-ruti
tuntutan rakyat agar tidak terjadi keributan, agar tidak ada kesulitan baginya,
agar ia tetap disukai para imam Yahudi, ketimbang melakukan apa yang benar yang
ia tahu dan nyakini sekalipun.
Sebagai
seorang pejabat politik, Pontius Pilatus sungguh mengetahui pentingnya
berkompromi dalam menghadapi masalah dan ia mena-warkan pilihan pembebasan
Barabas atau Yesus, bernegosiasi dengan baik dan menawarkan penyiksaan Yesus
sebagai ganti hukuman mati, kalau perlu mengambil jalan tengah dan cuci tangan
tidak terlibat dengan mengirimkan Yesus kepada Raja He-rodes, semua itu
dilakukan Pontius Pilatus semata-mata agar ia selamat dalam perkara ini dan
lepas tangan seakan-akan ia tidak terlibat dalam penetapan hukuman mati kepada
Yesus. Pilatus melihat Yesus tidak lebih sebagai ancaman politik saja,
ketimbang sebagai seorang pribadi yang benar dan berintegritas walau-pun ia
tahu bahwa Yesus itu adalah orang benar.
Ketika
taruhannya sangat besar me-mang tidak mudah bagi seseorang tetap berdiri di
atas kebenaran dan menjalankan keadilan. Apalagi kalau yang dicapai saat ini
bukanlah hasil kerja sendiri, tetapi hasil dari sese-orang yang sebelumnya
pernah ada sehingga ragu pada keputusan sen-diri, ragu pada hukum dan pada
akhirnya ragu pada kemampuan diri sendiri.
Seperti
Pontius Pilatus dalam ber-tindak: dengan cepat menggerahkan segala daya
membungkam kebenaran dan melihat orang lain sebagai lawan-lawan yang
mendatangkan masalah dan harus segera diselesaikan, ke-timbang seorang manusia
yang harus dihargai. Maka Pontius Pilatus meng-gerakkan dan melakukan apapun
untuk menjaga kekuasaan itu tetap ada sekalipun harus memobilisasi para pasukan
dan dayang-dayang menutupi keadaan yang terjadi mengikuti kehendak orang banyak
karena suara mereka.
Kita
pun berpeluang menjadi seperti Pontius Pilatus, ketika mengetahui apa yang
benar yang terjadi, tetapi memutuskan untuk tidak melakukan-nya hanya demi kepentingan
diri sendiri dan juga kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita yang
selalu membisikkan pikiran negatif yang mengintimidasi dan akhirnya suara
merekalah yang menang, ka-rena lebih keras dan diulang berkali-kali dan
akhirnya Pontius Pilatuspun menyerah pada keinginan orang banyak.
Melalui
perenungan ini sebuah pem-belajaran: kita belajar untuk tetap berdiri di atas
kebenaran, apapun risikonya harus menjalaninya sebab itulah yang dikehendaki
Tuhan pada kita. Tuhan Yesus memberkati.
Penulis: Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th Pimred MATAHATI.TV & MATAHATI.NEWS
curahan hati perempuan
SERI 3, MERTUAKU BUKAN IBUKU
Curahan
hati perempuan tidak pernah habis untuk dicurahkan kepada kita semua walau
sesungguhnya ini hanyalah topic besar diskusi pada rubric Perempuan Bicara
MATAHATI.TV. Keharmonisan keluarga ditandai dengan hubungan yang akrab antar
anggota keluarga besar. Perempuan memegang peranan penting dalam menata keluarga,
baik selaku ibu dan juga perempuan lainnya dalam keluarga yang kita sebut mantu
yang juga menjadi seorang anak bagi seorang yang disebut mertua. Tetapi dalam
kehidupan sehari-hari kita menemukan pernyataan seorang mantu yang menyatakan
bahwa mertua bukan ibuku dan itu mengundang kontroversi di masyarakat, tetapi
pertanyaanya apakah itu salah? Selintas
kita melihatnya salah, tetapi apakah sesungguhnya itu salah? Diskusi Curahan
Hati Perempuan (seri 3) ini memberikan topik bahasan: Mertuaku itu, bukan ibuku. Mari kita simak beberapa bagian catatan yang
dihimpun redaksi MATAHATI.TV.
Sebagai
pembicara utama dalam diskusi ini Marini Siahaan, SE., MTh memberikan gambaran Role model di Alkitab
tentang mertua & menantu yaitu Naomi dan Ruth. NAOMI sebagai seorang ibu dan mertua menjalani
training iman dan kepribadian yaitu dengan bersikap manis terhadap kedua
menantunya, menganggap kedua menantunya sama seperti anaknya sendiri, berhasil
menyaksikan imannya kepada menantunya, tidak memaksakan kehendak kepada
menantunya dan memikirkan kebaikan menantunya. Sementara sebagai menantu Ruth menganggap
mertua sebagai orang tuanya sendiri, tidak
bersifat materialistis, seorang menantu yang rajin dan berinisiatif untuk
bekerja dan mau mendengar nasihat
mertuanya.
Lebih
lanjut Marini mengatakan bahwa konflik antara mertua dan menantu dari sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan
menantu perempuan berada di dalam ketegangan. Ini berbeda dengan
hubungan mertua laki-laki dengan menantu laki-laki seperti Musa dan Yitro.
Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya karena ibu
mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya, ibu mertua
merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya dan ibu mertua merasa
tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup dengan orang lain. Sementara itu merasa bahwa ibu mertuanya terlalu ikut
campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengkritik pekerjaannya, tidak pantas
untuk anaknya, dan sebagainya.
Baik Marini Siahaan maupun Christine Kalvin yang keduanya adalah wanita professional memberikan tips yang sama dalam membina hubungan antara mertua dan menantu yang perempuan yaitu saling mengasihi. Kedua pembicara percaya bahwa kalau mertua mengasihi menantunya dan menganggapnya sebagai anak dan sebaliknya menantu mengasihi mertuanya dan menganggapnya sebagai ibu maka hubungan keduanya pasti akan baik dan tentu saja mengakibatkjab dalam keluarga terjalin hubungan yang akrab dan keluarga jadi bahagia. Lengkapnya diskusi ini dapat saksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/sd_KHfunqXs selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)
curahan hati perempuan
SERI 2, MASIH ADA JALAN?
Curahan hati perempuan seri 2 dengan topik: Masih adakah
jalan? Kedua narasumber memberikan jawaban yang pasti bahwa pasti ada jalan
asal saja mau bertindak dan tidak diam saja menerima keadaan.
Dalam pengantar publikasi oleh redaksi menjelaskan curahan hati perempuan begitu menyentuh di dada menyesakkan memang. Harapan terhadap keutuhan dan kasih dalam keluarga begitu besar pada mulanya. Ketika prahara itu datang semua harapan itu seperti terkoyak begitu saja dan tahu apa yang terjadi kemudian bagaikan menyatukan kembali cermin retak yang hancur berke-ping-keping, begitulah perasaan hati perempuan. Tetapi tunggu dulu, masih ada jalan untuk merakit kembali cermin retak itu, mungkinkah?
Mungkinkah? Sebuah kalimat Tanya yang sesungguhnya tidak
membutuhkan jawaban. Kedua pembicara malah menjawabnya dengan begitu pasti
sekalipun pada dasarnya punya satu jawaban pasti masih ada jalan. Tetapi
berbeda dalam mengurai jawaban itu.
Marini Siahaan dengan gayanya yang khas melakukan
pendekatan penyelesaian dengan mengingatkan kembali apa yang sudah dibicarakan
pada seri 1, ibu runmah tangga yang aktif dalam bidang konseling ini mengatakan bahwa sebagai orang beriman ada Firman Tuhan: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup: tidak ada
manusia yang datang kepada Bapa, tanpa melalui Aku (Yohanes 14:6). Karena hanya dengan
cara inilah dapat mengikuti jejak langkah Tuhan dengan saksama dan menerima
janji dan berkat Tuhan sehingga dapat kita bertahan dan menjaga keluarga kita
dengan baik.
Lebih lanjut mengatakan: Segala perkara dapat kutan-gung di dalam Dia
yang memberi kekuatan kepadaku. (Filipi 4:13). Dalam
hal ini Rasul Paulus menulis kata-kata ini supaya umat Allah
yakin mereka mendapat kekuatan untuk bisa melakukan apa yang Allah inginkan.
TIPS Praktis.
Lebih lanjut aktifis dan penceramah bidang perempuan ini
memberikan tips praktis juga berdasar Firman Tuhan: "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah
mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (Yakobus 2:26). Dalam penjelasannya menekankan
perbaiki dan jaga persekutuan pribadi
dengan Tuhan., Jalin komunikasi
yang baik dengan pasangan., belajar
dan berubah menjadi lebih baik., Jika permasalahan/konflik tidak dapat
teratasi secara internal, segera mencari
bantuan dari pihak ketiga (konseling ke gembala, diskusi dengan orang
yang tingkat rohani lebih dewasa, mohon dukungan doa dari saudara seiman., Pilih orang yang tepat untuk dijadikan
tempat curhat., Pilih pergaulan yang
baik, teman yang baik, komunitas yang baik dalam hidup keseharian kita (I Korintus 15:33
berkata: "Janganlah kamu sesat: pergaulan yang buruk merusak kebiasaan
yang baik”).
Pembicara
kedua Christine Kalvin memberikan jalan keluar dalam pendekatan kehidupan nyata
perempuan. Ibu yang suka melayani kaum papa ini menyebutnya penjelasannya
sebagai solusi praktis curahan hati perempuan yaitu dengan pertama sikap sabar
yang terus menerus terhadap pasangannya., kedua harus ada sikap rendah hati dan
suka mengalah., Ketia ia menyebutkan harus bisa tunjukan sikap dan
tindakan bukan dengan amarah dan ingat
tampil cantik, istilah lain hilangkan daster jika suami sudah ada di rumah.
Dalam
dialog dengan audens tentang hilangkan daster, penanya mengatakan perempuan itu
di rumah selalu pakai daster sebab praktis dan gampang. Christine Kalivin
mengingatkan seharusnya istri jika di rumah juga harus tampil cantik dihadapan
suaminya agar suami senang dan betah di rumah, jangan pakai daster kumal terus
itu nanti takmembuat suami betah, coba kalau cantik kan suami jadi betah dan
senang, demikian penjelasannya yang disertai dengan tawa lepas dari hadirin di
room. Saksikan dI MATAHATI.TV https://youtu.be/iN9riiVuHz4 (Penulis & Editor:
Ega M – sumber bahan paparan pembicara)
Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...