Kamis, 18 April 2024

HANYA KARENA KASIH KARUNIA

Harap Gampang atau HG, istilah trending topik di  awal tahun 2000-an di kota Kupang. Awal penggu-naannya ditujukan kepada orang yang tidak berbuat apa-apa tapi mendapatkan manfaat dari kerjaan orang lain. Orang dengan keadaan HG biasanya memi-liki sikap yang bervariasi dalam berespon atas apa yang diterimanya. Pertama ada yang malu dan menjadikan situasi HG yang dialami untuk tidak lagi terjadi di kemudian hari. Orang dengan sikap seperti ini akan berusaha sedemikian rupa agar pengalaman HG itu tidak pernah terulang lagi atas dirinya. Kerja keras, giat dan usaha sungguh-sungguh akan diker-jakannya untuk meng-hindari kejadian yang sama terjadi dalam hidupnya.


Sikap kedua justru merasa senang dan terus membuat diri dan kondisinya sedemikian rupa agar hal HG terus ia alami dan keadaan seperti ini si orang itu akhirnya menjadi orang malas. Mengalami stagnan untuk ber-tumbuh dan berkembang serta, kreatif dalam diri dan hidupnya dan sikap ketiga  adalah masa bodoh, tidak  ambil pusing dengan yang disebut sebagai HG itu.

Ini adalah gambaran dari 3 sikap yang banyak kita temui dalam hidup. Mengapa ini menjadi penting untuk dipercakapkan dalam merefleksikan Paskah.

Jawabnya Roma 6:1-14, komunitas kristen mulai terlihat reaksi dalam menanggapi anugrah keselamat-an Allah yang dikerjakan Kristus Yesus bagi manusia, khususnya bagi mereka yang percaya kepadaNya.


Paulus menguraikan penekanan serius pada iman sebagai syarat pembenaran. Pasal 3 manusia dibenar-kan karena iman. Pasal 4 Abraham dibenarkan karena iman. Pasal 5 hasil pembenaran. Iman itu disebutkan sebagai kasih karunia. Kasih karunia adalah sesuatu yang datangnya dari Allah, menjadi inisiatif Allah yang Allah berikan pada siapapun tanpa melihat siapa dia.

Dalam pemberian  Allah itu ada bagian yang akan diterima oleh orang yang meresponi kasih karunia itu dan respon itu berwujud dalam hal berimannya, manakala dia menerima dengan syukur dan percaya kepada Allah yang memberikan  kepadanya.

Tindakan  percaya diwujudkan melalui menggan-tungkan seluruh diri dan kehidupannya kepada Allah, dan menuntun dirinya agar melakukan apa yang Allahkehendaki, dalam firman dan hukumNya. Arti-nya, orang beriman itu orang pertama-tama percaya pada Allah dan kedua melakukan firman dan kehendakNya. Kalau kita disebut orang beriman, maka 2 aspek ini harus terwujud dalam sikap hidup kita.

Setelah menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan dibenarkan karena iman itu, Paulus kemudian pada pasal 5 melanjutkan bahwa orang beriman itu kemudian menerima daripada apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam karya pe-nyelamatan melalui peris tiwa salib dan kebang-kitanNya. Hal itu adalah pembenaran. Maksudnya adalah orang beriman itu akan menerima karya pembenaran yang dilaku-kan Tuhan Yesus, yaitu penebusan dan penga-mpunan dosa sehingga orang itu mengalami pendamaian dengan Allah yang menyebabkan ia diselamatkan dan hidup (Roma 5:10).

Pengajaran ini mendatang sukacita besar bagi pengikut Kristus karena iman yang dikaruniakan Allah akan membawa mereka kelak berkumpul bersama dengan Tuhan yang disembahnya. Akan tetapi, peng-ajaran seperti ini kemudian digunakan oleh lawan-lawan Kristus,  kelompok dan komunitas yang selama ini tidak menghendaki ajaran  Kristus itu berkembang dan didengarkan oleh bangsa-bangsa, yaitu pemimpin dan umat agama Yahudi dan non-Yahudi.

Untuk agama Yahudi tujuan mereka agar kekris-tenan tidak disebarkan dan diakhiri sesegera mungkin dan yang menjadi pengikut kristen kembali menjadi umat Yahudi dan hidup menurut ajaran Yahudi. Sedangkan non Yahudi adalah supaya pengaruh agama kristen tidak lagi menyebabkan pengaruh agama mereka menjadi lemah dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk merealisasikan tujuan itu maka kelompok ini menyampaikan hasutan dalam bungkus pengajaran untuk menjadikan kasih karunia Allah itu dengan sikap seperti kelompok kedua dari hal HG yang di awal kita bahas tadi.

Komunitas kristen yang oleh mereka masih bisa dipengaruhi didekati dan diajarkan untuk menerima kasih karunia Allah itu sebagai kesempatan untuk tetap melanjutkan kehidupan mereka yang penuh dengan kesenangan yang jauh dari yang Allah kehendaki.

Provokasi mereka adalah selama kasih karunia itu ada mereka akan selalu mendapatkan pengampunan dari Allah dan mengalami hasil pembenaran. Atau mengajarkan mumpung ada kasih karunia, buat dosa juga tidak apa-apa nanti setelah buat dosa cukup memohon pengampunan dosa kepada Allah yang punya kasih karunia itu, maka mereka akan kembali diampuni Allah.

Hasutan sesat ini mendatangkan keresahan bagi jemaat kristen. Pengaruh hasutan ini menyebabkan kasih karunia itu dilihat sebagai kesempatan untuk tetap hidup dalam dosa karena kasih karunia dijadikan jaminan untuk memperoleh pembenaran dari Allah.

Dan terhadap hal ini, Paulus berikan responnya, dalam ayat 1 pasal 6, melalui kalimat “jika demikian apakah yang hendak kita katakan, bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Respon tegas dari Paulus adalah tidak. Artinya, ajaran yang disebarkan kelompok-kelompok itu tidaklah benar dan tepat. Itu justru akan menyebabkan manusia semakin jauh dari Allah.

Kasih karunia yang Allah berikan melalui kema-tian dan kebangkitan Yesus itu terjadi 1 kali dan tidak akan terulang lagi atau berulang-ulang (Bdk. Ayat 10). Kalau demikian apakah yang bisa dijelaskan dengan kasih karunia itu?

Kalau pembahasan ini diikuti dengan alur penjelasan sejak pasal 3, maka dapat disimpulkan bahwa kasih karunia Allah itu di dalamnya berisikan 3 hal, yaitu pembenaran-penebusan, pengudusan dan pendamain. Apakah itu?

Pembenaran-penebusan. Ini adalah unsur per-tama dalam kasih karunia Allah. Ketika Allah meng-anugrahkan kasih karunianya, orang yang diper-kenankan Allah menerima kasih karunia ini diberikan hikmat dan kemampuan agar ia mengenal Allah dan apa yang Allah kehendaki. Paulus menggunakan Abraham sebagai contohnya. Allah memberikan kasih karuniaNya kepada Abraham yang berasal dari Ur-Kasdim untuk mengenal diriNya dan kehendakNya.

FRANSINA NDOLU, MPdK

adalah seorang pengajar dan juga konselor yang baik, dipakai Tuhan dalam berbagai pelayanan gereja. Juga sebagai narasumber diprogram MATAHATI.TV dan memiliki chanel sendiri di youtubi khusus program renungan harian


Pengenalan itu menyebabkan Abraham menaruh percaya kepada Tuhan yang ditunjukkan dalam respon taat pada perintah Tuhan dan selalu menggantungkan kehidupannya kepada Tuhan dan itulah tindakan iman (Ibrani 11:8-19). Tindakan iman ini menyebabkan Abraham dikasihi Tuhan dan segala permohonannya dijawab Tuhan dan kemudian ia disebutkan sebagai bapak segala orang percaya. Karena iman ini, maka Abraham dibenarkan Allah, ketika melakukan kesa-lahan dan menginfasinya lalu tidak mengulanginya, maka ia mendapatkan penebusan atas dosa dan kesalahannya, ia tidak lagi disebut dengan nama Abram melainkan Abraham.

Kasih karunia ini tidak hanya berhenti ditahapan pembenaran-penebusan, karena ketika orang yang mendapatkan pembenaran-penebusan dari Allah, yaitu pengakuan Allah atas dirinya (dalam kasus Abraham ditandai dari Abram-menjadi-Abraham), orang yang menerimanya diberikan kekuatan untuk masuk dalam unsur kedua yaitu pengudusan diri. Supaya jangan kembali melakukan sikap seperti kelompok kedua dari kasis HG tadi.

Pengudusan diri ini adalah tahapan dimana Allah mengaruniakan kuasa dan RohNya kepada orang yang sudah mengalami pembenaran-penebusan, agar ia mempunyai kemampuan  untuk mempertahan dirinya menjadi orang yang benar di hadapan Allah. Di tahapan ini, yang dibutuhkan dari orang ini adalah mengatur dirinya agar ia menjaga sikap dan kelakuan, hati dan tubuhnya untuk tidak jatuh lagi dalam dosa.

Pengudusan diri adalah tahapan pengikut kristus mematikan kedagingannya untuk hidup menurut apa yang Allah kehendaki sehingga ia tidak jatuh dalam ajaran penuh hasutan dan provokatif tentang kasih karunia dari dua kelompok tadi, menjadikan kasih karunia untuk terus berbuat dosa.

Di proses inilah orang percaya perlu membangun relasi yang kuat dengan Allah dan memberi diri untuk mengikuti apa yang Allah kehendaki. Pengudusan diri ini adalah cara untuk tetap berjalan dalam kehendak Tuhan saat hidup dan bertemu dengan kehendak lain, yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Dalam kasus Abraham, tahapan ini ditemukan dalam hal Abrahan selalu mempersembahankan korban bakaran kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan dan mengekang kedagingannya untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama setelah ia men-dapatkan pengampunan dari Tuhan.

Ketika orang yang menerima kasih karunia Allah itu melakukan dua tahapan terdahulu dari kasih karunia itu, maka ditahap yang terakhir, mereka yang setia.

Tahapan-tahapan ini dapat disimpulkan sebagai proses yang harus dilalui oleh mereka yang menyebut dirinya pengikut Kristus dan murid Yesus yang sejati, yang setia. Ia memberi dirinya untuk dibenarkan untuk mendapatkan penebusan, lalu menguduskan dirinya untuk memperoleh pendamaian dari Allah.

Semua yang melakukan tahapan ini dalam kesetiaan, maka ia sekalipun terlahir setelah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, tetap dipersatukan dalam kematian dan kebangkitan Yesus serta beroleh keselamatan yang disediakan Tuhan. Karena itu kasih karunia itu pemberian Allah yang harus dijalani dalam proses yang membutuhkan si penerimanya untuk berespon dengan baik.

Hari ini kita merayakan paskah. Kebangkitan Tuhan. Paskah adalah tanda kemenangan, yaitu kemenangan Tuhan untuk menaklukkan kuasa yang membuat kita tidak bisa hidup dalam kasih karunia Allah, dibenarkan untuk ditebus, dikuduskan untuk memperoleh pendamaian, yaitu diselamatkan dan beroleh hidup kekal. Paskah ini adalah kasih karunia Allah  yang disediakan kepada setiap orang. Allah yang menyediakan ini memberikan sebagai kasihNya kepada manusia. Dan supaya kita bisa hidup di dalam kasih karunia Allah itu, maka melalui bacaan ini Paulus menasehatkan itu untuk berespon dengan baik melalui sikap hidup kita untuk mengalami kasih karunia Allah itu agar melalui iman yang ada pada kita, kita mengalami proses dibenarkan-ditebus, dikuduskan untuk pendamaian dengan Allah agar diselamatkan dan beroleh hidup kekal. Paskah adalah waktu yang Allah  sediakan bagi kita. Kita diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, maka meng-alami sukacita paskah itu ataukah menjadi orang yang berada di luar paskah.

Pilihan itu ada pada kita dan kalau kita memilih untuk menjadi orang yang mengalami sukacita Paskah, maka kita berkewajiban membangun iman kita melalui percaya kepada Kristus dan melakukan kehendakNya supaya kita dibenarkan-ditebus, dikuduskan dan mengalami pendamaian dengan Allah. Semua kita yang memilih pilihan untuk mengalami sukacita paskah harus menjadikan hidupnya sebagai alat kebenaran dari Allah.

Selamat mempersiapkan pelayanan. Selamat Paskah 2024. Selamat menjadikan hidup sebagai senjata kebenaran Allah. Tuhan memberkati. (Fransina Ndolu, MPdk., Narasumber MATAHATI.TV) 

DIA PUN GANTIKAN AKU (Marini Siahaan, SE., M.Th)


Peristiwa yang tak pernah lepas dari air mata umat Kristen adalah setiap kali mengenang dan mengingat penderitaan Tuhan Yesus yang berawal di taman Get-semani. Saat kita merenungkan kisah penderitaan dan kematianNya, kita diingatkan akan kasih yang tak terbatas, dari Tuhan yang mengorbankan anak-Nya yang tunggal untuk menebus dosa-dosa kita karena melalui peristiwa ini, kita diberikan kesempatan mendapatkan keselamatan dan hidup yang kekal. 

Dosa hal serius, dari sisi Allah merupakan perkara yang harus dibereskan, diselesaikan sampai tuntas dalam kehidupan manusia. Dan bayaran yang mahal dan tuntas itu hanya bisa dibayar dan diselesaikan Anak-Nya yang Tunggal, Tuhan kita Yesus Kristus. 

Darah dan air mata yang tercurah bahkan sejak sebelum Dia naik ke Kayu Salib, menggambarkan betapa berat dan besarnya perkara dosa dan maut yang harus diselesaikan. Dan hanya ada satu alasan untuk Tuhan Yesus rela melakukan semua itu bagi umat ciptaanNya, yaitu: KasihNya. Seperti yang jelas dituliskan dalam Firman-Nya: Yohanes 15:13 “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”

Jumat Agung adalah puncak peristiwa yang meng-gambarkan kasih yang sempurna itu. Kasih dari Sang Pencipta kepada makhluk ciptaan Nya . Tidak  ada Kasih yang lebih tinggi dan yang lebih sempurna dari itu. Kasih yang membuat Dia memberi diri-Nya sendiri untuk menggantikan tempat saya dan saudara di Kayu Salib, untuk membayar hutang dosa dan menuntaskan segala perkara bahkan maut sekalipun. Tuntas... tidak ada yang terlewati dan tidak ada yang terlupakan...

Dan hal ini hendaknya menjadi kekuatan dan kebanggaan bagi semua kita umat tebusan Nya, tidak ada lagi yang dapat "menuduh" kita, tidak ada lagi yang dapat "mengintimidasi" kita...karena kita sudah bebas oleh darah dan kematian Tuhan yesus di Kayu Salib.

Ada suatu paradoks yang sangat menarik dari peristiwa substitusi di Kayu Salib ini. Yaitu dimana Tuhan Yesus memberikan kebebasan (kemerdekaan) bagi kita.. justru ketika kita dengan rela memberikan diri kita menghamba/terikat pada anugerah keselamatan-Nya dalam Iman kepada Yesus Kristus. Sesuatu yang aneh menurut pikiran dunia ini, tapi itulah yang TUHAN buat dan kerjakan bagi kita umat ciptaan Nya. Memberi diri terikat untuk menjadi merdeka !!

Dan pertanyaan bagi diri kita sendiri adalah : "apakah kita mau memberi diri kita terikat pada Yesus, untuk menjadi seorang yang merdeka seutuhnya ?"

MARINI SIAHAAN, SE., MTh

Marini Siahaan seorang konselor, dipakai Tuhan dalam banyak kegiatan kerohanian, aktif di MATAHATI.TV memimpin rubrik PEREMPUAN BICARA dan juga sebagai host, pembicara tetap untuk topik-topik tentang perempuan di Alkitab.

Kemerdekaan yang Tuhan berikan bagi kita dengan menjadi ganti diri kita di Kayu Salib, adalah kemerdekaan yang abadi, berkuasa dan penuh dengan janji yang mulia. Dan melalui pengorbanan Kristus, kita diajak untuk memperdalam iman kita, memperbaiki kesalahan kita, dan memaafkan orang lain sebagaimana Tuhan telah mengampuni kita. Ini adalah saat yang tepat bagi kita untuk merenungkan cara kita dapat menjadi lebih baik sebagai orang Kristen dan melayani sesama dengan kasih.

Kematian bukanlah akhir dari Inilah pesan yang harus kita sampaikan kepada dunia: bahwa dalam setiap kesulitan dan penderitaan, ada harapan yang terletak dalam iman kepada-Nya yang telah bangkit.

Akhirnya, Jumat Agung adalah gambaran KASIH Tuhan yang sempurna itu. Melalui kata-kata dan tindakan kita, mari kita menjadi saksi bagi kasih dan kekuatan Allah yang telah memenangkan kematian dan dosa. Semoga kita dapat menjalani hidup yang tercerahkan oleh kehadiran Kristus dalam segala aspek kehidupan kita, dan membawa cahaya dan harapan kepada mereka yang membutuhkannya. Tuhan Yesus Memberkati.

(Penulis: Marini Siahaan, SE., MTh, Host Matahati.TV)


Selasa, 19 Maret 2024

DOKUMEN PELAYANAN

keluarga memang selalu menarik untuk dibicarakan, terlebih aktifitas yang menyertainya. dalam beberapa dokumen dibawah ini tersimpan foto keluarga dalam beberapa peristiwa. semoga dapat bermanfaat.


bersama istri pada pernikahan sahabat kami Alm Nelson dan Alm Novi, dua sahabat kami ini berkenalan dan kemudian menikah. sebagai keluarga The Papas Vocal Band kami mendukungnya sepenuh hati dan pada akhirnya keduanya telah lebih dulu dipanggil Tuhan Yesus



melayani pernikahan di Gereja Protestan Indonesia Luwu (GPIL), kedua penganting adalah warga jemaat GPIL yang laki-laki suku toraja (Sulsel) dan perempuan suku karo (Sumut). dilayani di gereja yang baru saja selesai kami dibangun pada masa menjadi pendeta jemaat di GPIL.




"berdua saja., dulu sampai sekarang"

TAK SEORANG PUN DIABAIKAN (Mawardin Zega)

Kitab Ulangan salah satu kitab Musa yang ditulis sebagai buku terakhir dari lima kitab. Seluruh kitab Musa mulai dari kitab Kejadian sampai kitab Ulangan mengisahkan bagaimana awal alam semesta dan hidup manusia sampai pada terbentuknya bangsa Israel. Kitab Ulangan berisikan amanat perpisahan Musa dimana di dalamnya mengulas kembali dan memperbaharui perjanjian Allah dengan Isreal untuk angkatan Isreal yang baru.

Menarik untuk direnungkan firman Tuhan dari kitab Ulangan 6:6-7 “Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun”. Teks ini ada perintah Tuhan kepada bangsa Israel untuk mempercakapkan, membicarakan secara berkesinambungan tentang Tuhan dan kekuasaanNya yang dasyat dan luar biasa yang dialami manusia dan khususnya bangsa Israel dan yang harus mereka ingat selamanya bagaimana Tuhan sudah menolong mereka.


"melayani ibadah raya"

Dalam kaitan mengingat pertolongan Tuhan bangsa Isreal dapat belajar dari beberapa peristiwa diantaranya 10 tulah yang terjadi di Mesir, tetapi tanah Goshen tempat kediaman bangsa Israel yang berbatasan dengan Mesir tidak terlulahi. Peristiwa terbelahnya laut Taberaum yang membawa keselamatan bagi Israel, tetapi membawa kemusnahan dan kematian bagi serdadu Mesir yang mengejar mereka. Ada peristiwa dahsyat selama dalam perjalanan di gurun pasir yaitu keberadaan tiang awan di siang hari melindungi mereka dari terik panas dan tiang api di malam hari yang melindungi mereka dari udara yang dingin. Peristiwa di Masa dan Meriba ada air yang mengalir dari dalam batu ketika mereka kehausan dan meminta air dari Tuhan. Peristiwa datangnya burung puyuh dan manna setiap pagi ketika meminta roti dan daging untuk dimakan. Kemenangan dalam peperangan melawan bangsa-bangsa sekitarnya diantaranya bangsa Amori, Amalek, Moab dan Midian dan sederet peristiwa lainnya yang terjadi sepanjang perjalanan dari Mesir. Marilah kita merenungkan makna dari bacaan kita.

Pertama, apa yang diperintahkan Tuhan Allah untuk bangsa Israel sebagaimana dalam bacaan kita? Jawabannya adalah mengajarkan dan membicarakan suatu keberhasilan dan sebab-sebab keberhasilan itu dapat dicapai. Keberhasilan bangsa Israel ke luar dari tanah Mesir sampai pada suatu tempat di tepi sungai Yordan dan mereka segera menyeberang untuk menduduki tanah Kanaan. Keberhasilan itu hanya satu sebabnya karena Tuhan menuntun mereka.

Kitab Ulangan 32:7 “Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perha-tikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayahmu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka mengatakannya kepadamu”. Dalam teks ini ada hal yang harus dingat, peristiwa masa lalu jangan sampai dilupakan. Kita harus mengingat sesuatu tentang banyak hal yang pernah terjadi termasuk sebab-sebab dari peristiwa keberhasilan itu terjadi.

Sebab dalam suatu peristiwa banyak orang telah mengambil bagian dan tak seorangpun dapat diabaikan. Keberhasilan dapat dicapai bukan hanya karena satu faktor, tapi beberapa faktor lainnya yang mendukung keberhasilan itu. Seberapa kecilpun dukungan merupakan berkat Tuhan yang diizinkan terjadi dan diberikan untuk membuka jalan mencapai sukses, yang paling penting di dalamnya adalah peristiwa itu ada Tuhan dan diizinkan terjadi sebagai sebuah catatan sejarah bagi tiap-tiap orang.

Karena itu jangan pernah lupa sejarah, jangan lupa pada peristiwa masa lalu dan yang terpenting jangan juga larut dalam peristiwa masa lalu itu sehingga dirimu tenggelam di dalamnya. Ingatlah selalu dari pengalaman masa lalu, kita belajar sesuatu yang tidak perlu lagi kita ulangi peristiwa itu terjadi kembali sebagai pembelajaran.

Kedua, sesuatu yang baik dan benar hendaklah berkelanjutan. Belajar dari pengalaman, banyak orang sukses tidak lagi membutuhkan penunjangnya yang bersama mereka ketika mereka memulai sesuatu itu. Banyak yang lupa pada orang-orang yang menopang tangannya pada saat-saat sulit yang sebelumnya. Hal ini terjadi karena sukses yang sudah dicapai itu dianggap sebagai hasil karya sendiri, perjuangan sendiri yang patut dibanggakan. Tetapi firman Tuhan mengatakan sukses itu agar tetap langgeng membutuhkan penasehat-penasehat yang member pertimbangan-pertimbangan. Amsal 20:18 “Rancangan terlaksana oleh pertimbangan, sebab itu berperanglah dengan siasat” dan Amsal 24:6 “Karena hanya dengan perencanaan engkau dapat berperang, dan kemenangan tergantung pada penasihat yang banyak”.

Dalam teks ini menjelaskan kepada kita petimbangan dan siasat adalah dua sisi yang tidak dapat dipisahkan. Pertimbangan perlu agar di dapatkan masukan yang memadai dari banyak orang dan siasat perlu sebagai bentuk strategi dalam menjalankan hasil pertimbangan yang matang dan inilah yang sering disebut keputusan yang bijaksana. Dalam suatu peperangan dibutuhkan banyak orang, bukan hanya semata-mata sebagai orang-orang  yang turut bertempur, tetapi juga mereka-mereka yang mengatur pertempuran itu agar berhasil dengan baik.

Kerena itu janganlah juga kita mengabaikan mereka-mereka yang sudah memberikan nasehat-nasehat, memberikan masukan-masukan, kita perlu mengingat mereka, memberikan apresiasi terhadap yang telah mereka lakukan, memberikan penghargaan dan juga hormat sehingga mereka turut terus mendoakan perjuangan yang masih harus dilakukan dan diperjuangkan.

Ketiga, bersyukur selalu dalam segala hal yang sudah dicapai. Arti kata syukur secara umum adalahberterima kasih kepada yang telah memberikan sesuatu kepada kita. Syukur itu pengakuan terhadap nikmat yang diberikan Tuhan Allah yang disertai dengan ketundukan kepada-Nya dan mempergunakan nikmat tersebut sesuai dengan kehendak Allah.

Mengucap syukur dilakukan agar sukses yang dicapai itu langgeng dan penuh berkat, baik menjadi berkat bagi diri sendiri dan juga akan menjadi berkat bagi banyak orang. Kitab I Tesalonika 5:18 “Mengucap syukurlah dalam segala hal, sebab itulah yang dikehendaki Allah di dalam Kristus Yesus bagi kamu”. Hanya karena kita bisa mengucap sukur kita dapat merasakan bahagia dengan apa yang sudah kita peroleh. Tidak ada hukum lain yang datangkan damai sejahtera selain mengucap syukur. Tuhan Yesus memberkati. (Pdt. Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Khusus, 16 Maret 2024).

Jumat, 15 Maret 2024

Tentang Putus Asa (Mawardin Zega)

TENTANG PUTUS ASA


Mengakhiri perjalanan hidup di dunia yang fana dan memulai hidup baru di dunia orang mati, harusnya itu adalah hak Ilahi, sang pencipta tubuh yang pada awalnya berasal dari debu tanah. Tak seorangpun dapat mengambilnya, juga termasuk untuk dirinya sendiri jika iapun mau. Dan ketika seseorang menamatkan kisahnya di dunia, menyelesaikan seluruh cerita tentang hidupnya melalui jalan senyap yaitu bunuh diri, orang terperangah dan berkata dengan tanda tanya yang dalam sedemikian rumitkah hidup orang itu sampai ia harus menamatkan riwayatnya tanpa persetujuan sang Ilahi?



Ega Mawardin

Menurut pakar kejiwaan sebagai sebuah pendapat saja, penyebab utama orang bunuh diri adalah keputus’asaan. Seseorang merasa putus asa karena berbagai persoalan hidup yang mendera dan seakan tidak lagi menemukan jalan ke luar dari persoalan hidupnya itu. Entah itu karena sakit yang tidak kunjung sembuh, bisnis yang terus merugi, menganggur dalam waktu lama, kesepian, keinginan yang tak terkabul dan banyak faktor lain yang tidak dapat dijawab yang bersangkutan itu sendiri. Beban kejiwaan yang menghimpit itu dan tiadanya teman untuk berbagi menghasilkan keputus’asaan yang tak lagi dapat ditanggung hati yang lemah dan itu menyebabkan seseorang mengambil keputusan senyap untuk mengakhiri seluruh riwayat dan cerita tentang hidupnya dengan bunuh diri.

Itulah sebabnya dalam Kitab segala kitab dalam suatu masa sebelum masehi, seorang pemazmur menulis: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan mengapa engkau gelisah di dalam diriku?” Penulis yang bermazmur itu adalah seorang raja besar pada zamannya, sepertinya ia berada dalam keadaan tertekan menanggung beban dan ia dihantui rasa gelisah yang sangat. Sesungguhnya sang raja sedang dalam kondisi kejiwaan yang terguncang masuk dalam keputus’asaan yang sangat, walaupun pada akhirnya ia dapat ke luar dari kondisi itu. Sesungguhnya situasi tertekan dan gelisah yang dialami adalah jalan awal dalam keputus’asaan.

Kata putus asa menurut kamu bebas bahasa Indonesia dapat diartikan dengan keadaan yang tidak ada harapan atau sia-sia, bingung sekali, sangat kusut dan terganggu pikirannya. Dari arti kata dapat disimpulkan jika seseorang putus asa maka yang terjadi adalah orang itu kehilangan pengharapan dan kemampuan akal sehatnya untuk ke luar dari persoalan yang dihadapinya. Dan saat seperti itulah terbersit kata akhir untuk menyelesaikan seluruh riwa- yatnya di dunia yang fana ini dengan jalan pintas bunh diri.

Ketika seorang anak yang masih pelajar harus mengakhiri kisah hidupnya hanya karena tidak memi- liki hape android, atau ada seorang remaja yang mengantung dirinya karena cintanya ditolak orang yang ia sukai atau sepasang kekasih menyelesaikan perjalanan hidup di dunia yang fana karena orang tua tidak merestui cinta yang indah miliknya, sesungguhnya itu diawali oleh rasa tertekan dan gelisah dan berkembang menjadi keputus’asaan yang sangat dan seterusnya menjadi jalan buntu untuk hidup dan karena tidak mampu untuk berbagi cerita dengan orang yang lain pada akhir- nya menamatkan riwayat hidupnya sampai disitu.

Itulah sebabnya dalam Kitab segala kitab, pada zaman dahulu kala ketika para pujangga Yahudi memberi nasihat kepada bangsanya untuk bertahan dalam segala tekanan dan ke luar dari segala kegelisahan agar hidup ini dapat dinikmati. Kalau kita mengutip kalimat dalam Kitab segala kitab, dari tulisan seorang pujangga besar bernama Yesaya bangsa Izara- eli dari keturunan Yahudi di negeri berlimpah susu dan madu pernah menulis syair indah bunyinya: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya”. Sungguh, syair ini mengingatkan sesungguhnya hidup itu masih ada harapan ada pengharapan dari Dia pemilik seluruh hidup.

Buluh yang patah terkulai itu, masih ada harapan untuk hidup kembali dan bertumbuh. Sumbu yang pudar nyalanya masih ada harapan untuk tetap bersinar menerangi sekeliling. Karenanya percayalah bahwa keputus’asaanmu, kegelisahanmu sekalipun, tak akan membuat engkau tekapar kalah dalam perjuangan ini. Hidup ini untuk diperjuangkan dan bukan untuk disesali.

(Penulis: Ega Mawardin)

DIA Menegur (Mawardin Zega)

 

DIA MENEGUR, sebuah renungan

Topik ini disampaikan pada ibadah siswa di SMK Negeri 1 Gunungsitoli pada hari Jumat, tanggal 1 Maret 2024. Dalam kesempatan ibadah yang dihadiri sekitar 300 siswa lebih khusus kelas 10 (sepuluh). sebelumnya pernah juga di kelas 11 dan di kelas 12 pada minggu-minggu sebelumnya. Sebagai landasan firman Tuhan dikutip dari kitab Amsal 28:23 "Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi dari pada orang yang menjilat", dan disampaikan oleh Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th., dari Gereja Bethany Indonesia Gunungsitoli.



bersama siswa/i kelas 10 smk n 1 gusit


di depan panji-panji smk n 1 gusit

Sebuah teguran yang keras biasanya akan membekas dihati. Ada kalanya teguran itu menyakitkan dan membuahkan air mata yang jatuh berderai, kadang juga menghasilkan sesak di dada dan dapat menimbulkan sesak nafas, juga dapat menimbulkan sakit hati dan bahkan terluka, bisa juga menimbulkan marah, ada rasa kesal berkempajangan, ada rasa benci, dan ingin membalas dendam dan banyak hal lainnya yang bisa terjadi hanya karena teguran yang dilontarkan. Kadang kala juga teguran itu menyenangkan hati yang menerimanya bahkan menghasilkan sukacita yang membuat ia menjadi makin baik, ada rasa bahagia, juga senang dan sukacita, ada juga habis di tegur malah semakin akrab dengan yang menegurnya, makin cinta dan lain sebagainya. Semua ini tergantung hati yang menerima teguran itu.

Bagian ini adalah referensi Alkitab tentang teguran; pertama: Wahyu 3:19 “Barangsiapa Kukasihi, ia Kutegor dan Kuhajar; sebab itu relakanlah hatimu dan bertobatlah!”. Kata kunci adalah kerelaan hati untuk mau menerima teguran dan diikuti dengan mau bertobat. Kalau Tuhan menegur hati kita harus rela dan siap untuk menyesali dosa dan bertobat dan kedua: Amsal  6:23 “Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan”. Dalam kaitan ini bisa saja teguran itu menjadi: pelita atau cahaya atau jalan kehidupan yang pada akhirnya membawa kita makin baik dan dewasa.

Harus diingat bahwa teguran itu ibarat tungku api untuk memurnikan dan menghaluskan, tetapi tidak untuk menghabiskan dan menghancurkan. Maka janganlah kita berduka dan bersedih hati karena dalam hidup ini kita tidak lepas dari kekecewaan dan kesusahan. Teguran itu betapapun sakitnya, ia akan membawa kita kepada pertobatan dan jalan kehidupan.

Sukses untuk siswa-siswi kami kelas 10 SMK Negeri 1 Gunungsitoli. (by Mawardin Zega)

Menjadi Berhasil Di Masa Depan (Mawardin Zega)

Belajar firman Tuhan, tema hari ini: “Menjadi Berhasil Di Masa Depan”. Bacaan Alkitab kitab I Raja-raja 2:3 “Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN, Allahmu, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya, dan dengan tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan-Nya, seperti yang tertulis dalam hukum Musa, supaya engkau beruntung dalam segala yang kaulakukan dan dalam segala yang kautuju”.

Kisah ini sebuah pesan dari Daud raja Israel menjelang hari kematiannya yang disampaikannya pada anaknya Salomo sebelum diangkat menjadi raja. Dalam catatan sejarah Daud seorang raja yang diurapi Tuhan. Daud sebelumnya orang biasa dan tidak memiliki sesuatu yang istimewa selain tugasnya menjadi gembala ternak yang baik. Perjalanan hidupnya Daud percaya dan beriman kepada Tuhan dan karena itulah ia memenangkan banyak sekali pertempuran diantaranya kisah fenomenal ketika mengalahkan Goliath pahlawan orang Filistin.

Salomo adalah orang muda belum berpengalaman, karena ia bergaul erat dengan ayahnya yang seorang pahlawan sejati dan juga seorang raja serta teguh dalam beriman, maka secara tidak langsung Salomo belajar dan menerima didikan yang baik, ajaran yang benar dan hikmad dari Tuhan dalam memimpin kerajaan Israel sebagai raja yang ketiga. Sebagai seorang anak raja, seorang muda tentu Salomo sedia memberi dirinya dididik, diajar, dinasehati  agar ia menjadi berhasil di masa depan.


"sebagian dari mereka yang pamitan"

Demikian juga semua kita yang hadir pada hari ini, terlebih bagi remaja usia muda SMK Negeri 2 Gunungsitoli dan sudah kelas akhir, di kelas 12, dan orang tua kami dari anak-anak yang segera akan mengakhiri kegiatan sekolahnya, menyelesaikan studinya tentu dengan harapan baik dan memuaskan. Kita belajar dari raja Salomo yang dengan teguh memegang nasehat dari ayahnya Daud untuk sepenuhnya menjadikan Tuhan Allah sebagai sumber hikmad untuk masa depannya.

Belajar dari kitab 1 Raja-raja 2:3 tentang nasehat Daud kepada Salomo dan menjadi pembelajaran bagi kita sebagai nasehat Tuhan untuk kita semua pada hari ini, terlebih bagi anak-anak muda, para siswa yang segera akan mengakhiri studi di tempat ini, mari sendengkan telinga dan memberi perhatian untuk mendengar.

Pertama, Daud mengatakan kepada Salomo; Lakukanlah kewajibanmu dengan setia terhadap TUHAN Allahmu; ini sebuah pernyataan yang menuntut kepatuhan kepada Tuhan Allah sebagai kewajiban yang pasti. Untuk menjalankan kepatuhan itu, Salomo harus belajar mengenal Tuhan dengan benar sehingga dapat meminta hikmad kepada Tuhan yang benar itu. Amsal 1:7 “Takut akan TUHAN adalah permulaan pengetahuan, tetapi orang bodoh menghina hikmat dan didikan”. Salomo sekalipun ia masih muda, tetapi setelah menjadi raja ia mengajukan permohonan memohon hikmad kepada Tuhan yaitu pengetahuan tentang Allah, hikmad dalam bertindak bijaksana dan Tuhan menganggap permintanyanya itu baik, Salomo menerima lebih dari yang dibutuhkannya (1 Raja-raja 3:9-10).

Karena itu bagi kita hari ini yang utama adalah bagaimana mengenal Tuhan dengan benar. Tuhan dalam Yesus Kristus sebagai juru slamat kita. Pengenalan kita akan Tuhan adalah sebuah pengetahuan yang kita peroleh dengan belajar yang benar dan tekun sehingga kita mengenal yang kita pelajari itu dengan baik dan benar. Mengenal itu ibarat mempelajari sesuatu membutuhkan ketekunan dalam belajar, ibarat kalau mau lulus, maka belajar dengan tekun dan benar tentang yang kita pelajari itu. Guru dan orang tua adalah pembimbing yang baik dan benar sehingga pengetahuan kita menadi benar. Demikian juga dengan Tuhan Allah, Yesus Kristus sang juruslamat, Firman Tuhan mengatakan takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan, permulaan hikmat. Kata takut diartikan sebagai belajar dengan tekun dan belajar dengan benar sehingga mengenal Tuhan itu dengan benar juga. 


"mereka yang mengambil bagian dalammkegiatan"
   

Kedua, Daud menasehatkan hal penting pada Salomo yaitu tetap mengikuti segala ketetapan, perintah, peraturan dan ketentuan yaitu apa yang Tuhan gariskan sebagai pedoman dalam mengerjakan keselamatan agar berhasil dimasa kini dan masa depan. Hal ini penting sebab ketetapan, perintah, peraturan, ketentuan dari Tuhan adalah penuntun kepada jalan kebenaran dan hidup. Itulah sebabnya kepatuhan pada ketentuan dan perintah itu sebuah didikan yang harusnya dan wajib diikuti dan bukan dilalaikan. Amsal 1:8-9 “Hai anakku, dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu sebab karangan bunga yang indah itu bagi kepalamu, dan suatu kalung bagi lehermu”.

Teks ini memberikan pengetahuan dan mengajarkan kepada kita tentang sikap seorang anak terhadap ayah dan ibunya dan gurunya, agar berhasil dalam hidupnya. Dengarkanlah didikan ayahmu, dan jangan menyia-nyiakan ajaran ibumu, ini bicara tentang rasa hormat kepada orang tua. Kalau menghormati orang tuamu atau guru maka tentu engkau mendengar didikannya, melakukan ajarannya sebagai penuntun dalam hidup yang berhasil. Tidak ada seorangpun orang tua ingin anaknya gagal, tidak ada seorangpun guru ingin siswanya tidak berhasil, semua ingin berhasil, tetapi itu sia-sia jika anak atau siswa itu lalai dalam mendengar nasehat orangtuanya, didikan ayahnya, ajaran ibunya. Sebab didikan itu harusnya sebagai mahkota yang indah di kepala dijaga dan dipelihara. Ajaran itu bagaikan mutiara yang tergantung di leher sebagai kalung diperhatikan dengan baik agar tetap ada ditempatnya, tidak terbuang atau terhilang. Karena itulah hormati orang tuamu, ayah dan ibumu dan gurumu dan semua yang diajarkannnya agar berhasil hidupmu dimasa depan.

Ketiga, Daud memesankan agar Salomo hidup menurut jalan yang ditunjukkan Tuhan. Jalan yang ditunjukan Tuhan itu jelas, sebab Yesus berkata: Aku adalah jalan kebenaran dan hidup, tidak ada seorangpun sampai kepada Bapa kalau tidak melalui Aku (Yoh.14:6). Jalan kita hendaknya jalan yang lurus kepada terang yaitu Yesus, sebab banyak di dunia ini jalan berliku-liku dan jalan buntu. Pergaulan kita menentukan jalan yang kita tempuh, pergaulan kita menentukan masa depan yang kita raih. Paulus menulis: I Korintus 15:33 “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik”.

Kata sesat adalah berkaitan dengan jalan yang ditempuh. Pergaulan kita berkaitan dengan jalan yang menjadi pilihan kita. Sebab itu jagalah pergaulanmu agar hidupmu berkenan kepada Tuhan, tanpa pergaulan yang intim dengan Tuhan tidak ada masa depan yang cerah. Salah satu menjaga keintiman dengan Tuhan memperkatakan firman Tuhan dan merenungkannya siang dan malam (Yosua 1:8).

Akhir kata kami pesankan pada anak-anak kami, kenanglah orang tuamu dan cintailah mereka, sebab berkat Tuhan, kesuksesan ada dalam doa mereka yang menyertaimu kemanapun engkau pergi. Kenanglah guru-gurumu yang telah mendidik engkau dengan susah payah membekali engkau menapak masa depan penuh harapan, sebab guru-gurumulah yang memberikan engkau pengetahuan dasar sebagai awal sukses masa yang akan datang.

Pada akhirnya, kelak setelah engkau berhasil dalam hidup ini kembalilah ke sekolahmu di SMK Negeri 2 Kota Gunungsitoli, lihatlah, sekedar menyemangati guru-gurumu yang masih berumur panjang dan mengabdi tanpa tanda jasa apapun untukmu dan untuk generasi berikutnya. Tuhan Yesus memberkati. (disampaikan para ibadah pamitan SMKN2, 9 Maret 2024)

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...