Kamis, 21 Juli 2022

Informasi MATAHATI.TV

 

Drs. Mawardin Zega, M.Th (Redaksi MATAHATI.TV)


Jadwal Siaran MATAHATI.TV (live)







Dua lelaki di bukit Golgota (seri 4 MATAHATI.TV)

 

SERI 4, DUA LELAKI DI BUKIT GOLGOTA, SEBUAH PEMBELAJARAN

Dua lelaki itu juga disalib bersama Yesus fdi bukit tengkorak yang disebut Golgota. Dalam kesakitan dan harapan yang punah tak ada jalan lagi bagi mereka untuk selamat, mereka memang patut dihukum, keduanya adalah penjahat kambuhan dan pembenrontak. Keduanya pasrah pada kematian yang lagi menyongsong tinggal menunggu waktu tak lama lagi, tulang-tulang mereka akan dipatahkan dan tubuh mereka akan dipunahkan dan mereka juga harus mati di hari ini.

 


Dalam keputusasaan itu dua lelaki itu masih berfikir tentang orang yang tergantung diantara mereka, sejak pagi mereka menyaksikan iring-iringan orang banyak yang dating menonton hukuman mati itu. Betapa tidak, lelaki itu sungguh beda dari mereka berdua, raut kejahatan tak ada dimukanya dan sepertinya lelaki yang satu ini tenang sekali menuju kematian. Bahkan dalam siksaan yang ia alami lelaki yang beda ini masih saja sempoat memohon pengampunan untuk para musuhnya dan berkata “ampunilah mereka Bapa karena tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Salah satu diantara lelaki itu menaruh hati, entah karena apa membuat ia mengagumi dan percaya bahwa laki-laki yang menderita itu orang tak bersalah dan lelaki penjahat yang ada disebelah kanan Yesus menaruh harapan selamat dari kematian Yesus dan iapun berkata: Yesus ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja. Apa yang terjadi kemudian? Silahkan simak MATAHATI.TV https://youtu.be/1xXoCcqSK4U selamat menyaksi-kan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Cinta Batsyeba, masih murnikah? (seri 3 MATAHATI.TV)

 

SERI 3, CINTA BETSYEBA, MASIHKAH MURNI?

Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan dua kata saja "aku mengandung".

Apa yang terjadi kemudian, seorang raja yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah dianggap murni?

 


Sebagai narasumber pada seri diskusi ini dari dua latar pendidikan yang berbeda. Pertama adalah Fransina Ndolu, STh., M.PdK yang adalah seorang dosen serta aktifis pelayanan penginjilan dan patnernya adalah Drs. Idaman Zega, SE., MM., MTh yang adalah professional bisnis yang aktif dalam melayani serta penanggap adalah Pdt. Djanne Tando, STh., MTh yang saat ini sebagai gembala di GPDI Jakarta Pusat. Bertindak sebagai host dan moderator adalah Pdt. Joice Ester Raranta, MTh dari tim redaksi MATAHATI.TV.

Materi yang disampaikan menyoroti tentang sikap dari kedua tokoh Alkitab baik Daud maupun Batsyeba yang dua-duanya punya andil dalam perbuatan kejahatan baik dosa perselingkuhan maupun dosa pembunuhan. Pendapat kedua narasumber dapat disaksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/DSSe_-92U3o selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Kisah Lea & Rakhel, persaingan keluarga? (seri 2 MATAHATI.TV)

 

SERI 2, KISAH LEA DAN RAKHEL, PERSAINGAN DALAM KELUARGA?

Alkitab itu buku suci yang mengkisahkan tiap kisah orang secara jujur apa adanya. Terntu saja semua tahu bahwa Tuhan memiliki setiap rencana bagi tokoh-tokoh yang disebutkan dalam kitab Alkitab. Demikian juga tentang cinta bahwa sesungguhnya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Hal ini dialami juga oleh tokoh besar Alkitab yaitu Yakub dan Lea. Sekalipun mereka sudah membentuk keluarga sesuai dengan hokum pada waktu itu, tetapi cinta keduanya tidaklah utuh. Yakub lebih mencintai Rakhel istinya yaitu adek Lea, sementara Lea harus meminta jatah pada adeknya untuk bisa bersama suaminya sendiri. Poligami sekalipun diperkenankan kala itu tetap saja tak pernah bisa berlaku adil dan tak pernah ada yang bisa berlaku adil pada istrinya. Lea dan Rakhel adakah persaingan dalam merebut cinta yang tak utuh?

Tentang cinta yang dialami dalam keluarga besar Yakub, Lea dan Rakhel juga terjadi dalam keluarga Kristen sekarang ini. Derita Lea juga banyak dialami oleh para istri-istri masa kini yang kecewa dengan suaminya. Sekalipun poligami dilarang, tetapi ada saja yang melakukannya dengan diam-diam dan hal itu tentu akan melukai hati pasangannya.

 


Diskusi seri dua Bincang Malam MATAHATI.TV menghadirkan dua narasumber yang kedua-duanya adalah Candidat doktor Teologi dari salah satu sekolah tinggi teologia di Jakarta. Pembicara pertama adalah Pendeta Iin Nur Indrayani, SE., MM., MTh seorang pendeta dan melayani bersama sumi di salah satu gereja di Jakarta. Sementara pembicara kedua adalah Pendeta Samuel Dalle, MTh yang juga seorang dosen di salah satu STT di Jakarta. Sementara host dan moderator adalah Pendeta Joice Ester Raranta, MTh.

Dalam diskusi Bincang Malam MATAHATI.TV yang disiarkan secara langsung oleh tim redaksi melalui kanal MATAHATI.TV selama 60 menit mengundang banyak perhatian dan komentar yang disampaikan kepada redaksi. Diskusi ini mengungkap sisi lain dari tokoh Alkitab dan kejadiannya dapat disejajarkan dengan kejadian di masyarakat dewasa ini. Acara lengkap dari diskusi ini dapat disaksikan melalui MATAHATI.TV https://youtu.be/Nyk4mH5d-So selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)


Aktualisasi Pentakosta bagi NKRI (seri 1 MATAHATI.TV)

 bincang malam teologi

aktualisasi pentakosta bagi NKRI


Dalam rubrik Bincang Malam MATATI.TV yang tayang pada pukul 20.00-21.00 Wib banyak membahas hal-hal yang berkaitan dengan teologi dan kebangsaan. Selama bulan Juni 2022 ada empat seri kegiatan diskusi teologi yang disiarkan secara khusus pada hari Rabu malam. Kegiatan ini diprakarsai oleh tim redaksi dan bertanggung jawab penuh pada penyusunan panduan acara dan penyediaan narasumber. Seri diskusi yang dilaksanakan masing-masing pada tanggal 8 Juni 2022 dengan topic: Aktualisasi Pentakosta bagi NKRI, pada tanggal 15 Juni 2022 dengan topic Kisah Lea dan Rakhel, persaingan dalam keluarga?, pada tanggal 22 Juni 2022 dengan topic: Cinta Betsyeba dengan Daud, masihkah disebut murni?, dan pada tanggal 29 Juni 2022 dengan topic: Dua lelaki di bukit Golgota, sebuah pembelajaran. Seri kegiatan Bincang Malam dipandu oleh host dan moderator Pendeta Joice Ester Raranta dan Ega Mawardin, keduanya adalah redaksi di MATAHATI.TV dan pembicara yang ahli dan kompeten pada bidangnya masing-masing.

 Di bulan Juni ada hari besar Kristen yang diperingati oleh umat sedunia yaitu memperingati hari pencurahan Roh Kudus atau dengan kata lain hari ke 50 atau lebih dikenal dengan hari raya Pentakosta. Dalam menyambut hari raya ini MATAHATI.TV menggelar diskusi teologi dalam rubric Bincang Malam denganb topik Aktualisasi Pentakosta bagi NKRI.

Adapun pembicara atau narasumber pada diskusi ini adalah Pdt.  Abraham Irwan Santoso MA., M.Th adalah Gembala Eglo Church Moi Jakarta berdomisili di Jakarta dan Pdt. Dr. Jaury R Merukh, M.Pd.K  saat ini adalah Ketua STT Paulus Jakarta dan berdomisili di Jakarta serta dipandu oleh host dan moderator Pdt. Joice Ester Raranta, MTh.


Pdt. Joice Ester Raranta, STh., MTh (Host)

Diskusi yang ditayangkan secara langsung (live) melalui kanal MATAHATI.TV berlangsung dalam 60 menit, masing-masing pembicara diberikan kesempatan memaparkan pemikirannya dan kemudian dilanjutkan dengan pendalaman dan Tanya jawab dari beberapa orang yang diundang secara khusus sebagai tamu.

Sebagai pengantar dalam publikasi topic disebutkan bahwa pencurahan Roh Kudus merupakan momentum untuk berbenah yaitu bagaimana umat Kristen menjadi pionir dalam menge-depankan peran umat untuk mengambil bagian membangun gereja dan jemaat agar bisa saling menyatu dalam memberikan kesaksian sebagai warga gereja untuk menjaga Negara kesatuan republic Indonesia.


Dalam pembukanya Joice Ester Raranta yang juga adalah Dosen di salah satu perguruan tinggi teologi dan bertindak sebagai host dan moderator menyapa dan memperkenalkan dua narasumber serta memberikan kesempatan kepada keduanya untuk menyampaikan pendapat dan gagasan pemikiran sebagaimana topik diskusi.

Dalam paparan awalnya Pendeta Abraham Irwan Santoso MA., M.Th yang adalah Gembala Eglo Church Moi Jakarta menyatakan bahwa orang sering dianggap sebagai teologi yang berkaitan dengan dunia roh sehingga dianggap sulit untuk dipahami dan diterima oleh akal manusia karena ukuran manusia adalah yang Nampak dan terlihat oleh mata. Lebih lanjut menyatakan bahwa pentakosta itu adalah penyempurnaan karya Yesus bagi umat manusia dan sudah doirencanakan oleh Allah sendiri.

Sementara itu J Pdt. Dr. Jaury R Merukh, M.Pd.K  saat ini adalah Ketua STT Paulus Jakarta dalam paparan awalnya menyebutkan bahwa pentakosta mengingatkan kita tentang pribadi Tuhan pada orang-orang percaya. Di Negara kita ini Indonesia kepada kita dituntut untuk memiliki api Roh Kudus  dan jangan sampai mati dengan demikian menjadi berkat bagio orang-orang disekitar kita.

Diskusi ini terbagi dalam tiga sesi yang semuanya berlangsung 60 menit sebagaimana di jadwalkan tim redaksi. Secara lengkap jalannya diskusi dapat disaksikan dalam tayangan MATAHATI.TV sesuai dengan topic melalui MATAHATI.TV https://youtu.be/tjtniY4HOQo. selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin

Selasa, 19 Juli 2022

Sejarah MATAHATI.TV (Ega Mawardin)

Drs. Mawardin Zega, MTh (Mediator), Pendiri Group MATAHATI


SEJARAH MATAHATI.TV

 

Perjalanan keberadaan MATAHATI.TV sesungguhnya sudah digagas di tahun 2018 sebelum pandemi covid 19 menggejala. Pemikiran penerbitannya dimulai dari obrolan santai tentang fungsi media dalam menyuarakan suara umat untuk memperjuangkan aspirasi dan kepentingan umat Kristen kala itu. Memang sebelumnya telah berupaya menginisiasi penerbitan media baik cetak maupun audio visual, tetapi karena keterbatasan sumber daya yang ada pengelolaannya mengalami kendala dan pada akhirnya tidak berkembang dengan baik.

 

Selaku aktifis organiasi dan karena kebutuhan perlu adanya media sosial untuk mempublikasi kegiatan, menyalurkan, memperjuangkan aspirasi kepentingan umat, dirancang dua model publikasi yang memungkinkan diwujudkan yaitu dalam bentuk cetak dan audio vidio. Gagasan terus diupayakan dan diwujudkan di tahun 2020 ada model cetak bernama Buletin MATAHATI dan terbit dari Oktober 2020 sampai dengan Juni 2021 dan audio visual di akhir tahun 2020 bernama Channel Youtubi MATAHATI.TV yang berkembang dimasa pandemi dan mengudara dalam siaran uji coba dari bulan April sampai Juli 2021.

 

Kehadiran MATAHATI.TV sekalipun sudah dimanfaatkan sebelumnya tidaklah disambut baik di rumahnya sendiri tempat dilahirkan pertama kali. Entah apa sebabnya tidak ada yang tahu pasti dan dari pada MATAHATI.TV mati sebelum waktunya, penggagas yang juga pendiri berusaha menyelamatkannya walau dengan susah payah dan penuh perjuangan. Komitmen yang kuat, ketulusan dalam bebuat menjadikan MATAHATI.TV dapat bernafas lega dan mengudara dengan baik sampai saat ini karena dukungan beberapa sahabat yang setia.

 

Perkembangan MATAHATI.TV makin hari makin baik, ibarat orang yang berobat ke dokter semakin lama makin sembuh dan pulih dari penyakitnya. Ia disuntik dengan komitmen dan diobati dengan ketulusan sehingga perkembangannya demikian cepat memikat hati dan melahirkan gagasan-gagasan baru yaitu menghadirkan dalam media cetak menduplikasi kehidupan awalnya ketika ia digagas hadir di dunia media sosial.

 

Semoga saja kehadiran MATAHATI.TV dan MATAHATI.NEWS dapat memberi arti dalam gerak umat memperjuangkan aspirasi dan kepentingannya sekalipun ia ada di rumah yang berbeda.

 

2

Tim Redaksi 

Renungan Cinta Betsyeba dan Daud

 


CINTA BETSYEBA DAN DAUD, 2 Samuel 11.

Oleh: Fransina Ndolu, S.Th., M.Pd.K*


Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan dua kata saja "aku mengandung". Apa yang terjadi kemudian, seorang raja yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah dianggap murni?


PENDAHULUAN

Penulis Alkitab memaparkan  bahwa tiap  tokoh atau orang dalam Alkitab, memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing,  mereka bukanlah orang suci atau sempurna,  namun memiliki kejelekan atau sisi gelapnya agar kita belajar dari mereka. Dalam konteks diskusi ini, kita belajar dari kisah Betsyeba dan Daud bagaimana mereka menempatkan cinta? Apakah sudah pada tempatnya? Namun sebelumnya mari kita mengenali siapakah Betsyeba dan Daud.

Betsyeba dalam bahasa Ibrani berarti perempuan kelimpahan atau putri yang diikat janji. Betsyeba adalah cucu Ahitofel, salah satu penasehat utama Daud, 2 Samuel 15:12, anaknya bernama Eliam yang menjadi  orang kepercayaan Daud,  2 Samuel 23:34. Eliam inilah ayah Betsyeba, ia merupakan salah satu dari 30 pahlawan dari raja Daud,. Betsyeba menikah dengan Uria orang Het, 2 samuel 11:3. Uria mengabdi pada raja Daud sebagai perwira kerajaan. Betsyeba adalah wanita yang elok parasnya, ia sangat cantik.


Sementara Daud merupakan raja kedua yang paling populer di kerajaan Israel,. Nama Daud artinya yang dikasihi. Daud dilahirkan di Betlehem, Efrata di wilayah Yehuda. Ayahnya bernama Isai, ia adalah putra bungsu dari 8 bersaudara. Masa remajanya dilewati sebagai seorang gembala kambing domba.  Alkitab memaparkan bahwa Daud memiliki fisik kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Daud menjadi raja kerajaan Israel selama 40 tahun, 1 Raja-raja 2:11. Daud tidak pernah absen dari medan tempur, saat musim perang tiba. Namun hari itu naas bagi Daud melewatkan  pertempuran Israel melawan Amon.  Memilih ber-istirahat di Yerusalem istana kerajaan dan waktu yang tidak tepat karena saat itu musim perang para raja, 2 Samuel 11:1. Dalam istirahat itu Daud mengabaikan pertahanan dirinya, ia menjadi lengah terhadap dosa seksualitas, 2 Samuel 11.

Fransina Ndolu, STh., MPdK


DAUD JATUH CINTA PADA PANDANGAM PERTAMA.

Daud tidak dapat menahan dirinya saat melihat wanita cantik yang sedang mandi, yaitu Betsyeba,  2 samuel 11: 2. Daud jatuh dalam dosa perselingkuhan dengan Betsyeba, yang adalah istri Uria  orang Het,  bawahannya yang sangat setia kepadanya. Berawal dari pandangan pertama timbul keinginan untuk tidur dengan wanita cantik itu, walau ia tahu telah bersuami. Keinginan itu disemai  dari  mata turun ke hati, dikelola disana. Dosa ingin itu disirami, oh indah ya, cantik ya, menarik hati dan tidak pada tempatnya yang kemudian lahirlah dalam tindakan nyata.  Bukankah  dosa awal dalam kejadian 3:6 Adam dan Hawa jatuh, tidak saja jatuh karena makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu? Namun karena ingin. Dosa awal atau dosa asal karena keinginan. Mereka ingin makan buah itu karena menarik hati, kemudian mendorong mereka untuk ingin makan. Keinginannya disemai, maka lahirlah tindakan.


PENEMPATAN EKSPRESI CINTA YANG SALAH.

Sayangnya Daud dan Betsyeba menempatkan cinta tidak pada porsinya., dimana nafsu Daud ini telah membutakan mata hati mereka dan akalnya bahwa Betsyeba ini adalah istri Uria, salah satu perwiranya yang sangat loyal dan setia kepadanya. Daud dan Betsyeba tidak peduli kalau Uria sedang berjuang dan bertarung nyawa di medan perang. 

Penempatan cinta yang salah ini telah menyeret mereka jatuh dalam dosa perselingkuhan dan perzinahan, 2 Samuel 11:4. Akibatnya Betsyeba mengandung, lalu dikirimlah berita itu kepada Daud "aku mengandung" . Dua kata ‘aku mengandung’ itu telah menjungkirbalikan akal sehat Daud, dosa pertama berusaha ditutupi, maka melahirkan dosa berikutnya lagi, jika tidak bertobat.

Upaya menutupi aib, kepanikan terhadap kata aku mengandung Daud segera memerintahkan Uria (suami Betsyeba) ditarik dari medan pertempuran, sang raja memerintahkan orang Het itu,  untuk istirahat di rumah, maka Daud bisa terhindar dari tuduhan bahwa ia telah menghamili betsyeba. Namun Daud gagal menu-tupi jejak permainannya yang kotor. Uria tidak mau sekalipun diulang beberapa kali, Uria adalah seorang pahlawan Dn setia kepada raja, 2 Samuel 11 :11. Dosa telah menutupi mata hati nurani Daud. Dosa awal diikuti dosa selanjutnya. Setelah gagal dengan trik liciknya, Daud sengaja mengirim Uria ke garis paling depan, pertempuran yang paling ganas. Sang raja ingin membunuh perwiranya sendiri, secara sistematis.

Daud sebagai raja memberi surat perintah kepada Yoab panglima perangnya untuk menempatkan Uria di barisan paling depan dan membiarkan orang Het itu tanpa perlindungan, 2 Samuel 11:15. Hasilnya menjadi apa yang diharapankan Daud yaitu Uria gugur di medan perang, 2 Samuel 11:24.


SOLUSINYA PERTOBATAN MENJADI LANGKAH SELANJUTNYA.

Setelah kematian anak pertama mereka, berdua menyesali dosa-dosa mereka dihadapan Allah.  Tuhan menganugerahkan seorang anak lelaki di masa selanjutnya yaitu Salomo yang artinya damai sejahtera. Salomo merupakan simbol kasih Tuhan terhadap Daud dan Betsyeba, bahkan Nabi Natan memanggil Salomo dengan sebutan Yedijah artinya kekasih Tuhan, 2 Samuel 12:25-25. Implikasinya bagi kita saat ini bahwa  dalam Alkitab  para penulis Alkitab memaparkan secara jelas dan transparan dimana para tokoh- tokoh Alkitab atau orang-orang dalam Alkitab tidak ada yg sempurna atau suci, mereka memiliki sisi gelap dan disitu kita belajar dan bertobat jika jatuh di area perselingkuhan dan perzinahan agar mengalami pemulihan dari Tuhan. Bagi orang percaya kita belajar mawas diri, menjaga hidup dan keluarga kita dari bahaya perselingkuhan dan perzinahan. Tidak ada yang kebal dengan dosa, khususnya dosa perselingkuhan dan perzinahan dizaman ini.

*Penulis adalah Dosen STT Paulus Jakarta. 

Editor: Ega Mawardin - Redaksi MATAHATI.TV


Melawan Persekusi & Intoleransi ( MATAHATI.TV )

 

bincang malam kebangsaan

MELAWAN PERSEKUSI DAN INTOLERANSI, APA KATA MEREKA? 

 

Masyarakat Indonesia belakangan ini sangat terganggu dengan sikap sebagian orang yang suka tindakan mempersekusi dan berfaham intoleransi dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Dalam kamus bahasa Indonesia, arti persekusi adalah pemburuan sewenang-wenang terhadap seseorang atau sejumlah warga, dan kemudian disakiti, dipersusah, atau ditumpas. Tindak-an persekusi yang dilakukan bisa berupa penyiksaan atau penganiayaan tanpa memandang kemanusiaan lagi. Sedangkan intoleransi adalah paham atau pandangan yang mengabaikan seluruh nilai-nilai dalam toleransi atau dapat diartikan sikap intoleransi merupakan sikap tidak tenggang rasa atau tidak toleran terhadap orang lain dalam ber-masyarakat dan berbangsa.

 

MATAHATI.TV dalam rubric bincang malam kebangsaan yang disiarkan secara langsung menggelar diskusi kebangsaan produksi ke-120 dengan topik: Melawan persekusi dan intoleransi, apa kata mereka? Diskusi ini menghadirkan nara sumber dua orang muda yang masing-masing memimpin orga-nisasi pemuda yaitu: Johan Nainggolan, S.Hut saat ini Ketua Umum DPP Aaliansi Kebangsaan Gotongroyong Indonesia atau AKGI dan Imanuel E. Lubis, S.Th yang saat ini Ketua Umum DPP Gerakan Penerus Bangsa atau GPB dan bertindak sebagai Host adalah Pdt. Pitonggam Tobing, Ph.D dari tim MATAHATI.TV.

 


Kedua pembicara sepakat untuk melawan sikap persekusi dan intoleransi, menurut John Nainggolan bahwa kata penutupnya bahwa melawan kekerasan dengan kekerasan akan menimbulkan kekerasan yang lebih besar. Lawanlah Kekerasan dengan Kasih, Kelembahlembutan, Kebaikan, kerendahan hati dan Kesabaran. Dengan terus menjaga diri dan keluarga untuk tetap menanamkan nilai-nilai dan budaya Indonesia yang luhur yang bersumber dari Pancasila dan UUD 1945. Be part of the solution, not part of the problem. Sementara itu kata penutup dari narasumber Imanuel E. Lubis menyebutkan bahwa persekusi tidak akan berakhir jika kita tidak bersuara dan bergerak.

 

Kegiatan diskusi kebangsaan ini dipandu oleh Dr. Pitonggam Tobing, MTh seorang pendeta yang memiliki ketertarikan pada masalah-masalah kebangsaan. Pitonggam Tobing adalah bagian dari tim redaksi MATAHATI.TV. Seluruh rangkaian diskusi dapat disaksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/Ub1tBBgGkYc selamat menyaksi-kan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Renungan Pengadilan Sesat Pilatus ( Mawardin Zega )

 

renungan

Pengadilan Sesat Pontius Pilatus

  

“Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhir-nya mereka menang dengan teriak mereka”. Injil Lukas: 23:23

 

Belajar terminologi hukum “keadilan harus tetap dijalankan sekalipun langit runtuh.” Namun dalam Kenya-taan hidup sekarang ini slogan tetap slogan tak ada artinya sebab banyak orang terjebak dalam perangkap dan tak mampu melakukan dan menja-lankan keadilan sekalipun tahu tentang keadilan itu sendiri dan kebe-narannya. Apa yang disaksikan di pengadilan sering memutus perkara-perkara yang terlihat dan dirasakan begitu tidak adil dalam pandangan masyarakat yang menuntut keadilan.

 

Hal ini tentu bukan hal baru, ketidak-adilan dalam pengadilan sudah di praktekan jauh sebelumnya. Penga-dilan sesat pernah dipraktekan oleh Pontius Pilatus wali negeri Romawi di tanah Samaria dan Yudea (Israel kini)  sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 23. Saat keadilan harus ditegak-kan dan kebenaran jelas terpampang dihadapannya, Pontius Pilatus justru berlaku tidak adil, barusaha melawan hati nuraninya sendiri.

 

Pontius Pilatus orang yang fenomenal pada masanya dengan keputusannya yang keliru dalam pengadilan sesat (menghukum mati orang tak ber-salah), tanpa hati nurani menyalibkan Yesus, sekalipun telah memeriksanya dengan seksama dan nyakin tidak menemukan kesalahan apapun pada-nya sebagaimana kesaksian Lukas 23:4 “Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini." Ayat 14: “Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tu-duhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.”

 

Pilatus nyakin berdasarkan pemerik-saannya sebagai hakim pengadilan Romawi bahkan dikuatkan oleh pemeriksaan Herodes sebagai raja, tidak menemukan kesalahan apapun sebagaimana dituduhkan pada Yesus, tetapi Pilatus tetap pada putusan pengadilan sesatnya yang disengaja olehnya, menyesah, menyiksa dan menghukum mati orang yang tidak bersalah bernama Yesus.

 

Pengkhotbah 3:16 menulis "di tempat pengadilan, di situ pun terdapat keti-dakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidak adilan". Ruang pengadilan apapun menjadi hampa makna dan kehilangan kebenaran, sebab para hakim yang memutus perkara dihatinya sudah didahului dengan ketidak-adilan. Penyebab hal ini terjadi karena adanya rasa takut terhadap manusia dan bukan lagi kepada Tuhan, sehingga tidak berani menyatakan keadilan sekalipun perpampang jelas dihadapannya.

 

Pada dasarnya Pontius Pilatus selaku hakim tidak mendapati kesalahan pada Yesus, dan ingin melepaskan Yesus (ayat 20). Dua kali memeriksa perkara Yesus (ayat 3 dan 14) dan tiga kali berunding dengan para imam Yahudi dan menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah (ayat 13-23). Akan tetapi para imam dan rakyat terus mendesak Pilatus menuntut kematian Yesus; dan karena suara mereka besar dan teriakan mereka keras, mereka menang karena teriakan mereka itu (ayat 23) dan akhirnya Pilatus meng-hukum mati Yesus (ayat 24).

 

Mengapa Pontius Pilatus berani me-lawan hati nuraninya sendiri? Ternya-ta dorongan mempertahankan posisi sebagai seorang kepala, sebagai penguasa, jauh lebih kuat ketimbang mengikuti kata hatinya sebagai se-orang hakim. Ia lebih memilih menu-ruti tuntutan rakyat agar tidak terjadi keributan, agar tidak ada kesulitan baginya, agar ia tetap disukai para imam Yahudi, ketimbang melakukan apa yang benar yang ia tahu dan nyakini sekalipun.

 

Sebagai seorang pejabat politik, Pontius Pilatus sungguh mengetahui pentingnya berkompromi dalam menghadapi masalah dan ia mena-warkan pilihan pembebasan Barabas atau Yesus, bernegosiasi dengan baik dan menawarkan penyiksaan Yesus sebagai ganti hukuman mati, kalau perlu mengambil jalan tengah dan cuci tangan tidak terlibat dengan mengirimkan Yesus kepada Raja He-rodes, semua itu dilakukan Pontius Pilatus semata-mata agar ia selamat dalam perkara ini dan lepas tangan seakan-akan ia tidak terlibat dalam penetapan hukuman mati kepada Yesus. Pilatus melihat Yesus tidak lebih sebagai ancaman politik saja, ketimbang sebagai seorang pribadi yang benar dan berintegritas walau-pun ia tahu bahwa Yesus itu adalah orang benar.

 

Ketika taruhannya sangat besar me-mang tidak mudah bagi seseorang tetap berdiri di atas kebenaran dan menjalankan keadilan. Apalagi kalau yang dicapai saat ini bukanlah hasil kerja sendiri, tetapi hasil dari sese-orang yang sebelumnya pernah ada sehingga ragu pada keputusan sen-diri, ragu pada hukum dan pada akhirnya ragu pada kemampuan diri sendiri.

 

Seperti Pontius Pilatus dalam ber-tindak: dengan cepat menggerahkan segala daya membungkam kebenaran dan melihat orang lain sebagai lawan-lawan yang mendatangkan masalah dan harus segera diselesaikan, ke-timbang seorang manusia yang harus dihargai. Maka Pontius Pilatus meng-gerakkan dan melakukan apapun untuk menjaga kekuasaan itu tetap ada sekalipun harus memobilisasi para pasukan dan dayang-dayang menutupi keadaan yang terjadi mengikuti kehendak orang banyak karena suara mereka.

 

Kita pun berpeluang menjadi seperti Pontius Pilatus, ketika mengetahui apa yang benar yang terjadi, tetapi memutuskan untuk tidak melakukan-nya hanya demi kepentingan diri sendiri dan juga kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita yang selalu membisikkan pikiran negatif yang mengintimidasi dan akhirnya suara merekalah yang menang, ka-rena lebih keras dan diulang berkali-kali dan akhirnya Pontius Pilatuspun menyerah pada keinginan orang banyak.

 

Melalui perenungan ini sebuah pem-belajaran: kita belajar untuk tetap berdiri di atas kebenaran, apapun risikonya harus menjalaninya sebab itulah yang dikehendaki Tuhan pada kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis: Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th Pimred MATAHATI.TV & MATAHATI.NEWS

Pdt. Drs. Mawardin Zega, MTh

Mertuaku, bukan ibuku (seri 3 bersama Marini Siahaan & Cristine Kalvin)

 

curahan hati perempuan

SERI 3, MERTUAKU BUKAN IBUKU

 

Curahan hati perempuan tidak pernah habis untuk dicurahkan kepada kita semua walau sesungguhnya ini hanyalah topic besar diskusi pada rubric Perempuan Bicara MATAHATI.TV. Keharmonisan keluarga ditandai dengan hubungan yang akrab antar anggota keluarga besar. Perempuan memegang peranan penting dalam menata keluarga, baik selaku ibu dan juga perempuan lainnya dalam keluarga yang kita sebut mantu yang juga menjadi seorang anak bagi seorang yang disebut mertua. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari kita menemukan pernyataan seorang mantu yang menyatakan bahwa mertua bukan ibuku dan itu mengundang kontroversi di masyarakat, tetapi pertanyaanya apakah itu salah?  Selintas kita melihatnya salah, tetapi apakah sesungguhnya itu salah? Diskusi Curahan Hati Perempuan (seri 3) ini memberikan topik bahasan: Mertuaku itu, bukan ibuku.  Mari kita simak beberapa bagian catatan yang dihimpun redaksi MATAHATI.TV.

 

Sebagai pembicara utama dalam diskusi ini Marini Siahaan, SE., MTh memberikan gambaran Role model di Alkitab tentang mertua & menantu yaitu Naomi dan Ruth. NAOMI sebagai seorang ibu dan mertua menjalani training iman dan kepribadian yaitu dengan bersikap manis terhadap kedua menantunya, menganggap kedua menantunya sama seperti anaknya sendiri, berhasil menyaksikan imannya kepada menantunya, tidak memaksakan kehendak kepada menantunya dan memikirkan kebaikan menantunya. Sementara sebagai menantu Ruth menganggap mertua sebagai orang tuanya sendiri, tidak bersifat materialistis, seorang menantu yang rajin dan berinisiatif untuk bekerja dan  mau mendengar nasihat mertuanya.

 


Lebih lanjut Marini mengatakan bahwa konflik antara mertua dan menantu dari sebuah studi mengatakan bahwa 60 persen hubungan mertua perempuan dengan menantu perempuan berada di dalam ketegangan. Ini berbeda dengan hubungan mertua laki-laki dengan menantu laki-laki seperti Musa dan Yitro. Mengapa banyak hubungan mertua dan menantu kurang baik? Alasannya karena ibu mertua merasa anak lelakinya "diambil" oleh menantunya, ibu mertua merasa telah "disia-siakan" oleh anak lelakinya dan ibu mertua merasa tidak "dirawat" karena anaknya memilih hidup dengan orang lain. Sementara itu merasa bahwa ibu mertuanya terlalu ikut campur urusan rumah tangga mereka, selalu mengkritik pekerjaannya, tidak pantas untuk anaknya, dan sebagainya.

 

Baik Marini Siahaan maupun Christine Kalvin yang keduanya adalah wanita professional memberikan tips yang sama dalam membina hubungan antara mertua dan menantu yang perempuan yaitu saling mengasihi. Kedua pembicara percaya bahwa kalau mertua mengasihi menantunya dan menganggapnya sebagai anak dan sebaliknya menantu mengasihi mertuanya dan menganggapnya sebagai ibu maka hubungan keduanya pasti akan baik dan tentu saja mengakibatkjab dalam keluarga terjalin hubungan yang akrab dan keluarga jadi bahagia. Lengkapnya diskusi ini dapat saksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/sd_KHfunqXs selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

MASIH ADA JALAN? (seri 2 bersama: Marini Siahaan & Cristine Kalvin)

 

curahan hati perempuan

SERI 2, MASIH ADA JALAN?

 

Curahan hati perempuan seri 2 dengan topik: Masih adakah jalan? Kedua narasumber memberikan jawaban yang pasti bahwa pasti ada jalan asal saja mau bertindak dan tidak diam saja menerima keadaan.

 

Dalam pengantar publikasi oleh redaksi menjelaskan curahan hati perempuan begitu menyentuh di dada menyesakkan memang. Harapan terhadap keutuhan dan kasih dalam keluarga begitu besar pada mulanya. Ketika prahara itu datang semua harapan itu seperti terkoyak begitu saja dan tahu apa yang terjadi kemudian bagaikan menyatukan kembali cermin retak yang hancur berke-ping-keping, begitulah perasaan hati perempuan. Tetapi tunggu dulu, masih ada jalan untuk merakit kembali cermin retak itu, mungkinkah?


Mungkinkah? Sebuah kalimat Tanya yang sesungguhnya tidak membutuhkan jawaban. Kedua pembicara malah menjawabnya dengan begitu pasti sekalipun pada dasarnya punya satu jawaban pasti masih ada jalan. Tetapi berbeda dalam mengurai jawaban itu.

 


Marini Siahaan dengan gayanya yang khas melakukan pendekatan penyelesaian dengan mengingatkan kembali apa yang sudah dibicarakan pada seri 1, ibu runmah tangga yang aktif dalam bidang konseling ini mengatakan bahwa sebagai orang beriman ada Firman Tuhan: Akulah jalan, kebenaran, dan hidup: tidak ada manusia yang datang kepada Bapa, tanpa melalui Aku (Yohanes 14:6). Karena hanya dengan cara inilah dapat mengikuti jejak langkah Tuhan dengan saksama dan menerima janji dan berkat Tuhan sehingga dapat kita bertahan dan menjaga keluarga kita dengan baik.

 

Lebih lanjut mengatakan: Segala perkara dapat kutan-gung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.​ (Filipi 4:13). Dalam hal ini Rasul Paulus menulis kata-kata ini supaya umat Allah yakin mereka mendapat kekuatan untuk bisa melakukan apa yang Allah inginkan.

 

TIPS Praktis.

Lebih lanjut aktifis dan penceramah bidang perempuan ini memberikan tips praktis juga berdasar Firman Tuhan: "Sebab seperti tubuh tanpa roh adalah mati, demikian jugalah iman tanpa perbuatan-perbuatan adalah mati" (Yakobus 2:26). Dalam penjelasannya menekankan perbaiki dan jaga persekutuan pribadi dengan Tuhan., Jalin komunikasi yang baik dengan pasangan., belajar dan berubah menjadi lebih baik., Jika permasalahan/konflik tidak dapat teratasi secara internal, segera mencari bantuan dari pihak ketiga (konseling ke gembala, diskusi dengan orang yang tingkat rohani lebih dewasa, mohon dukungan doa dari saudara seiman., Pilih orang yang tepat untuk dijadikan tempat curhat., Pilih pergaulan yang baik, teman yang baik, komunitas yang baik dalam hidup keseharian kita (I Korintus 15:33 berkata: "Janganlah kamu sesat: pergaulan yang buruk merusak kebiasaan yang baik”).

 

Pembicara kedua Christine Kalvin memberikan jalan keluar dalam pendekatan kehidupan nyata perempuan. Ibu yang suka melayani kaum papa ini menyebutnya penjelasannya sebagai solusi praktis curahan hati perempuan yaitu dengan pertama sikap sabar yang terus menerus terhadap pasangannya., kedua harus ada sikap rendah hati dan suka mengalah., Ketia ia menyebutkan harus bisa tunjukan sikap dan tindakan  bukan dengan amarah dan ingat tampil cantik, istilah lain hilangkan daster jika suami sudah ada di rumah.

 

Dalam dialog dengan audens tentang hilangkan daster, penanya mengatakan perempuan itu di rumah selalu pakai daster sebab praktis dan gampang. Christine Kalivin mengingatkan seharusnya istri jika di rumah juga harus tampil cantik dihadapan suaminya agar suami senang dan betah di rumah, jangan pakai daster kumal terus itu nanti takmembuat suami betah, coba kalau cantik kan suami jadi betah dan senang, demikian penjelasannya yang disertai dengan tawa lepas dari hadirin di room. Saksikan dI MATAHATI.TV https://youtu.be/iN9riiVuHz4 (Penulis & Editor: Ega M – sumber bahan paparan pembicara) 

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...