Sabtu, 13 Agustus 2022

SKETSA Mencintai Indonesia Mencintai Nusantara

Dalam sebuah percakapan di washaap group, seorang teman menolak penyebutan Nusantara, alasannya sederhana menurutnya kata Nusantara adalah mimpi zaman dulu, mimpinya Gajah-mada tentang Majapahit sebuah kerajaan yang sudah lama runtuh tak berbekas. Lebih lanjut diuraikan bahwa Nusantara istilah yang sukar dipahami sekaligus mengundang kontroversi, membawa kepada mitos-mitos masa lalu.

Aku memang sedikit terganggu pada pendapat itu dan juga dengan alur pikir yang menyatakan demikian. Dalam jalan pikiranku yang pendek (walau bukan sumbu pendek) ada sedikit keraguan yang timbul, apakah frasa Nusantara sedemikian kerdil atau memang segaja dikerdilkan sehingga tidak lagi menjadi kebangaan sebagai-mana pada zaman dan masa-masa sebelumnya.

Ah, tunggu dulu. Mari sejenak belajar pada sumber yang pasti, lihat bahwa sesungguhnya arti kata Nusantara itu baru bicara. Dan rujukan kita adalah KUBI yang memberi arti kata nusantara sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, begitulah kamus Indonesia menjelaskan artinya.

Nusantara merupakan istilah yang dipakai menggambarkan wilayah dari kepulauan yang membentang dari pulau Sumatera sampai pada pulau Papua dan sekarang sebagian besar itu merupakan wilayah negara Indonesia. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk meng-gambarkan konsep kenegaraan yang dianut kerajaan Majapahit. Sejarah mencatat kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, yang pernah berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan men-capai puncak kejayaannya dan  menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa Hayam Wuruk tahun 1350 hingga 1389, dimana pada waktu itu Patih Gajahmada menyampaikan sumpah terkenal  yaitu Sumpah Palapa.


Pada awal abad ke-20 istilah Nusantara dihidupkan kembali oleh tokoh pejuang nasional Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif negara merdeka pelanjut Hindia Belanda yang belum terwujud. Ketika penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk nama dari kepulauan Indonesia. Jadi tak ada alas an pada kita untuk menghilangkan istilah Nusantara dalam sejarah bangsa Indonesia tercinta ini.

Teringat pada zaman kanak-kanak ada frasa Nusantara begitu akrab di teliga, ia menjadi judul lagu yang sangat menarik dan merakyat dari sebuah band legendaris bernama Koesplus. Lagu Nusantara 5 adalah lagu yang bisa dinyanyikan oleh siapa saja zaman itu, ia adalah lagu yang menggambarkan semangat dan kebanggaan untuk kata  penyebutan bagi Indonesia sebagai Nusantara. Marilah sejenak menyimak syairnya dan rasakan getarnya:

 

“Ribuan pulau bergabung menjadi satu,
Sebagai ratna mutu manikam, 

Nusantara oh nusantara.

 

Berlimpah limpah kekayaan Nusantara, 

tiada dua dimana jua,

Nusantara oh Nusantara.

Siapa tak kenal Nusantara,

siapa tak suka Nusantara,

siapa tak sayang Nusantara,

oh nusantara.

Alamnya indah serta udaranya cerah
menjadi kebanggan semua.

Nusantara oh nusantara.

 

Aneka bunga terhampar sekitar kita, 

seakan ada di dalam surga,

Nusantara oh nusantara.”

 

Jadi sesungguhnya Nusantara adalah kebanggaan kita semua, tidak perlu dikerdilkan artinya, ia rujukan pada kebanggaan masa lalu dari suatu bangsa yang dulu pernah ada dipersada bumi Pertiwi ini. Gajahmada bukanlah mitos, sumpah palapa bukan cerita khayal, Nusantara bukan hanya sekedar nama, ia adalah roh yang mengikat kesatuan kita sebagai suatu negara bangsa dalam bingkai yang tak boleh retak sedikitpun itulah kita Negara Kesatuan Republik Indonesia, harga mati.

(Penulis: Ega Mawardin dan telah dipublikasikan diberbagai media online)


catatan sejarah PROKLAMASI & KEMERDEKAAN

Agustus bulan paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, di setiap tanggal 17 diperingati oleh segenap anak bangsa sebagai hari sukacita bersama. Bukan tanpa sebab, tanggal 17 adalah puncak dari perjuangan panjang ratusan tahun dalam melawan penjajah dan menyata-kan dirinya sebagai bangsa merdeka. Pada waktu itu dibacakanlah sebuah naska sekalipun masih coret-coretan yang sampai kini disebut PROKLAMASI. Kata proklamasi itu sendiri diartikan sebagai pengumuman atau pemberita-huan resmi kepada seluruh rakyat Pengumuman ini sebagai pemakluman agar seluruh masyarakat tahu bahwa sudah terjadi peristiwa penting.

Proklamasi adalah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh orang yang sung-guh berwenang membuat pengumu-man itu. Proklamasi digunakan dalam rangka pemerintahan dan biasanya dikeluarkan atas nama kepala negara. Sukarno dan Hatta didaulat menjadi orang yang berwenang untuk menyata-kan proklamasi itu atas nama bangsa Indonesia. Dengan demikian maka proklamasi menjadi sah sebagai per-nyataan seluruh bangsa Indonesia yang diwakili oleh Sukarno-Hatta atas nama negara yang hari itu juga dibentuk.




Proklamasi adalah semangat bersama dengan rela berjuang, berjuang dengan hakiki, berjuang dengan tulus, berjuang dengan penuh idialisme dan dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Semangat proklamasi adalah semangat persatuan, kesatuan yang bulat mutlak dengan tiada menge-cualikan setiap golongan dan lapisan masyarakat Indonesia dalam berjuang mencapai proklamasi. Dan karena semangat itulah lahir kemerdekaan, menyatakan diri merdeka, bebas dari penjajahan bangsa asing.

MERDEKA diartika sebagai keadaan dan atau hal yang berdiri sendiri, bebas, lepas, tidak terjajah lagi. Merdeka dari bahasa Sanskerta: महर्द्धिक mahard-dhika yang berarti kaya, sejahtera dan kuat, begitulah kamus memberikan artinya. Merdeka pada waktu itu adalah puncak perjuangan maka taruhannya adalah nyawa, siapa saja yang ingin meniadakan arti kata merdeka itu, maka seluruh bangsa Indonesia mem-belanya dan siap untuk mengorbankan apapun yang ada padanya termasuk nyawanya sendiri. Itulah sebabnya semboyan kemerdekaan waktu itu adalah “merdeka atau mati”.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia disingkat HUT RI  atau dalam bahasa sehari-harinya Tujuh belasan, adalah hari libur nasional di Indonesia untuk memperingati Prok-lamasi Kemerdekaan Republik Indone-sia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setiap tahun pada tanggal 17 Agus-tus, rakyat Indonesia merayakan HUT RI dengan meriah, dimulai dari upacara bendera hingga berbagai macam dan rupa perlombaan masyarakat seperti lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, lomba hias sepeda, dan lain-lain permainan-permainan rakyat. Masyarakat dan diaspora Indonesia di dalam dan di luar negeri memperingati dan merayakan hari tersebut yang diawali dengan upacara bendera dan peringatan detik-detik proklamasi pada pagi hari.

Menjelang Hari Kemerdekaan, Presiden Republik Indonesia selalu memberikan Pidato Kenegaraan dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia di gedung MPR sebagai kegiatan yang sakral untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Maka pidato kali ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia, kita semua berharap bahwa PRESIDEN akan kembali menggelorakan jiwa proklamasi dalam membangun negeri dengan menyatakan perang melawan idiologi lain dan atau idiologi atas nama agama yang berusaha untuk mengganti PANCASILA sebagai idiologi bangsa dan Negara Indonesia yang ada sejak kita merdeka. Jangan karena sekelompok orang-orang yang lagi mabuk agama, mabuk budaya asing lalu merusak tatanan perjuangan selama ini dan darah para pahlawan yang tertumpah sebelumnya dalam menjadikan Indo-nesia merdeka.

Marilah semua kita yang cinta kemer-dekaan Indonesia menjaga Indonesia dari rongrongan, dari benalu-benalu politik dan dari ajaran idiologi lain yang ingin dan berusaha merubah bentuk dan asas Negara kita NKRI yang berlandaskan Pancasila dan berdasar UUD 1945. NKRI harga mati. (Penulis: Ega Mawardin)

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...