Kamis, 18 April 2024

sketsa MENJADI LUPA

Pernahkah ketinggalan sesuatu yang harusnya dibawa ketika bepergian, sekalipun sudah disiapkan sebelumnya? Atau pada suatu waktu merasakan tidak menyampaikan suatu pesan titipan teman pada seseorang yang wanti-wanti dipesankan untuk disampaikan ketika bertemu? Ataukah ketika membeli beberapa barang ada saja yang tertinggal dan atau tidak jadi dibeli tanpa tahu sebabnya? Ini semua boleh jadi karena kita lupa atau terlupakan.

Kamus bahasa Indonesia menyebutkan lupa ialah hilangnya kemampuan untuk mengung-kapkan kembali informasi yang telah kita terima atau yang sudah kita pelajari, atau dengan kata lain lupa merupakan ketidakmampuan menge-nal dan atau mengingat sesuatu yang pernah dipelajari atau dialami sebelumnya.



Lupa yang dialami seseorang terjadi karena beberapa alasan dimulai dari tidak mendapatkan waktu tidur yang cukup, kelelahan, stres, pola hidup tidak sehat, penuaan, cedera otak hingga mengalami kondisi medis seperti alzheimer dan atau demensia. Lupa dapat disebab-kan adanya intervensi dalam proses mengingat sehingga yang sedang diingat berantakan atau terhilang dari ingatan.

Karena lupa ini merupakan kata kerja, maka keadaannya sering dilupakan. Itulah sebabnya kita sering mengalami atau terulangnya hal-hal yang sama pada diri kita karena kita sering lupa pada pengalaman kita atau pengalaman orang lain tentang sesuatu hal. Akibatnya kita meng-ulangi lagi hal yang sama yang harusnya kita dapat antisipati untuk tidak terulang.

Demikian juga dalam hal berbangsa dan ber-negara, peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi sebelumnya jangan sampai dilupakan ataupun terlupakan begitu saja agar peristiwa yang pernah menjadi pengalaman buruk dalam seja-rah berbangsa dan bernegara tidak terulang kembali. Itulah sebabnya Presiden Ir Sukarno pada pidatonya yang terakhir hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia tanggal 17 Agustus 1966 mengingatkan rakyat Indonesia untuk jangan sekali-kali meningalkan sejarah dan pidato ini akhirnya dikenal dengan semboyan Jasmerah.

Seorang tokoh besar pada zamannya bernama Moses menulis dalam kitab segala kitab meng-ingatkan bangsa Isarel mengingat peristiwa ke-luarnya mereka dari dapur perbudakan di Mesir.

Kitab segala kitab menulis: Ingatlah kepada zaman dahulu kala, perhatikanlah tahun-tahun keturunan yang lalu, tanyakanlah kepada ayah-mu, maka ia memberitahukannya kepadamu, kepada para tua-tuamu, maka mereka menga-takannya kepadamu (Ulangan 32:7). Kewajiban mengingat atau tidak lupa merupakan perintah Tuhan sebagai suatu pembelajaran bagi masa kini dan masa depan.

Menjadi lupa adalah suatu keadaan yang perlu dihindari. Apa yang kini sedang dialami oleh kita bangsa Indonesia dengan mudah lupa pada pe-ristiwa sejarah, pada reformasi yang digulirkan 24 tahun silam hampir terlupakan dalam benak dan kini kalau kita biarkan reformasi itu jalan sendiri maka tidak mustahil ia akan kemabali pada keadaan seperti pada waktu reformasi itu diperjuangkan. Tepatlah yang dipidatokan Presiden Sukarno akan jasmerah, jangan sekali-kali melupakan sejarah.

3

(Penulis: Ega Mawardin II Pemred)  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...