Rabu, 06 Maret 2024

Kuat Menghadapi Badai (Mawardin Zega)

 

KUAT DALAM MENGHADAPI BADAI

(Filipi 4:13)

Tiap orang pasti menghadapi badai. Tokoh-tokoh Alkitab seperti Abraham, Ishak, Yakub dalam realita hidup mereka juga mengalami badai kehidupan, seakan ditinggalkan Tuhan dan tidak terselamatkan. Musa juga mengalami badai dalam memimpin bangsa Israel ke luar dari Mesir. Para nabi, bahkan murid-murid Yesus seperti Andreas, Petrus, Yohanes juga mengalami badai kehidupan. Disimpulkan setiap orang mengalami badai hanya takaran besar kecilnya yang berbeda.

Paulus menulis: “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku (Filipi 4:13). Paulus bersaksi memberikan pernyataan badai selalu ada dan Paulus dapat melewati dan menanggungnya karena tahu dan percaya pada satu nama, Dia yaitu Yesus yang memberi kekuatan. Paulus mengatakan segala perkara bukan satu atau dua saja, tetapi semua persoalan bisa dilewati karena Yesus memberi kekuatan. Melalui firman ini kita belajar bagaimana menghadapi badai kehidupan itu sehingga kita kuat.

Pertama, badai pasti datang, pasti hadir dan celakanya kita memberinya peluang dan kesempatan berkarya dalam diri kita. Salomo menulis: “Ada jalan yang disangka orang lurus, tetapi ujungnya menuju maut” (Amsal 14:12). Yakobus menulis: “Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut” (Yakobus 1:14-15)

Pada teks ini menyatakan badai atau persoalan hidup muncul karena kita memberi peluang, memberi tempat, kesempatan untuk berkarya. Badai itu bukan dari Tuhan, bukan dari Iblis, melainkan dari diri kita sendiri, karena tidak bisa mengontol hawa nafsu yaitu keinginan sendiri. Amsal menyebut: disangka orang lurus, sebenarnya kita tahu jalan berkelok, tahu itu menuju maut, tahu itu salah, tetapi keinginan kita lebih berkuasa, keinginan itu mengendalikan diri kita sehingga jalan di depan itu kita sederhanakan dalam pikiran kita, jalan berkelok-kelok kita anggap lurus. Maka tidak heran kalau kita melihat ada orang yang sudah berkecukupan malah bertindak bodoh dengan korupsi, merampas milik orang lain, menipu banyak orang, merampas hak Tuhan, hak anak yatim dan para janda dilahap tanpa malu, halalkan segala cara mencapai tujuan bahkan menggunakan doa dan gereja sebagai kamuflase dari kejahatan yang dilakukan. Tepat pernyataan Yakobus: keinginannya sendiri yang menjerumuskan orang. Keinginan atau nafsu itu memikat dan menyeret, mula-mula pikiran, dibuahi dan menjadi tujuan, berubah menjadi tindakan itulah dosa.

Jadi, jangan pernah katakan badai ini dari Tuhan, badai ini dari Iblis, memang Tuhan menginjinkan badai itu datang menerpa, Iblis melengkapinya dengan bermacam-macam godaan yang memikat hati, hal ini terjadi karena nafsu dan pengetahuan kita tentang Tuhan sempit, bahkan kurang, mungkin saja tidak ada, sehingga kita menjadi budak untuk diri kita sendiri. Karena itu mulai sekarang cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu, jangan serakah, kikir, pelit dan jangan ingin yang berlebihan, ingatlah dalam segala yang ada padamu itu ada juga bagian orang lain, juga ada bagiannya Tuhan.

Kedua, badai menerpa orang-orang hebat, apa lagi orang yang biasa-biasa saja, badai ada karena bimbang, khawatir dan takut pada keadaan sekelilingnya. Kisah Petrus hampir tenggelam ketika ia berjalan di atas air dan kisah murid-murid yang marah pada Yesus karena Yesus tidur saat badai mengamuk menjadi contoh bagi kita. Matius menulis: “Tetapi ketika dirasanya tiupan angin, takutlah ia dan mulai tenggelam lalu berteriak: "Tuhan, tolonglah aku!" (Matius 14:30). “Sekonyong-konyong menga-muklah angin ribut di danau itu, sehingga perahu itu ditimbus gelombang, tetapi Yesus tidur (Injil Matius 8:24).

Dua peristiwa berbeda, tetapi ada kesamaannya yaitu badai yang mengamuk dan keduanya mengancam jiwa orang-orang yang dekat dengan Yesus. Kenapa Petrus bisa tenggelam padahal ia beriman pada Yesus dan bahkan Yesus yang memerintahkan untuk berjalan di atas air. Jawabnya Petrus mulai bimbang karena situasi dan kondisi. Ada tiupan angin, muncullah ketakutan dan dalam ketakutan itu imannya goyah dan kekhawatiran mememuhi pikirannya.

Bimbang, khawatir, takut adalah satu paket keadaan dan kondisi yang terus dihadapi dalam hidup. Bimbang akan menghasilkan keragu-raguan pada harapan yang seharusnya dicapai dan karena keragu-raguan terpaksa mencari jalan lain sebagai tambahan pegangan untuk menyakinkan bahwa harapan dapat dicapai. Itulah sebabnya banyak orang gagal dalam mencapai tujuan beriman yaitu percaya pada Yesus, harusnya sepenuhnya bergantung pada Yesus, tetapi karena ia ragu, ia mencari cara memenuhi harapannya itu.

Hal ini dilakukan Sara istri Abraham, seorang istri yang percaya pada Tuhan, tetapi Sara menawarkan Hagar pada Abraham untuk memperoleh anak walau itu bukan yang dijanjikan Tuhan. Demikian juga sikap Ribka istri Ishak, ia ingin membantu Tuhan agar berkat yang seharusnya pada Yakub, jangan sampai terlanjur diambil Esau. Sara takut karena ia mandul, Ribka takut karena ia lebih menyayangi Yakub, lalu tindakan mereka menjadi salah akibat keraguan dan ketakutan, mereka akhirnya menyederhanakan sikap mereka menjadi seolah-olah benar. Ini akibat dari kebimbangan seperti Petrus bimbang dan khawatir karena tiupan angin, seperti murid-murid di atas perahu takut dan khawatir karena badai yang mengamuk itu. Jadi karena kebimbangan, khawatir, takut, kita tidak bisa bertahan pada badai yang datang  dan akhirnya terperosot dalam tindakan yang salah.

Ketiga, karena badai itu pasti datang, kita wajib untuk memiliki penyangkal ke luar dalam badai, sehingga kita kuat ketika badai itu tiba pada kehidupan kita. Alkitab mengajarkan langkah sederhana agar kuat menghadapi badai.

Satu. Bertekun dalam doa dan tetap tenang menghadapi tantangan. Semua orang tahu berdoa, terkadang doa terkesan disepelekan, akibatnya kehilangan kekuatannya. Kalau kita berdoa kita mendapat kekuatan baru dalam menghadapi badai, karena itu ambillah waktu untuk berdoa. Paulus menulis: “Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa” (Roma 12:12). Ketika rasa sesak tiba dan godaan kenikmatan dunia datang, maka yang utama dilakukan adalah berdoa, sebab doalah menghubungkan kita dengan TuhanYesus. Dengan doa kita bisa mengendalikan diri kita, mengendalikan pikiran kita, mengendalikan tindakan kita agar tidak diseret, tidak terpikat dalam hawa nafsu yang rendah.

Dua. Bertahan dalam keadaan, jangan berbalik, apalagi berhianat pada Tuhan. Saat ombak kehidupan menerjang, kita dapat tergoda dan bahkan berhenti berusaha, juga berhenti beriman. Saat seolah tidak ada harapan, tidak punya apa-apa, biasanya iman ikut terbang melayang entah kemana. Ini yang harus kita perjuangkan agar semagat kita tetap ada. Seorang pahlawan takkan mendapat kemenangan jika berhenti berjuang dan menyerah, inilah yang harus kita teladani. Kita perlu terus berjuang dan berpegang pada iman, jangan biarkan tantangan membuat iman kita terhenti! Paulus menulis: “Tidak tahukah kamu, bahwa dalam gelanggang pertandingan semua peserta turut berlari, tetapi bahwa hanya satu orang saja yang mendapat hadiah? Karena itu larilah begitu rupa, sehingga kamu memperolehnya!” (1 Korintus 9:24). Berhenti berdoa akan membuat kita ditelan ombak dan badai itu sendiri. Berlari membuat kita bisa menyelamatkan diri dari tsunami kehidupan.

Tiga. Tetap menjaga hati agar semakin kuat dan dewasa. Biasanya terjadi saat badai menerjang seseorang bisa semakin kuat dan bisa makin jahat kalau tidak mampu menjaga hati. Situasi dan kondisi ini buat kita menjadi tidak bersyukur, mengeluh, mengutuki Tuhan, ragu pada kuasa-Nya. Di saat itulah kita menjadi rentan godaan Iblis. Karena itu jika hidup sangat sulit, perlu menjaga hati dengan lebih intens. Amsal 4:23 “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” Semua hal memang bermula dari hati kita, pikiran, perkataan dan perbuatan berasal dari hati. Itulah alasan bagi kita untuk terus menjaga hati, utamanya saat-saat sulit. Renungkanlah. Tuhan Yesus memberkati. Amin. (Pdt. Mawardin Zega., disampaikan pada Ibadah Raya Gereja Bethany Gunungsitoli, 3 Maret 2024).

 

Sabtu, 13 Agustus 2022

SKETSA Mencintai Indonesia Mencintai Nusantara

Dalam sebuah percakapan di washaap group, seorang teman menolak penyebutan Nusantara, alasannya sederhana menurutnya kata Nusantara adalah mimpi zaman dulu, mimpinya Gajah-mada tentang Majapahit sebuah kerajaan yang sudah lama runtuh tak berbekas. Lebih lanjut diuraikan bahwa Nusantara istilah yang sukar dipahami sekaligus mengundang kontroversi, membawa kepada mitos-mitos masa lalu.

Aku memang sedikit terganggu pada pendapat itu dan juga dengan alur pikir yang menyatakan demikian. Dalam jalan pikiranku yang pendek (walau bukan sumbu pendek) ada sedikit keraguan yang timbul, apakah frasa Nusantara sedemikian kerdil atau memang segaja dikerdilkan sehingga tidak lagi menjadi kebangaan sebagai-mana pada zaman dan masa-masa sebelumnya.

Ah, tunggu dulu. Mari sejenak belajar pada sumber yang pasti, lihat bahwa sesungguhnya arti kata Nusantara itu baru bicara. Dan rujukan kita adalah KUBI yang memberi arti kata nusantara sebutan (nama) bagi seluruh wilayah kepulauan Indonesia, begitulah kamus Indonesia menjelaskan artinya.

Nusantara merupakan istilah yang dipakai menggambarkan wilayah dari kepulauan yang membentang dari pulau Sumatera sampai pada pulau Papua dan sekarang sebagian besar itu merupakan wilayah negara Indonesia. Kata ini tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12 hingga ke-16) untuk meng-gambarkan konsep kenegaraan yang dianut kerajaan Majapahit. Sejarah mencatat kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang berpusat di Jawa Timur, yang pernah berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M dan men-capai puncak kejayaannya dan  menjadi kemaharajaan raya yang menguasai wilayah yang luas di Nusantara pada masa Hayam Wuruk tahun 1350 hingga 1389, dimana pada waktu itu Patih Gajahmada menyampaikan sumpah terkenal  yaitu Sumpah Palapa.


Pada awal abad ke-20 istilah Nusantara dihidupkan kembali oleh tokoh pejuang nasional Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif negara merdeka pelanjut Hindia Belanda yang belum terwujud. Ketika penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk nama dari kepulauan Indonesia. Jadi tak ada alas an pada kita untuk menghilangkan istilah Nusantara dalam sejarah bangsa Indonesia tercinta ini.

Teringat pada zaman kanak-kanak ada frasa Nusantara begitu akrab di teliga, ia menjadi judul lagu yang sangat menarik dan merakyat dari sebuah band legendaris bernama Koesplus. Lagu Nusantara 5 adalah lagu yang bisa dinyanyikan oleh siapa saja zaman itu, ia adalah lagu yang menggambarkan semangat dan kebanggaan untuk kata  penyebutan bagi Indonesia sebagai Nusantara. Marilah sejenak menyimak syairnya dan rasakan getarnya:

 

“Ribuan pulau bergabung menjadi satu,
Sebagai ratna mutu manikam, 

Nusantara oh nusantara.

 

Berlimpah limpah kekayaan Nusantara, 

tiada dua dimana jua,

Nusantara oh Nusantara.

Siapa tak kenal Nusantara,

siapa tak suka Nusantara,

siapa tak sayang Nusantara,

oh nusantara.

Alamnya indah serta udaranya cerah
menjadi kebanggan semua.

Nusantara oh nusantara.

 

Aneka bunga terhampar sekitar kita, 

seakan ada di dalam surga,

Nusantara oh nusantara.”

 

Jadi sesungguhnya Nusantara adalah kebanggaan kita semua, tidak perlu dikerdilkan artinya, ia rujukan pada kebanggaan masa lalu dari suatu bangsa yang dulu pernah ada dipersada bumi Pertiwi ini. Gajahmada bukanlah mitos, sumpah palapa bukan cerita khayal, Nusantara bukan hanya sekedar nama, ia adalah roh yang mengikat kesatuan kita sebagai suatu negara bangsa dalam bingkai yang tak boleh retak sedikitpun itulah kita Negara Kesatuan Republik Indonesia, harga mati.

(Penulis: Ega Mawardin dan telah dipublikasikan diberbagai media online)


catatan sejarah PROKLAMASI & KEMERDEKAAN

Agustus bulan paling bersejarah bagi bangsa Indonesia, di setiap tanggal 17 diperingati oleh segenap anak bangsa sebagai hari sukacita bersama. Bukan tanpa sebab, tanggal 17 adalah puncak dari perjuangan panjang ratusan tahun dalam melawan penjajah dan menyata-kan dirinya sebagai bangsa merdeka. Pada waktu itu dibacakanlah sebuah naska sekalipun masih coret-coretan yang sampai kini disebut PROKLAMASI. Kata proklamasi itu sendiri diartikan sebagai pengumuman atau pemberita-huan resmi kepada seluruh rakyat Pengumuman ini sebagai pemakluman agar seluruh masyarakat tahu bahwa sudah terjadi peristiwa penting.

Proklamasi adalah pernyataan resmi yang dikeluarkan oleh orang yang sung-guh berwenang membuat pengumu-man itu. Proklamasi digunakan dalam rangka pemerintahan dan biasanya dikeluarkan atas nama kepala negara. Sukarno dan Hatta didaulat menjadi orang yang berwenang untuk menyata-kan proklamasi itu atas nama bangsa Indonesia. Dengan demikian maka proklamasi menjadi sah sebagai per-nyataan seluruh bangsa Indonesia yang diwakili oleh Sukarno-Hatta atas nama negara yang hari itu juga dibentuk.




Proklamasi adalah semangat bersama dengan rela berjuang, berjuang dengan hakiki, berjuang dengan tulus, berjuang dengan penuh idialisme dan dengan mengesampingkan kepentingan diri sendiri. Semangat proklamasi adalah semangat persatuan, kesatuan yang bulat mutlak dengan tiada menge-cualikan setiap golongan dan lapisan masyarakat Indonesia dalam berjuang mencapai proklamasi. Dan karena semangat itulah lahir kemerdekaan, menyatakan diri merdeka, bebas dari penjajahan bangsa asing.

MERDEKA diartika sebagai keadaan dan atau hal yang berdiri sendiri, bebas, lepas, tidak terjajah lagi. Merdeka dari bahasa Sanskerta: महर्द्धिक mahard-dhika yang berarti kaya, sejahtera dan kuat, begitulah kamus memberikan artinya. Merdeka pada waktu itu adalah puncak perjuangan maka taruhannya adalah nyawa, siapa saja yang ingin meniadakan arti kata merdeka itu, maka seluruh bangsa Indonesia mem-belanya dan siap untuk mengorbankan apapun yang ada padanya termasuk nyawanya sendiri. Itulah sebabnya semboyan kemerdekaan waktu itu adalah “merdeka atau mati”.

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia atau Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia disingkat HUT RI  atau dalam bahasa sehari-harinya Tujuh belasan, adalah hari libur nasional di Indonesia untuk memperingati Prok-lamasi Kemerdekaan Republik Indone-sia pada tanggal 17 Agustus 1945. Setiap tahun pada tanggal 17 Agus-tus, rakyat Indonesia merayakan HUT RI dengan meriah, dimulai dari upacara bendera hingga berbagai macam dan rupa perlombaan masyarakat seperti lomba panjat pinang, lomba makan kerupuk, lomba tarik tambang, lomba hias sepeda, dan lain-lain permainan-permainan rakyat. Masyarakat dan diaspora Indonesia di dalam dan di luar negeri memperingati dan merayakan hari tersebut yang diawali dengan upacara bendera dan peringatan detik-detik proklamasi pada pagi hari.

Menjelang Hari Kemerdekaan, Presiden Republik Indonesia selalu memberikan Pidato Kenegaraan dalam rangka Hari Kemerdekaan Indonesia di gedung MPR sebagai kegiatan yang sakral untuk menyambut Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Maka pidato kali ini menjadi penting bagi bangsa Indonesia, kita semua berharap bahwa PRESIDEN akan kembali menggelorakan jiwa proklamasi dalam membangun negeri dengan menyatakan perang melawan idiologi lain dan atau idiologi atas nama agama yang berusaha untuk mengganti PANCASILA sebagai idiologi bangsa dan Negara Indonesia yang ada sejak kita merdeka. Jangan karena sekelompok orang-orang yang lagi mabuk agama, mabuk budaya asing lalu merusak tatanan perjuangan selama ini dan darah para pahlawan yang tertumpah sebelumnya dalam menjadikan Indo-nesia merdeka.

Marilah semua kita yang cinta kemer-dekaan Indonesia menjaga Indonesia dari rongrongan, dari benalu-benalu politik dan dari ajaran idiologi lain yang ingin dan berusaha merubah bentuk dan asas Negara kita NKRI yang berlandaskan Pancasila dan berdasar UUD 1945. NKRI harga mati. (Penulis: Ega Mawardin)

Kamis, 21 Juli 2022

Informasi MATAHATI.TV

 

Drs. Mawardin Zega, M.Th (Redaksi MATAHATI.TV)


Jadwal Siaran MATAHATI.TV (live)







Dua lelaki di bukit Golgota (seri 4 MATAHATI.TV)

 

SERI 4, DUA LELAKI DI BUKIT GOLGOTA, SEBUAH PEMBELAJARAN

Dua lelaki itu juga disalib bersama Yesus fdi bukit tengkorak yang disebut Golgota. Dalam kesakitan dan harapan yang punah tak ada jalan lagi bagi mereka untuk selamat, mereka memang patut dihukum, keduanya adalah penjahat kambuhan dan pembenrontak. Keduanya pasrah pada kematian yang lagi menyongsong tinggal menunggu waktu tak lama lagi, tulang-tulang mereka akan dipatahkan dan tubuh mereka akan dipunahkan dan mereka juga harus mati di hari ini.

 


Dalam keputusasaan itu dua lelaki itu masih berfikir tentang orang yang tergantung diantara mereka, sejak pagi mereka menyaksikan iring-iringan orang banyak yang dating menonton hukuman mati itu. Betapa tidak, lelaki itu sungguh beda dari mereka berdua, raut kejahatan tak ada dimukanya dan sepertinya lelaki yang satu ini tenang sekali menuju kematian. Bahkan dalam siksaan yang ia alami lelaki yang beda ini masih saja sempoat memohon pengampunan untuk para musuhnya dan berkata “ampunilah mereka Bapa karena tidak tahu apa yang mereka lakukan”. Salah satu diantara lelaki itu menaruh hati, entah karena apa membuat ia mengagumi dan percaya bahwa laki-laki yang menderita itu orang tak bersalah dan lelaki penjahat yang ada disebelah kanan Yesus menaruh harapan selamat dari kematian Yesus dan iapun berkata: Yesus ingatlah akan aku apabila engkau datang sebagai raja. Apa yang terjadi kemudian? Silahkan simak MATAHATI.TV https://youtu.be/1xXoCcqSK4U selamat menyaksi-kan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Cinta Batsyeba, masih murnikah? (seri 3 MATAHATI.TV)

 

SERI 3, CINTA BETSYEBA, MASIHKAH MURNI?

Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan dua kata saja "aku mengandung".

Apa yang terjadi kemudian, seorang raja yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan yang luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah dianggap murni?

 


Sebagai narasumber pada seri diskusi ini dari dua latar pendidikan yang berbeda. Pertama adalah Fransina Ndolu, STh., M.PdK yang adalah seorang dosen serta aktifis pelayanan penginjilan dan patnernya adalah Drs. Idaman Zega, SE., MM., MTh yang adalah professional bisnis yang aktif dalam melayani serta penanggap adalah Pdt. Djanne Tando, STh., MTh yang saat ini sebagai gembala di GPDI Jakarta Pusat. Bertindak sebagai host dan moderator adalah Pdt. Joice Ester Raranta, MTh dari tim redaksi MATAHATI.TV.

Materi yang disampaikan menyoroti tentang sikap dari kedua tokoh Alkitab baik Daud maupun Batsyeba yang dua-duanya punya andil dalam perbuatan kejahatan baik dosa perselingkuhan maupun dosa pembunuhan. Pendapat kedua narasumber dapat disaksikan di MATAHATI.TV https://youtu.be/DSSe_-92U3o selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)

Kisah Lea & Rakhel, persaingan keluarga? (seri 2 MATAHATI.TV)

 

SERI 2, KISAH LEA DAN RAKHEL, PERSAINGAN DALAM KELUARGA?

Alkitab itu buku suci yang mengkisahkan tiap kisah orang secara jujur apa adanya. Terntu saja semua tahu bahwa Tuhan memiliki setiap rencana bagi tokoh-tokoh yang disebutkan dalam kitab Alkitab. Demikian juga tentang cinta bahwa sesungguhnya cinta itu tidak bisa dipaksakan. Hal ini dialami juga oleh tokoh besar Alkitab yaitu Yakub dan Lea. Sekalipun mereka sudah membentuk keluarga sesuai dengan hokum pada waktu itu, tetapi cinta keduanya tidaklah utuh. Yakub lebih mencintai Rakhel istinya yaitu adek Lea, sementara Lea harus meminta jatah pada adeknya untuk bisa bersama suaminya sendiri. Poligami sekalipun diperkenankan kala itu tetap saja tak pernah bisa berlaku adil dan tak pernah ada yang bisa berlaku adil pada istrinya. Lea dan Rakhel adakah persaingan dalam merebut cinta yang tak utuh?

Tentang cinta yang dialami dalam keluarga besar Yakub, Lea dan Rakhel juga terjadi dalam keluarga Kristen sekarang ini. Derita Lea juga banyak dialami oleh para istri-istri masa kini yang kecewa dengan suaminya. Sekalipun poligami dilarang, tetapi ada saja yang melakukannya dengan diam-diam dan hal itu tentu akan melukai hati pasangannya.

 


Diskusi seri dua Bincang Malam MATAHATI.TV menghadirkan dua narasumber yang kedua-duanya adalah Candidat doktor Teologi dari salah satu sekolah tinggi teologia di Jakarta. Pembicara pertama adalah Pendeta Iin Nur Indrayani, SE., MM., MTh seorang pendeta dan melayani bersama sumi di salah satu gereja di Jakarta. Sementara pembicara kedua adalah Pendeta Samuel Dalle, MTh yang juga seorang dosen di salah satu STT di Jakarta. Sementara host dan moderator adalah Pendeta Joice Ester Raranta, MTh.

Dalam diskusi Bincang Malam MATAHATI.TV yang disiarkan secara langsung oleh tim redaksi melalui kanal MATAHATI.TV selama 60 menit mengundang banyak perhatian dan komentar yang disampaikan kepada redaksi. Diskusi ini mengungkap sisi lain dari tokoh Alkitab dan kejadiannya dapat disejajarkan dengan kejadian di masyarakat dewasa ini. Acara lengkap dari diskusi ini dapat disaksikan melalui MATAHATI.TV https://youtu.be/Nyk4mH5d-So selamat menyaksikan dan jangan lupa dukung MATAHATI.TV dengan like, komen, bagikan dan subscribe. (Penulis dan Editor : Ega Mawardin)


TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...