Dalam sebuah percakapan di washaap group, seorang teman menolak penyebutan Nusantara, alasannya sederhana menurutnya kata Nusantara adalah mimpi zaman dulu, mimpinya Gajah-mada tentang Majapahit sebuah kerajaan yang sudah lama runtuh tak berbekas. Lebih lanjut diuraikan bahwa Nusantara istilah yang sukar dipahami sekaligus mengundang kontroversi, membawa kepada mitos-mitos masa lalu.


Aku memang sedikit terganggu pada pendapat itu dan juga dengan alur pikir yang menyatakan demikian. Dalam jalan pikiranku yang pendek (walau bukan sumbu pendek) ada sedikit keraguan yang timbul, apakah frasa Nusantara sedemikian kerdil atau memang segaja dikerdilkan sehingga tidak lagi menjadi kebangaan sebagai-mana pada zaman dan masa-masa sebelumnya.
Ah, tunggu dulu. Mari sejenak belajar pada sumber yang pasti,
lihat bahwa sesungguhnya arti kata Nusantara itu baru bicara. Dan rujukan kita
adalah KUBI yang memberi arti kata nusantara sebutan (nama) bagi seluruh
wilayah kepulauan Indonesia, begitulah kamus Indonesia menjelaskan artinya.
Nusantara merupakan istilah yang dipakai menggambarkan wilayah dari
kepulauan yang membentang dari pulau Sumatera sampai pada pulau Papua dan
sekarang sebagian besar itu merupakan wilayah negara Indonesia. Kata ini
tercatat pertama kali dalam literatur berbahasa Jawa Pertengahan (abad ke-12
hingga ke-16) untuk meng-gambarkan konsep kenegaraan yang dianut kerajaan
Majapahit. Sejarah mencatat kerajaan Majapahit adalah sebuah kerajaan yang
berpusat di Jawa Timur, yang pernah berdiri sekitar tahun 1293 hingga 1500 M
dan men-capai puncak kejayaannya dan menjadi kemaharajaan raya yang menguasai
wilayah yang luas di Nusantara pada masa Hayam Wuruk tahun 1350 hingga 1389,
dimana pada waktu itu Patih Gajahmada menyampaikan sumpah terkenal yaitu Sumpah Palapa.
Pada awal abad ke-20 istilah Nusantara dihidupkan kembali oleh tokoh pejuang nasional Ki Hajar Dewantara sebagai salah satu nama alternatif negara merdeka pelanjut Hindia Belanda yang belum terwujud. Ketika penggunaan nama Indonesia disetujui untuk dipakai untuk ide itu, kata Nusantara tetap dipakai sebagai sinonim untuk nama dari kepulauan Indonesia. Jadi tak ada alas an pada kita untuk menghilangkan istilah Nusantara dalam sejarah bangsa Indonesia tercinta ini.
Teringat pada zaman kanak-kanak ada frasa Nusantara begitu akrab
di teliga, ia menjadi judul lagu yang sangat menarik dan merakyat dari sebuah band
legendaris bernama Koesplus. Lagu Nusantara 5 adalah lagu yang bisa dinyanyikan
oleh siapa saja zaman itu, ia adalah lagu yang menggambarkan semangat dan
kebanggaan untuk kata penyebutan bagi
Indonesia sebagai Nusantara. Marilah sejenak menyimak syairnya dan rasakan
getarnya:
“Ribuan pulau bergabung menjadi satu,
Sebagai ratna mutu manikam,
Nusantara oh nusantara.
Berlimpah limpah kekayaan Nusantara,
tiada dua dimana jua,
Nusantara oh Nusantara.
Siapa tak kenal Nusantara,
siapa tak suka Nusantara,
siapa tak sayang Nusantara,
oh nusantara.
Alamnya indah serta udaranya cerah
menjadi kebanggan semua.
Nusantara oh nusantara.
Aneka bunga terhampar sekitar kita,
seakan ada di dalam surga,
Nusantara oh nusantara.”
Jadi sesungguhnya Nusantara adalah kebanggaan kita semua, tidak
perlu dikerdilkan artinya, ia rujukan pada kebanggaan masa lalu dari suatu
bangsa yang dulu pernah ada dipersada bumi Pertiwi ini. Gajahmada bukanlah
mitos, sumpah palapa bukan cerita khayal, Nusantara bukan hanya sekedar nama,
ia adalah roh yang mengikat kesatuan kita sebagai suatu negara bangsa dalam
bingkai yang tak boleh retak sedikitpun itulah kita Negara Kesatuan Republik
Indonesia, harga mati.
(Penulis: Ega Mawardin dan telah dipublikasikan diberbagai
media online)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar