Rabu, 01 Mei 2024

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai ikut Tuhan Yesus lebih sungguh, banyak orang yang memperhatikan (menilainilai) hidup kita. Jika karakter kita tidak baik, mereka akan mengomentari bahwa kita ikut Tuhan namun karakter kita masih belum berubah (bertobat). Tetapi bila karakter kita menjadi baik, mereka akan mengatakan bahwa sejak ikut Tuhan, kita menjadi orang yang lebih baik dan layak dijadikan teladan. Sebagai pengikut Tuhan Yesus (kristen), kita mempunyai tanggung jawab akan keteladanan hidup, supaya melalui hidup kita orang-orang yang belum bertobat menjadi bertobat dan menerima Tuhan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat mereka. Pada makalah ini dibahas beberapa tanggung jawab kita sebagai pengikut Tuhan Yesus, yaitu:

Ibadah Gereja Bethany Gunungsitoli, 28 April 2024

1. Menjadi pelaku firman Tuhan.

Matius 7:24-27 "Setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan melakukannya, ia sama dengan orang yang bijaksana, yang mendirikan rumahnya di atas batu. (25) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, tetapi rumah itu tidak rubuh sebab didirikan di atas batu. (26) Tetapi setiap orang yang mendengar perkataan-Ku ini dan tidak melakukannya, ia sama dengan orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir. (27) Kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya."

Membaca Alkitab setiap hari adalah tindakan iman yang sangat baik, tetapi tidak cukup sampai di situ, karena kita harus melakukan firman Tuhan dalam hidup kita sehari-hari. Melakukan firman Tuhan memang tidak semudah membaca firman Tuhan, contoh: Tuhan menghendaki agar kita mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kita, tetapi seringkali kita kesulitan mengampuni kesalahan orang lain terhadap kita. Padahal kita sebagai pengikut Tuhan Yesus harus menjadi pelaku firman Tuhan, termasuk dalam hal mengampuni, meskipun terasa berat. Percayalah bahwa jika kita sudah mengambil keputusan menjadi pelaku firman Tuhan, maka Tuhan akan memampukan kita untuk bisa mengampuni orang yang bersalah kepada kita.

Bila kita menjadi pelaku firman Tuhan, kehidupan kita akan menjadi teladan bagi orang lain, sehingga memberikan dampak yang baik bagi banyak orang.

Marilah kita mengambil keputusan untuk menjadi pelaku firman Tuhan senantiasa supaya nama Tuhan dipermuliakan melalui hidup kita.

 

2. Membangun hubungan yang indah dengan Roh Kudus.

Yohanes 14:16 Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya, (17) yaitu Roh Kebenaran. Dunia tidak dapat menerima Dia, sebab dunia tidak melihat Dia dan tidak mengenal Dia. Tetapi kamu mengenal Dia, sebab Ia menyertai kamu dan akan diam di dalam kamu.

1 Korintus 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

Kita harus percaya bahwa setiap orang yang beriman kepada Tuhan Yesus, di dalam dirinya ada Roh Kudus, sebab tidak ada seorang pun yang bisa mengaku Yesus adalah Tuhan tanpa pertolongan Roh Kudus. Kalau kita benar-benar sadar bahwa di dalam diri kita ada Roh Kudus,

maka kita seharusnya menjaga diri agar tidak mendukakan Roh Kudus. Namun kebanyakan orang kristen kurang tahu atau bahkan tidak tahu bahwa di dalam dirinya ada Roh Kudus. Roh Kudus adalah Allah sendiri. Roh Kudus dapat berbicara dalam kehidupan kita, menolong, menghibur, mengajar dan memimpin kita pada kebenaran. Oleh karena itu, setiap kita pengikut Tuhan Yesus mempunyai tanggung jawab untuk menjalin hubungan yang indah dengan Roh Kudus supaya hidup kita berkenan di hadapan Tuhan.

Tanpa pertolongan Roh Kudus maka orang-orang yang melayani Tuhan tidak akan berhasil dalam pelayanannya. Kita harus benar-benar mengandalkan pimpinan Roh Kudus supaya apa yang kita lakukan benar-benar menjadi berkat bagi banyak orang dan nama Tuhan Yesus semakin dipermuliakan.

 

3. Mengerti dan melakukan kehendak Bapa.

Matius 7:21 Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan! akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di sorga. (22) Pada hari terakhir banyak orang akan berseru kepada-Ku: Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, dan mengusir setan demi nama-Mu, dan mengadakan banyak mujizat demi nama-Mu juga? (23) Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan!"

Matius 12:50 Sebab siapa pun yang melakukan kehendak Bapa-Ku di sorga, dialah saudara-Ku laki-laki, dialah saudara-Ku perempuan, dialah ibu-Ku."

Bila kita bersekutu dengan Roh Kudus, kita akan tahu kehendak Bapa. Apa yang disampaikan Roh Kudus harus kita lakukan, sebab itulah yang dikehendaki Tuhan dan menyenangkan hati Tuhan. Kita harus ingat bahwa Roh Kudus tidak mungkin bertentangan dengan firman Tuhan.

Kita sangat membutuhkan pimpinan Roh Kudus, misal: saat kita mau menyanyikan pujian bagi Tuhan, kita tidak tahu pujian mana yang menyenangkan hati Tuhan saat itu, tetapi Roh Kudus memberitahukan kepada kita dan bila kita melakukannya maka pujian kita benar-benar menyenangkan hati Bapa.


Kesimpulan: Beberapa tanggung jawab kita sebagai pengikut Tuhan Yesus, yaitu: menjadi pelaku firman Tuhan, membangun hubungan yang indah dengan Roh Kudus serta mengerti dan melakukan kehendak Bapa.

Ayat hafalan: 1 Korintus 3:16 Tidak tahukah kamu, bahwa kamu adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah diam di dalam kamu?

Bahan Shering firman Tuhan pada kegiatan Ibadah Family Altar Gereja Bethany Gunungsitoli, edisi 2 mei 2024. (Pdt. Mawardin Zega, MT.h., MED) 

Rabu, 24 April 2024

TANGGUNG JAWAB ORANG TUA (SHERING FA BETHANY)

 Makalah ini adalah bahan Penelaah Alkitab pada Ibadah Family Altar Gereja Bethany Indonesia Gunungsitoli pada Kamis, 4 April 2024. Dipaparkan pada XIII sector kegiatan ibadah di Kota Gunungsitoli.

Orang tua sangat menentukan kehidupan dari generasi muda. Bila orang tua tidak memberikan teladan yang baik, maka akan menghasilkan generasi muda yang rusak. Oleh karena itu, peranan orang tua sangat penting untuk melahirkan generasi muda yang bisa dibanggakan. Kalau kita selidiki, sebagian besar generasi muda yang rusak berasal dari keluarga yang hancur (orang tua tidak memberikan teladan yang baik). Keluarga yang harmonis akan menghasilkan generasi muda yang dapat dibanggakan. Kalau orang tua mendidik anak-anaknya dengan benar, khususnya membawa anak anak untuk mengenal Tuhan dan firman-Nya, maka anak-anak akan bertumbuh menjadi orang-orang yang berhasil dan memuliakan nama Tuhan.

Landasan Alkitab: Amsal 22:6 “Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu.” Melalui makalah ini, kita akan membahas beberapa hal yang harus dilakukan oleh orang tua supaya anak-anaknya menjadi generasi muda yang dapat dibanggakan dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan.

 

MENGASIHI ANAK-ANAK.

Kolose 3:21 Hai bapa-bapa, janganlah sakiti hati anakmu, supaya jangan tawar hatinya.,  Amsal 13:24 Siapa tidak menggunakan tongkat, benci kepada anaknya; tetapi siapa mengasihi anaknya, menghajar dia pada waktunya. 1 Yohanes 4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya. (21) Dan perintah ini kita terima dari Dia: Barangsiapa mengasihi Allah, ia harus juga mengasihi saudaranya.

Banyak orang tua yang karena mau mengasihi anak-anaknya, memperlakukan anak-anaknya secara berlebihan sehingga menjadi anak-anak yang manja. Ada orang tua yang tidak berani menghajar anaknya bila melakukan kesalahan sehingga anak-anak tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Padahal menurut ayat di atas, kalau kita mengasihi anak kita, kita harus berani menghajar anak pada waktunya. Tetapi kita harus ingat bahwa hajaran yang kita berikan bukan untuk menyakitinya, melainkan untuk menyadarkannya jika perbuatannya salah. Hal ini biasanya dilakukan pada anak-anak yang masih kecil yang masih sulit untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi anak yang sudah besar (pemuda) yang sudah bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah, alangkah baiknya bila tidak menggunakan kekerasan, melainkan melalui pendekatan dengan menasehati anak tersebut.

Saling mengampuni harus dipupuk dalam kehidupan keluarga supaya kasih Tuhan Yesus dinyatakan dalam keluarga kita. Orang tua harus memberikan teladan tentang mau meminta maaf bila melakukan kesalahan kepada anak-anaknya, demikian juga anak-anak harus berani meminta maaf bila melakukan kesalahan, sehingga sikap saling mengampuni terjadi dalam keluarga. Marilah kita mengasihi anak-anak kita dengan benar supaya mereka bertumbuh menjadi generasi muda yang dibanggakan dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan Yesus.

 

MENDIDIK DAN MENGAJARKAN ANAK-ANAK KEBENARAN FIRMAN TUHAN.

Amsal 29:17 Didiklah anakmu, maka ia akan memberikan ketenteraman kepadamu, dan mendatangkan sukacita kepadamu., Ulangan 6:6 Apa yang kuperintahkan kepadamu pada hari ini haruslah engkau perhatikan, (7) haruslah engkau mengajarkannya berulang-ulang kepada anak-anakmu dan membicarakannya apabila engkau duduk di rumahmu, apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun.

Mendidik dan mengajar anak-anak dimulai sejak kecil, itu sebabnya ada Sekolah Minggu di Gereja. Meskipun anak-anak belum begitu memahami isi Alkitab tetapi sudah dibiasakan untuk membaca dan mendengarkan firman Tuhan. Orang tua harus mengajarkan firman Tuhan kepada anakanaknya, termasuk dengan menjadi pelaku firman Tuhan. Alangkah pentingnya kalau setiap keluarga mempunyai mezbah keluarga karena dari situ orang tua bisa mengajarkan kebenaran firman Tuhan dan berdiskusi dengan anak-anak.

Didikan kepada anak-anak dapat berhasil dengan baik bila orang tua memberikan teladan yang benar kepada anak-anaknya. Oleh karena itu, jika orang tua melakukan kesalahan, harus segera bertobat dan meminta maaf kepada anak-anaknya supaya tidak timbul akar kepahitan yang dapat merusak hubungan keluarga. Orang tua yang mendidik dan mengajar anak-anaknya dengan benar akan menuai hasilnya di kemudian hari, ada ketentraman dan sukacita.

Kalau kita belum mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anakanak kita, marilah mulai saat ini mengambil komitmen untuk menyediakan waktu mendidik dan mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak supaya anak-anak kita menjadi orang-orang yang hidup benar dan dipakai Tuhan dengan luar biasa.

 

MENDOAKAN ANAK-ANAK.

Filipi 4:6 Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan dengan ucapan syukur., Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Orang tua jangan lupa untuk mendoakan anak-anaknya setiap saat supaya dilindungi Tuhan, karena orang tua tidak bisa menjagai anakanaknya selama 24 jam penuh, hanya Tuhan yang bisa menjagai anakanak kita dari segala mara bahaya, dari kuasa kegelapan, dari perbuatan jahat orang lain, dari kecelakaan, dll.


SUASANA IBADAH GEREJA BETHANY

Orang tua juga harus berdoa supaya anak-anaknya ditolong dan diberkati Tuhan menjadi orang-orang yang berhasil dan membawa kemuliaan bagi nama Tuhan, sebab hanya Tuhan Yesus saja yang mampu mengangkat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Marilah kita untuk tidak jemu-jemu berdoa bagi anak-anak kita dan percayalah bahwa Tuhan Yesus selalu mendengarkan doa-doa kita.

Kesimpulan: Beberapa hal yang orang tua harus lakukan supaya anak-anaknya menjadi generasi muda yang dapat dibanggakan dan memuliakan nama Tuhan Yesus, yaitu mengasihi anak-anak, mendidik dan mengajarkan anak-anak kebenaran firman Tuhan dan mendoakan anak-anak.

(dihimpun oleh Pdt. Mawardin Zega, M.Th)

Kamis, 18 April 2024

sketsa MENJADI LUPA

Pernahkah ketinggalan sesuatu yang harusnya dibawa ketika bepergian, sekalipun sudah disiapkan sebelumnya? Atau pada suatu waktu merasakan tidak menyampaikan suatu pesan titipan teman pada seseorang yang wanti-wanti dipesankan untuk disampaikan ketika bertemu? Ataukah ketika membeli beberapa barang ada saja yang tertinggal dan atau tidak jadi dibeli tanpa tahu sebabnya? Ini semua boleh jadi karena kita lupa atau terlupakan.

Kamus bahasa Indonesia menyebutkan lupa ialah hilangnya kemampuan untuk mengung-kapkan kembali informasi yang telah kita terima atau yang sudah kita pelajari, atau dengan kata lain lupa merupakan ketidakmampuan menge-nal dan atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami sebelumnya.



Lupa yang dialami seseorang terjadi karena beberapa alasan dimulai dari tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, kelelahan, stres, pola hidup tidak sehat, penuaan, cedera otak hingga mengalami kondisi medis seperti alzheimer dan atau demensia. Lupa dapat disebab-kan adanya intervensi dalam proses mengingat sehingga yang sedang diingat berantakan atau terhilang dari ingatan.

Karena lupa ini merupakan kata kerja, maka keadaannya sering dilupakan. Itulah sebabnya kita sering mengalami atau terulangnya hal-hal yang sama pada diri kita karena kita sering lupa pada pengalaman kita atau pengalaman orang lain tentang sesuatu hal. Akibatnya kita meng-ulangi lagi hal yang sama yang harusnya kita dapat antisipati untuk tidak terulang.

Demikian juga dalam hal berbangsa dan ber-negara, peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya jangan sampai dilupakan ataupun terlupakan begitu saja agar peristiwa yang pernah menjadi pengalaman buruk dalam seja-rah berbangsa dan bernegara tidak terulang kembali. Itulah sebabnya Presiden Ir Sukarno pada pidatonya yang terakhir hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 mengingatkan rakyat Indonesia untuk jangan sekali-kali meningalkan sejarah dan pidato ini akhirnya dikenal dengan semboyan Jasmerah.

Seorang tokoh besar pada zamannya bernama Moses menulis dalam kitab segala kitab meng-ingatkan bangsa Isarel mengingat peristiwa ke-luarnya mereka dari dapur perbudakan di Mesir.

Kitab segala kitab menulis: Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayah-mu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka menga-takannya kepadamu (Ulangan 32:7). Kewajiban mengingat atau tidak lupa merupakan perintah Tuhan sebagai suatu pembelajaran bagi masa kini dan masa depan.

Menjadi lupa adalah suatu keadaan yang perlu dihindari. Apa yang kini sedang dialami oleh kita bangsa Indonesia dengan mudah lupa pada pe-ristiwa sejarah, pada reformasi yang digulirkan 24 tahun silam hampir terlupakan dalam benak dan kini kalau kita biarkan reformasi itu jalan sendiri maka tidak mustahil ia akan kemabali pada keadaan seperti pada waktu reformasi itu diperjuangkan. Tepatlah yang dipidatokan Presiden Sukarno akan jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

3

(Penulis: Ega Mawardin II Pemred)  

KEMATIAN DAN KEBANGKITAN KRISTUS ADALAH PENGHARAPAN KITA

Jumat Agung kita belajar pada jalan salib yang ditempuh Yesus, mengosongkan diriNya sebagai Anak Allah dan mau mati sebagai korban sembelihan. Yesus menghilangkan kesetaraanNya dengan Allah dan tunduk pada jalan derita. Paskah Yesus menyatakan diriNya yang kuasa melampauhi segala akal, Yesus bangkit dari antara orang mati. Dan melalui bacaan Alkitab I Petrus 1:3-6 kita belajar bahwa memberikan pemahaman kematian dan kebangkitan Yesus menjadi harapan baru.

Pertama, kematian Kristus adalah jalan derita sudah diberitakan sebelumnya. Yesaya 53:3-5 “Ia dihina dan dihindari orang, seorang yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesa-kitan; ia sangat dihina, sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan kese-lamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

Jalan salib bukan jalan yang mudah, dimulai penghiatan orang terdekat Yesus pada perjamuan malam. Seorang murid bernama Yudas Iskariot, sahabat yang dipercaya, kawan dalam perjalanan, teman dalam kebersamaan, berhianat menjual-Nya dengan 30 uang perak. Akibatnya kematian yang menggenaskan, tragis, tergantung di kayu salib sebagai seorang hukuman, dihitung diantara para pemberontak.


Derita Yesus ditulis Yesaya: Yesus dihina, dihindari orang, orang terdekatnya juga menghindar, Simon Petrus muridNya menyangkal Dia dengan sumpah, mengaku tidak mengenal-Nya. Yesus penuh sengsara dan menderita kesakitan, Pontius Pilatus dan para prajurit Romawi tidak berhenti menyesah-Nya sepanjang malam sampai pagi tiba. Betapa derita dan kesakitan itu ditanggungNya, Yesus tidak bicara apa-apa, tubuhNya tidak berbentuk lagi dan penuh lumuran darah, kulitNya terkelupas dan tidak ada tempat yang tidak terluka, demikian buruk tubuh itu sehingga orang menutup mukanya terhadap Yesus.

Jalan salib bukan jalan yang mudah, bukan juga jalan yang ringan. Tidak ada manusia sepanjang sejarah telah disiksa dan dianiaya seperti Yesus, orang lain yang melihatNya berpaling tidak sanggup melihat derita yang Dia alami. Ia raja, nabi, penuh kuasa, orang yang dulu selamatkan banyak orang, membangkitkan orang yang sudah mati, kini dimahkotai dengan mahkota duri, kepalaNya tertusuk, darah menetes membasahi wajahNya. Tetapi Yesus melewati semua itu dengan diam.

Jalan salib bukan jalan yang mudah, bukan jalan yang ringan. Derita terus mendera mencabik-cabik tubuhNya dan banyak orang mengolok-olok Dia, mencabik-cabik hatiNya. Semua itu membuat Dia tidak mampu memilkul salibNya, Ia pun tersungkur di tanah. Orang memapahNya menuju kematianNya di bukit Kalvari. Ia sendirian tanpa teman, tanpa keluarga, tanpa siapa-siapa dan Bapa yang Kuasa yang mengutusNya memikul salib seperti-Nya meninggalkan Dia. Sampai Ia berteriak-teriak Eli Eli Lama Sakbatani, Tuhanku, Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Ia tetap taat dan setia dalam panggilanNya.

Yesaya telah menubuatkan: Yesus yang penuh kesengsaraan itu sesungguhnya mendatangkan keselamatan bagi kita, oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Ada kata ke luar dari mulutNya yang sungguh luar biasa, doa permohonan, terucap dari kayu salib itu: Ampunilah mereka karena tidak tahu apa yang mereka perbuat dan iapun meneruskan doaNya itu dengan mengatakan: kepada-Mu ya Bapa Aku menyerahkan nyawaKu. Itulah kunci sukses Yesus, ketaatan sampai mati, kesetiaannya sampai akhir, buahnya manusia memperoleh keselamatan.

Jalan salib menunggu kita untuk berani masuk dalam sengsara dan derita seperti Yesus alami dan menang. Pergumulanmu, keputusasaan-mu, penderitaanmu, usahamu yang gagal, penyakitmu yang tak sembuh-sembuh, buah kadungan yang tak kunjung datang dan apapun yang kamu alami saat ini, tetaplah setia, tetaplah taat pada imanmu, pastilah kaupun menang seperti Yesus taat dan setia dan Yesus menang.

Kedua, kebangkitan Kristus adalah kemenangan dan harapan akan hidup kekal. I Petrus 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.

Ketika tiba hari Paskah, beberapa orang datang ke kubur Yesus, termasuk Maria Magdalena melihat kubur kosong, Yesus yang disalibkan itu telah bangkit dari antara orang mati. Mula-mula tidak ada yang percaya pada berita kebangkitan itu, Simon Petrus sekalipun ia tidak percaya toh pergi juga melihat kubur yang kosong. Dan terjadilah perubahan pada diri para murid setelah kejadian itu berubahnya ketakutan jadi keberanian, berubahnya kekhawatiran dan kelemahan jadi kekuatan, berubahnya keputusasaan menjadi pengharapan yang baru, Dia Yesus yang telah bangkit meneguhkan kembali iman yang lemah menjadi kuat, karena Dia yang telah mati menjadi hidup kembali.

Paskah-Nya Yesus dan kuasa kebangkitanNya menembus ruang kehidupan setiap orang. Ketika kita gelisah, Tuhan hadir disitu, ketika kita takut, Tuhan hadir disitu, ketika kita bimbang Yesus hadir disitu. Yesus mengubah rasa takut, mengubah rasa gelisah, bimbang menjadi damai sejahtera.

Kehadiran Yesus memperbaharui hidup kita mengalami perubahan meneguhkan iman, meneduhkan jiwa yang gelisah. Kebangkitan Yesus menjadikan bebas dan tidak terkunkung dalam sebuah ruang komunitas maupun pribadi yang terkunci. Yesus sanggup membuat kita melewati semua derita dan sengsara yang sedang alami saat ini. Dan kita keluar menyaksikan kuasa Yesus yang sudah terjadi pada diri kita. Kesaksian kita bentuk penerimaan kita pada kebangkitan yaitu kemerdekaan yang diberikan Yesus untuk kita. Pengalaman perjumpaan pribadi dengan Yesus membuat harapan baru bagi dan bagi orang yang mendengar bahwa kebangkitan adalah harapan baru yang memberi damai.

Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas kehidupan para murid dan berkuasa pada hidup kita. Kehidupan Yesus dari kematian adalah wujud nyata bahwa Dia bersedia dan sanggup menembus hati dan hidup kita sehingga problem, masalah, pergumulan, keputus-asaan, penyakit, sangsara, derita, dapat dilalui seperti Yesus melewati kematianNya di Golgota dan Yesus bangkit dari kematian itu dan itulah harapan kita seperti Yesus melewati persoalan dan kita menang.

Hidup dalam pengharapan adalah hidup bersemangat, bergembira bersama Yesus. Hidup berpengharapan adalah hidup yang menghasilkan karya yang bermanfaat bagi sesama dan berbagi berkat yang telah kita terima dari Tuhan kepada sesama karena hidup yang berpengharapan bersumber dari Yesus yang bangkit untuk kita.

Hidup berpengharapan mengingat Tuhan dari semua berkat yang telah kita terima. Dengan sukur dan rela hati dan tahu yang sudah kita miliki berasal dari Tuhan. Kita tidak perlu kikir, pelit, berhemat dalam mengembalikan pada Tuhan yang menjadi milik Tuhan, persembahan persepuluhan, persembahan khusus yang wajib, persembahan sukarela kita yang kita kembalikan kepada Tuhan.

Janganlah menggemgam dengan erat berkat yang sudah diterima, tetapi lepaskanlah dia, kembalikan kepada Tuhan, imanilah firman Tuhan: tepung dalam tempayanmu dan minyak dalam buli-bulimu, tidak akan berkurang sebab kebangkitanNya sumber berkat, harapan baru.

Tepatlah perkataan Petrus: I Petrus 1:3 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. I Petrus 1:8 Sekalipun kamu belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia, sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang mulia dan yang tidak terkatakan. Iman kita atas kematian dan kebangkitan Yesus hendaknya tidak undur, tetap setia dan taat sampai akhir.

Renungkanlah firman Allah: jalan salib kematian Kristus di Golgota di bukit Kalvari memang harus kita lalui, tetapi kebangkitanNya adalah harapan baru bahwa jalan salib itu sekalipun sakit, sekalipun berat, kita dapat melewatinya dan menang. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Pdt. Mawardin Zega, disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli pada 7 April 2024)

newsleter MATAHATI.TV edisi april 2024

 


halaman sampul newsleter MATAHATI.TV















HIDUP YANG DIPULIHKAN

Roma 8:28 Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.

Perjalanan kehidupan seseorang kerapkali di-warnai berbagai persoalan kehidupan, apalagi ketika seseorang berada dalam kondisi gagal, sakit parah, hidup dalam keluarga yang retak serta berbuat dosa yang memalukan, Alkitab menceritakan bagaimana Simon Petrus yang pernah menyangkal Tuhan Yesus pada akhirnya dipulihkan dengan ditanyai kembali komitmennya untuk mengasihi Yesus lebih dari pada yang lain. Menyangkal tiga kali, ditanyai tiga kali dan Simon menjawab hanya Tuhan yang tahu bagaimana hatinya setelah dijumpai Yesus.

Kisah pertobatan Saulus, semula pembenci dan pembunuh pengikut Kristus, dipulihkan setelah di-cegat Tuhan Yesus di jalan ke Damsyik. Saulus sempat jatuh dari kudanya dan menjadi buta selama tiga hari. Saulus yang kemu-dian bernama Paulus dia dipakai Tuhan menjadi Pemberita Injil yang men-jangkau diluar orang-orang Yahudi.


Segala kehidupan kita dimasa lalu ketika kita menyadari dan mengijin-kan Tuhan bertindak untuk memulihkan kehidupan kita, artinya kita mau diubahkan oleh Tuhan untuk dikembalikan seperti keadaan semula, diperbaiki dari kerusakan.

Paulus dan Simon Petrus adalah orang-orang yang memiliki potensi terpendam dan sangat berharga. Tuhan pulihkan mereka karena potensi rohani itu bisa dipakai kemuliaan Tuhan.

Kalau Anda orang yang berpotensi dengan talenta dan karunia Allah, jangan menolak kalau Tuhan memulihkan hidup Anda untuk dipakai sebagai alat-Nya. Kalau Anda sudah berjalan jauh menyimpang dari jalan Tuhan, jangan menolak jikalau Tuhan memulihkan sekarang.

Namun yang harus kita perhatikan bahwa; Allah tidak pernah bekerja dengan memakai jalan pintas Bagi Allah proses terlebih penting dari pada jawaban doa kita, seringkali kita segalanya mau cepat selesai dan serba instan. Tetapi Tuhan mau agar kita menjalani prosesnya. karena Tuhan tahu kita mampu kalau kita percaya

Allah mau memakai setiap potensi yang kita miliki. Tuhan tidak pernah memberikan yang terbaik kepada orang yang malas dan tidak mau bekerja, jika kita hanya tidur, malas dan bersantai-santai di rumah, Tuhan mau ada usaha yang kuat dan harus kita lakukan.

Pertanyaan kepada siapa sajakah Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan itu? Pertama, kepada orang yang mengasihi Tuhan. Disaat persoalan hidup datang dalam hidup kita; pertama apa yang menjadi respon kita kepada Tuhan, apakah kita tetap mengasihi Dia? Seringkali kita marah dan diam (putus asa), tidak lagi mau berdoa, mulai tidak percaya, disinilah kita di lihat. Apakah tetap setia dan percaya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan kita disaat semuanya di-ijinkan terjadi dalam hidup kita.

Kedua, kepada orang yang terpanggil sesuai de- dengan rencana-Nya. Orang yang hidup dalam rencana Tuhan, adalah orang yang tidak akan pernah goyah sekalipun bisnis hancur, sekalipun persoalan rumah tangga tidak kunjung selesai, atau pelayanan tidak ada perubahan, tapi tetap percaya dan tetap menjalani dengan iman, bukan men-jauhkan dirinya dari pelayanan, tetap akan berusaha dan tetap bekerja, karena dia percaya Tuhan sang-gup mengubah keadaan ini menjadi sesuatu yang baik, karena segala sesuatunya bekerja bersama-sama mendatangkan kebaikan bagi kita. Karena itu, yakinilah Allah turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

Allah selalu Bekerja dalam kehidupan kita ketika meresponi panggilanNya untuk memulihkan ke-hidupan kita untuk di ubahkan sesuai dengan Rencananya Tuhan Yesus Memberkati. (Penulis: Ev.Kefas Hervin Devananda.S.Th,M.Pd.K)

HANYA KARENA KASIH KARUNIA

Harap Gampang atau HG, istilah trending topik di  awal tahun 2000-an di kota Kupang. Awal penggu-naannya ditujukan kepada orang yang tidak berbuat apa-apa tapi mendapatkan manfaat dari kerjaan orang lain. Orang dengan keadaan HG biasanya memi-liki sikap yang bervariasi dalam berespon atas apa yang diterimanya. Pertama ada yang malu dan menjadikan situasi HG yang dialami untuk tidak lagi terjadi di kemudian hari. Orang dengan sikap seperti ini akan berusaha sedemikian rupa agar pengalaman HG itu tidak pernah terulang lagi atas dirinya. Kerja keras, giat dan usaha sungguh-sungguh akan diker-jakannya untuk meng-hindari kejadian yang sama terjadi dalam hidupnya.


Sikap kedua justru merasa senang dan terus membuat diri dan kondisinya sedemikian rupa agar hal HG terus ia alami dan keadaan seperti ini si orang itu akhirnya menjadi orang malas. Mengalami stagnan untuk ber-tumbuh dan berkembang serta, kreatif dalam diri dan hidupnya dan sikap ketiga  adalah masa bodoh, tidak  ambil pusing dengan yang disebut sebagai HG itu.

Ini adalah gambaran dari 3 sikap yang banyak kita temui dalam hidup. Mengapa ini menjadi penting untuk dipercakapkan dalam merefleksikan Paskah.

Jawabnya Roma 6:1-14, komunitas kristen mulai terlihat reaksi dalam menanggapi anugrah keselamat-an Allah yang dikerjakan Kristus Yesus bagi manusia, khususnya bagi mereka yang percaya kepadaNya.


Paulus menguraikan penekanan serius pada iman sebagai syarat pembenaran. Pasal 3 manusia dibenar-kan karena iman. Pasal 4 Abraham dibenarkan karena iman. Pasal 5 hasil pembenaran. Iman itu disebutkan sebagai kasih karunia. Kasih karunia adalah sesuatu yang datangnya dari Allah, menjadi inisiatif Allah yang Allah berikan pada siapapun tanpa melihat siapa dia.

Dalam pemberian  Allah itu ada bagian yang akan diterima oleh orang yang meresponi kasih karunia itu dan respon itu berwujud dalam hal berimannya, manakala dia menerima dengan syukur dan percaya kepada Allah yang memberikan  kepadanya.

Tindakan  percaya diwujudkan melalui menggan-tungkan seluruh diri dan kehidupannya kepada Allah, dan menuntun dirinya agar melakukan apa yang Allahkehendaki, dalam firman dan hukumNya. Arti-nya, orang beriman itu orang pertama-tama percaya pada Allah dan kedua melakukan firman dan kehendakNya. Kalau kita disebut orang beriman, maka 2 aspek ini harus terwujud dalam sikap hidup kita.

Setelah menjelaskan apa yang dimaksudkan dengan dibenarkan karena iman itu, Paulus kemudian pada pasal 5 melanjutkan bahwa orang beriman itu kemudian menerima daripada apa yang Tuhan Yesus kerjakan dalam karya pe-nyelamatan melalui peris tiwa salib dan kebang-kitanNya. Hal itu adalah pembenaran. Maksudnya adalah orang beriman itu akan menerima karya pembenaran yang dilaku-kan Tuhan Yesus, yaitu penebusan dan penga-mpunan dosa sehingga orang itu mengalami pendamaian dengan Allah yang menyebabkan ia diselamatkan dan hidup (Roma 5:10).

Pengajaran ini mendatang sukacita besar bagi pengikut Kristus karena iman yang dikaruniakan Allah akan membawa mereka kelak berkumpul bersama dengan Tuhan yang disembahnya. Akan tetapi, peng-ajaran seperti ini kemudian digunakan oleh lawan-lawan Kristus,  kelompok dan komunitas yang selama ini tidak menghendaki ajaran  Kristus itu berkembang dan didengarkan oleh bangsa-bangsa, yaitu pemimpin dan umat agama Yahudi dan non-Yahudi.

Untuk agama Yahudi tujuan mereka agar kekris-tenan tidak disebarkan dan diakhiri sesegera mungkin dan yang menjadi pengikut kristen kembali menjadi umat Yahudi dan hidup menurut ajaran Yahudi. Sedangkan non Yahudi adalah supaya pengaruh agama kristen tidak lagi menyebabkan pengaruh agama mereka menjadi lemah dalam kehidupan bermasyarakat.

Untuk merealisasikan tujuan itu maka kelompok ini menyampaikan hasutan dalam bungkus pengajaran untuk menjadikan kasih karunia Allah itu dengan sikap seperti kelompok kedua dari hal HG yang di awal kita bahas tadi.

Komunitas kristen yang oleh mereka masih bisa dipengaruhi didekati dan diajarkan untuk menerima kasih karunia Allah itu sebagai kesempatan untuk tetap melanjutkan kehidupan mereka yang penuh dengan kesenangan yang jauh dari yang Allah kehendaki.

Provokasi mereka adalah selama kasih karunia itu ada mereka akan selalu mendapatkan pengampunan dari Allah dan mengalami hasil pembenaran. Atau mengajarkan mumpung ada kasih karunia, buat dosa juga tidak apa-apa nanti setelah buat dosa cukup memohon pengampunan dosa kepada Allah yang punya kasih karunia itu, maka mereka akan kembali diampuni Allah.

Hasutan sesat ini mendatangkan keresahan bagi jemaat kristen. Pengaruh hasutan ini menyebabkan kasih karunia itu dilihat sebagai kesempatan untuk tetap hidup dalam dosa karena kasih karunia dijadikan jaminan untuk memperoleh pembenaran dari Allah.

Dan terhadap hal ini, Paulus berikan responnya, dalam ayat 1 pasal 6, melalui kalimat “jika demikian apakah yang hendak kita katakan, bolehkah kita bertekun dalam dosa supaya semakin bertambah kasih karunia itu?” Respon tegas dari Paulus adalah tidak. Artinya, ajaran yang disebarkan kelompok-kelompok itu tidaklah benar dan tepat. Itu justru akan menyebabkan manusia semakin jauh dari Allah.

Kasih karunia yang Allah berikan melalui kema-tian dan kebangkitan Yesus itu terjadi 1 kali dan tidak akan terulang lagi atau berulang-ulang (Bdk. Ayat 10). Kalau demikian apakah yang bisa dijelaskan dengan kasih karunia itu?

Kalau pembahasan ini diikuti dengan alur penjelasan sejak pasal 3, maka dapat disimpulkan bahwa kasih karunia Allah itu di dalamnya berisikan 3 hal, yaitu pembenaran-penebusan, pengudusan dan pendamain. Apakah itu?

Pembenaran-penebusan. Ini adalah unsur per-tama dalam kasih karunia Allah. Ketika Allah meng-anugrahkan kasih karunianya, orang yang diper-kenankan Allah menerima kasih karunia ini diberikan hikmat dan kemampuan agar ia mengenal Allah dan apa yang Allah kehendaki. Paulus menggunakan Abraham sebagai contohnya. Allah memberikan kasih karuniaNya kepada Abraham yang berasal dari Ur-Kasdim untuk mengenal diriNya dan kehendakNya.

FRANSINA NDOLU, MPdK

adalah seorang pengajar dan juga konselor yang baik, dipakai Tuhan dalam berbagai pelayanan gereja. Juga sebagai narasumber diprogram MATAHATI.TV dan memiliki chanel sendiri di youtubi khusus program renungan harian


Pengenalan itu menyebabkan Abraham menaruh percaya kepada Tuhan yang ditunjukkan dalam respon taat pada perintah Tuhan dan selalu menggantungkan kehidupannya kepada Tuhan dan itulah tindakan iman (Ibrani 11:8-19). Tindakan iman ini menyebabkan Abraham dikasihi Tuhan dan segala permohonannya dijawab Tuhan dan kemudian ia disebutkan sebagai bapak segala orang percaya. Karena iman ini, maka Abraham dibenarkan Allah, ketika melakukan kesa-lahan dan menginfasinya lalu tidak mengulanginya, maka ia mendapatkan penebusan atas dosa dan kesalahannya, ia tidak lagi disebut dengan nama Abram melainkan Abraham.

Kasih karunia ini tidak hanya berhenti ditahapan pembenaran-penebusan, karena ketika orang yang mendapatkan pembenaran-penebusan dari Allah, yaitu pengakuan Allah atas dirinya (dalam kasus Abraham ditandai dari Abram-menjadi-Abraham), orang yang menerimanya diberikan kekuatan untuk masuk dalam unsur kedua yaitu pengudusan diri. Supaya jangan kembali melakukan sikap seperti kelompok kedua dari kasis HG tadi.

Pengudusan diri ini adalah tahapan dimana Allah mengaruniakan kuasa dan RohNya kepada orang yang sudah mengalami pembenaran-penebusan, agar ia mempunyai kemampuan  untuk mempertahan dirinya menjadi orang yang benar di hadapan Allah. Di tahapan ini, yang dibutuhkan dari orang ini adalah mengatur dirinya agar ia menjaga sikap dan kelakuan, hati dan tubuhnya untuk tidak jatuh lagi dalam dosa.

Pengudusan diri adalah tahapan pengikut kristus mematikan kedagingannya untuk hidup menurut apa yang Allah kehendaki sehingga ia tidak jatuh dalam ajaran penuh hasutan dan provokatif tentang kasih karunia dari dua kelompok tadi, menjadikan kasih karunia untuk terus berbuat dosa.

Di proses inilah orang percaya perlu membangun relasi yang kuat dengan Allah dan memberi diri untuk mengikuti apa yang Allah kehendaki. Pengudusan diri ini adalah cara untuk tetap berjalan dalam kehendak Tuhan saat hidup dan bertemu dengan kehendak lain, yang bertentangan dengan kehendak Tuhan.

Dalam kasus Abraham, tahapan ini ditemukan dalam hal Abrahan selalu mempersembahankan korban bakaran kepada Tuhan, berdoa kepada Tuhan dan mengekang kedagingannya untuk tidak lagi melakukan kesalahan yang sama setelah ia men-dapatkan pengampunan dari Tuhan.

Ketika orang yang menerima kasih karunia Allah itu melakukan dua tahapan terdahulu dari kasih karunia itu, maka ditahap yang terakhir, mereka yang setia.

Tahapan-tahapan ini dapat disimpulkan sebagai proses yang harus dilalui oleh mereka yang menyebut dirinya pengikut Kristus dan murid Yesus yang sejati, yang setia. Ia memberi dirinya untuk dibenarkan untuk mendapatkan penebusan, lalu menguduskan dirinya untuk memperoleh pendamaian dari Allah.

Semua yang melakukan tahapan ini dalam kesetiaan, maka ia sekalipun terlahir setelah peristiwa kematian dan kebangkitan Yesus, tetap dipersatukan dalam kematian dan kebangkitan Yesus serta beroleh keselamatan yang disediakan Tuhan. Karena itu kasih karunia itu pemberian Allah yang harus dijalani dalam proses yang membutuhkan si penerimanya untuk berespon dengan baik.

Hari ini kita merayakan paskah. Kebangkitan Tuhan. Paskah adalah tanda kemenangan, yaitu kemenangan Tuhan untuk menaklukkan kuasa yang membuat kita tidak bisa hidup dalam kasih karunia Allah, dibenarkan untuk ditebus, dikuduskan untuk memperoleh pendamaian, yaitu diselamatkan dan beroleh hidup kekal. Paskah ini adalah kasih karunia Allah  yang disediakan kepada setiap orang. Allah yang menyediakan ini memberikan sebagai kasihNya kepada manusia. Dan supaya kita bisa hidup di dalam kasih karunia Allah itu, maka melalui bacaan ini Paulus menasehatkan itu untuk berespon dengan baik melalui sikap hidup kita untuk mengalami kasih karunia Allah itu agar melalui iman yang ada pada kita, kita mengalami proses dibenarkan-ditebus, dikuduskan untuk pendamaian dengan Allah agar diselamatkan dan beroleh hidup kekal. Paskah adalah waktu yang Allah  sediakan bagi kita. Kita diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, maka meng-alami sukacita paskah itu ataukah menjadi orang yang berada di luar paskah.

Pilihan itu ada pada kita dan kalau kita memilih untuk menjadi orang yang mengalami sukacita Paskah, maka kita berkewajiban membangun iman kita melalui percaya kepada Kristus dan melakukan kehendakNya supaya kita dibenarkan-ditebus, dikuduskan dan mengalami pendamaian dengan Allah. Semua kita yang memilih pilihan untuk mengalami sukacita paskah harus menjadikan hidupnya sebagai alat kebenaran dari Allah.

Selamat mempersiapkan pelayanan. Selamat Paskah 2024. Selamat menjadikan hidup sebagai senjata kebenaran Allah. Tuhan memberkati. (Fransina Ndolu, MPdk., Narasumber MATAHATI.TV) 

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...