Jumat Agung kita belajar pada jalan salib yang
ditempuh Yesus, mengosongkan diriNya sebagai Anak Allah dan mau mati sebagai
korban sembelihan. Yesus menghilangkan kesetaraanNya dengan Allah dan tunduk
pada jalan derita. Paskah Yesus menyatakan diriNya yang kuasa melampauhi segala
akal, Yesus bangkit dari antara orang mati. Dan melalui bacaan Alkitab I Petrus
1:3-6 kita belajar bahwa memberikan pemahaman kematian dan kebangkitan Yesus
menjadi harapan baru.
Pertama, kematian Kristus adalah jalan derita sudah
diberitakan sebelumnya. Yesaya 53:3-5 “Ia dihina dan dihindari orang, seorang
yang penuh kesengsaraan dan yang biasa menderita kesa-kitan; ia sangat dihina,
sehingga orang menutup mukanya terhadap dia dan bagi kita pun dia tidak masuk
hitungan. Tetapi sesungguhnya, penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan
kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul
dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia
diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan kese-lamatan
bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”
Jalan salib bukan jalan yang mudah, dimulai penghiatan orang terdekat Yesus pada perjamuan malam. Seorang murid bernama Yudas Iskariot, sahabat yang dipercaya, kawan dalam perjalanan, teman dalam kebersamaan, berhianat menjual-Nya dengan 30 uang perak. Akibatnya kematian yang menggenaskan, tragis, tergantung di kayu salib sebagai seorang hukuman, dihitung diantara para pemberontak.
Derita Yesus ditulis Yesaya: Yesus dihina, dihindari
orang, orang terdekatnya juga menghindar, Simon Petrus muridNya menyangkal Dia
dengan sumpah, mengaku tidak mengenal-Nya. Yesus penuh sengsara dan menderita
kesakitan, Pontius Pilatus dan para prajurit Romawi tidak berhenti menyesah-Nya
sepanjang malam sampai pagi tiba. Betapa derita dan kesakitan itu
ditanggungNya, Yesus tidak bicara apa-apa, tubuhNya tidak berbentuk lagi dan
penuh lumuran darah, kulitNya terkelupas dan tidak ada tempat yang tidak
terluka, demikian buruk tubuh itu sehingga orang menutup mukanya terhadap
Yesus.
Jalan salib bukan jalan yang mudah, bukan juga jalan
yang ringan. Tidak ada manusia sepanjang sejarah telah disiksa dan dianiaya
seperti Yesus, orang lain yang melihatNya berpaling tidak sanggup melihat
derita yang Dia alami. Ia raja, nabi, penuh kuasa, orang yang dulu selamatkan
banyak orang, membangkitkan orang yang sudah mati, kini dimahkotai dengan
mahkota duri, kepalaNya tertusuk, darah menetes membasahi wajahNya. Tetapi
Yesus melewati semua itu dengan diam.
Jalan salib bukan jalan yang mudah, bukan jalan yang
ringan. Derita terus mendera mencabik-cabik tubuhNya dan banyak orang
mengolok-olok Dia, mencabik-cabik hatiNya. Semua itu membuat Dia tidak mampu
memilkul salibNya, Ia pun tersungkur di tanah. Orang memapahNya menuju
kematianNya di bukit Kalvari. Ia sendirian tanpa teman, tanpa keluarga, tanpa
siapa-siapa dan Bapa yang Kuasa yang mengutusNya memikul salib seperti-Nya
meninggalkan Dia. Sampai Ia berteriak-teriak Eli Eli Lama Sakbatani, Tuhanku,
Tuhanku, mengapa Engkau meninggalkan Aku? Ia tetap taat dan setia dalam
panggilanNya.
Yesaya telah menubuatkan: Yesus yang penuh
kesengsaraan itu sesungguhnya mendatangkan keselamatan bagi kita, oleh
bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Ada kata ke luar dari mulutNya yang sungguh
luar biasa, doa permohonan, terucap dari kayu salib itu: Ampunilah mereka
karena tidak tahu apa yang mereka perbuat dan iapun meneruskan doaNya itu dengan
mengatakan: kepada-Mu ya Bapa Aku menyerahkan nyawaKu. Itulah kunci sukses
Yesus, ketaatan sampai mati, kesetiaannya sampai akhir, buahnya manusia
memperoleh keselamatan.
Jalan salib menunggu kita untuk berani masuk dalam
sengsara dan derita seperti Yesus alami dan menang. Pergumulanmu, keputusasaan-mu,
penderitaanmu, usahamu yang gagal, penyakitmu yang tak sembuh-sembuh, buah kadungan
yang tak kunjung datang dan apapun yang kamu alami saat ini, tetaplah setia,
tetaplah taat pada imanmu, pastilah kaupun menang seperti Yesus taat dan setia
dan Yesus menang.
Kedua, kebangkitan Kristus adalah kemenangan dan
harapan akan hidup kekal. I Petrus 1:3-4 Terpujilah Allah dan Bapa Tuhan kita
Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar telah melahirkan kita kembali
oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang mati, kepada suatu hidup yang
penuh pengharapan, untuk menerima suatu bagian yang tidak dapat binasa, yang
tidak dapat cemar dan yang tidak dapat layu, yang tersimpan di sorga bagi kamu.
Ketika tiba hari Paskah, beberapa orang datang ke
kubur Yesus, termasuk Maria Magdalena melihat kubur kosong, Yesus yang
disalibkan itu telah bangkit dari antara orang mati. Mula-mula tidak ada yang
percaya pada berita kebangkitan itu, Simon Petrus sekalipun ia tidak percaya
toh pergi juga melihat kubur yang kosong. Dan terjadilah perubahan pada diri
para murid setelah kejadian itu berubahnya ketakutan jadi keberanian,
berubahnya kekhawatiran dan kelemahan jadi kekuatan, berubahnya keputusasaan
menjadi pengharapan yang baru, Dia Yesus yang telah bangkit meneguhkan kembali
iman yang lemah menjadi kuat, karena Dia yang telah mati menjadi hidup kembali.
Paskah-Nya Yesus dan kuasa kebangkitanNya menembus
ruang kehidupan setiap orang. Ketika kita gelisah, Tuhan hadir disitu, ketika kita
takut, Tuhan hadir disitu, ketika kita bimbang Yesus hadir disitu. Yesus
mengubah rasa takut, mengubah rasa gelisah, bimbang menjadi damai sejahtera.
Kehadiran Yesus memperbaharui hidup kita mengalami
perubahan meneguhkan iman, meneduhkan jiwa yang gelisah. Kebangkitan Yesus
menjadikan bebas dan tidak terkunkung dalam sebuah ruang komunitas maupun
pribadi yang terkunci. Yesus sanggup membuat kita melewati semua derita dan
sengsara yang sedang alami saat ini. Dan kita keluar menyaksikan kuasa Yesus
yang sudah terjadi pada diri kita. Kesaksian kita bentuk penerimaan kita pada
kebangkitan yaitu kemerdekaan yang diberikan Yesus untuk kita. Pengalaman
perjumpaan pribadi dengan Yesus membuat harapan baru bagi dan bagi orang yang
mendengar bahwa kebangkitan adalah harapan baru yang memberi damai.
Yesus adalah Tuhan yang berkuasa atas kehidupan para
murid dan berkuasa pada hidup kita. Kehidupan Yesus dari kematian adalah wujud
nyata bahwa Dia bersedia dan sanggup menembus hati dan hidup kita sehingga problem,
masalah, pergumulan, keputus-asaan, penyakit, sangsara, derita, dapat dilalui
seperti Yesus melewati kematianNya di Golgota dan Yesus bangkit dari kematian
itu dan itulah harapan kita seperti Yesus melewati persoalan dan kita menang.
Hidup dalam pengharapan adalah hidup bersemangat,
bergembira bersama Yesus. Hidup berpengharapan adalah hidup yang menghasilkan
karya yang bermanfaat bagi sesama dan berbagi berkat yang telah kita terima
dari Tuhan kepada sesama karena hidup yang berpengharapan bersumber dari Yesus
yang bangkit untuk kita.
Hidup berpengharapan mengingat Tuhan dari semua berkat
yang telah kita terima. Dengan sukur dan rela hati dan tahu yang sudah kita
miliki berasal dari Tuhan. Kita tidak perlu kikir, pelit, berhemat dalam
mengembalikan pada Tuhan yang menjadi milik Tuhan, persembahan persepuluhan,
persembahan khusus yang wajib, persembahan sukarela kita yang kita kembalikan
kepada Tuhan.
Janganlah menggemgam dengan erat berkat yang sudah
diterima, tetapi lepaskanlah dia, kembalikan kepada Tuhan, imanilah firman
Tuhan: tepung dalam tempayanmu dan minyak dalam buli-bulimu, tidak akan
berkurang sebab kebangkitanNya sumber berkat, harapan baru.
Tepatlah perkataan Petrus: I Petrus 1:3 Terpujilah
Allah dan Bapa Tuhan kita Yesus Kristus, yang karena rahmat-Nya yang besar
telah melahirkan kita kembali oleh kebangkitan Yesus Kristus dari antara orang
mati, kepada suatu hidup yang penuh pengharapan. I Petrus 1:8 Sekalipun kamu
belum pernah melihat Dia, namun kamu mengasihi-Nya. Kamu percaya kepada Dia,
sekalipun kamu sekarang tidak melihat-Nya. Kamu bergembira karena sukacita yang
mulia dan yang tidak terkatakan. Iman kita atas kematian dan kebangkitan Yesus
hendaknya tidak undur, tetap setia dan taat sampai akhir.
Renungkanlah firman Allah: jalan salib kematian
Kristus di Golgota di bukit Kalvari memang harus kita lalui, tetapi
kebangkitanNya adalah harapan baru bahwa jalan salib itu sekalipun sakit,
sekalipun berat, kita dapat melewatinya dan menang. Tuhan Yesus memberkati. Amin.
(Pdt. Mawardin Zega, disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli
pada 7 April 2024)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar