Selasa, 19 Juli 2022

Renungan Pengadilan Sesat Pilatus ( Mawardin Zega )

 

renungan

Pengadilan Sesat Pontius Pilatus

  

“Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut, supaya Ia disalibkan, dan akhir-nya mereka menang dengan teriak mereka”. Injil Lukas: 23:23

 

Belajar terminologi hukum “keadilan harus tetap dijalankan sekalipun langit runtuh.” Namun dalam Kenya-taan hidup sekarang ini slogan tetap slogan tak ada artinya sebab banyak orang terjebak dalam perangkap dan tak mampu melakukan dan menja-lankan keadilan sekalipun tahu tentang keadilan itu sendiri dan kebe-narannya. Apa yang disaksikan di pengadilan sering memutus perkara-perkara yang terlihat dan dirasakan begitu tidak adil dalam pandangan masyarakat yang menuntut keadilan.

 

Hal ini tentu bukan hal baru, ketidak-adilan dalam pengadilan sudah di praktekan jauh sebelumnya. Penga-dilan sesat pernah dipraktekan oleh Pontius Pilatus wali negeri Romawi di tanah Samaria dan Yudea (Israel kini)  sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 23. Saat keadilan harus ditegak-kan dan kebenaran jelas terpampang dihadapannya, Pontius Pilatus justru berlaku tidak adil, barusaha melawan hati nuraninya sendiri.

 

Pontius Pilatus orang yang fenomenal pada masanya dengan keputusannya yang keliru dalam pengadilan sesat (menghukum mati orang tak ber-salah), tanpa hati nurani menyalibkan Yesus, sekalipun telah memeriksanya dengan seksama dan nyakin tidak menemukan kesalahan apapun pada-nya sebagaimana kesaksian Lukas 23:4 “Kata Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak mendapati kesalahan apa pun pada orang ini." Ayat 14: “Kamu lihat sendiri bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tu-duhkan kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.”

 

Pilatus nyakin berdasarkan pemerik-saannya sebagai hakim pengadilan Romawi bahkan dikuatkan oleh pemeriksaan Herodes sebagai raja, tidak menemukan kesalahan apapun sebagaimana dituduhkan pada Yesus, tetapi Pilatus tetap pada putusan pengadilan sesatnya yang disengaja olehnya, menyesah, menyiksa dan menghukum mati orang yang tidak bersalah bernama Yesus.

 

Pengkhotbah 3:16 menulis "di tempat pengadilan, di situ pun terdapat keti-dakadilan, dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidak adilan". Ruang pengadilan apapun menjadi hampa makna dan kehilangan kebenaran, sebab para hakim yang memutus perkara dihatinya sudah didahului dengan ketidak-adilan. Penyebab hal ini terjadi karena adanya rasa takut terhadap manusia dan bukan lagi kepada Tuhan, sehingga tidak berani menyatakan keadilan sekalipun perpampang jelas dihadapannya.

 

Pada dasarnya Pontius Pilatus selaku hakim tidak mendapati kesalahan pada Yesus, dan ingin melepaskan Yesus (ayat 20). Dua kali memeriksa perkara Yesus (ayat 3 dan 14) dan tiga kali berunding dengan para imam Yahudi dan menyatakan bahwa Yesus tidak bersalah (ayat 13-23). Akan tetapi para imam dan rakyat terus mendesak Pilatus menuntut kematian Yesus; dan karena suara mereka besar dan teriakan mereka keras, mereka menang karena teriakan mereka itu (ayat 23) dan akhirnya Pilatus meng-hukum mati Yesus (ayat 24).

 

Mengapa Pontius Pilatus berani me-lawan hati nuraninya sendiri? Ternya-ta dorongan mempertahankan posisi sebagai seorang kepala, sebagai penguasa, jauh lebih kuat ketimbang mengikuti kata hatinya sebagai se-orang hakim. Ia lebih memilih menu-ruti tuntutan rakyat agar tidak terjadi keributan, agar tidak ada kesulitan baginya, agar ia tetap disukai para imam Yahudi, ketimbang melakukan apa yang benar yang ia tahu dan nyakini sekalipun.

 

Sebagai seorang pejabat politik, Pontius Pilatus sungguh mengetahui pentingnya berkompromi dalam menghadapi masalah dan ia mena-warkan pilihan pembebasan Barabas atau Yesus, bernegosiasi dengan baik dan menawarkan penyiksaan Yesus sebagai ganti hukuman mati, kalau perlu mengambil jalan tengah dan cuci tangan tidak terlibat dengan mengirimkan Yesus kepada Raja He-rodes, semua itu dilakukan Pontius Pilatus semata-mata agar ia selamat dalam perkara ini dan lepas tangan seakan-akan ia tidak terlibat dalam penetapan hukuman mati kepada Yesus. Pilatus melihat Yesus tidak lebih sebagai ancaman politik saja, ketimbang sebagai seorang pribadi yang benar dan berintegritas walau-pun ia tahu bahwa Yesus itu adalah orang benar.

 

Ketika taruhannya sangat besar me-mang tidak mudah bagi seseorang tetap berdiri di atas kebenaran dan menjalankan keadilan. Apalagi kalau yang dicapai saat ini bukanlah hasil kerja sendiri, tetapi hasil dari sese-orang yang sebelumnya pernah ada sehingga ragu pada keputusan sen-diri, ragu pada hukum dan pada akhirnya ragu pada kemampuan diri sendiri.

 

Seperti Pontius Pilatus dalam ber-tindak: dengan cepat menggerahkan segala daya membungkam kebenaran dan melihat orang lain sebagai lawan-lawan yang mendatangkan masalah dan harus segera diselesaikan, ke-timbang seorang manusia yang harus dihargai. Maka Pontius Pilatus meng-gerakkan dan melakukan apapun untuk menjaga kekuasaan itu tetap ada sekalipun harus memobilisasi para pasukan dan dayang-dayang menutupi keadaan yang terjadi mengikuti kehendak orang banyak karena suara mereka.

 

Kita pun berpeluang menjadi seperti Pontius Pilatus, ketika mengetahui apa yang benar yang terjadi, tetapi memutuskan untuk tidak melakukan-nya hanya demi kepentingan diri sendiri dan juga kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita yang selalu membisikkan pikiran negatif yang mengintimidasi dan akhirnya suara merekalah yang menang, ka-rena lebih keras dan diulang berkali-kali dan akhirnya Pontius Pilatuspun menyerah pada keinginan orang banyak.

 

Melalui perenungan ini sebuah pem-belajaran: kita belajar untuk tetap berdiri di atas kebenaran, apapun risikonya harus menjalaninya sebab itulah yang dikehendaki Tuhan pada kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Penulis: Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th Pimred MATAHATI.TV & MATAHATI.NEWS

Pdt. Drs. Mawardin Zega, MTh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TANGGUNG JAWAB PENGIKUT TUHAN YESUS (BAHAN FA GEREJA BETHANY GUSIT)

Pada waktu kita belum mengikut Tuhan Yesus lebih sungguh, hidup kita tidak banyak diperhatikan (dinilai) orang. Tetapi ketika kita mulai iku...