renungan
Pengadilan Sesat Pontius Pilatus
“Tetapi dengan berteriak mereka mendesak dan menuntut,
supaya Ia disalibkan, dan akhir-nya mereka menang dengan teriak mereka”. Injil
Lukas: 23:23
Belajar
terminologi hukum “keadilan harus tetap dijalankan sekalipun langit runtuh.”
Namun dalam Kenya-taan hidup sekarang ini slogan tetap slogan tak ada artinya
sebab banyak orang terjebak dalam perangkap dan tak mampu melakukan dan menja-lankan
keadilan sekalipun tahu tentang keadilan itu sendiri dan kebe-narannya. Apa
yang disaksikan di pengadilan sering memutus perkara-perkara yang terlihat dan
dirasakan begitu tidak adil dalam pandangan masyarakat yang menuntut keadilan.
Hal
ini tentu bukan hal baru, ketidak-adilan dalam pengadilan sudah di praktekan
jauh sebelumnya. Penga-dilan sesat pernah dipraktekan oleh Pontius Pilatus wali
negeri Romawi di tanah Samaria dan Yudea (Israel kini) sebagaimana dikisahkan dalam Injil Lukas 23.
Saat keadilan harus ditegak-kan dan kebenaran jelas terpampang dihadapannya,
Pontius Pilatus justru berlaku tidak adil, barusaha melawan hati nuraninya
sendiri.
Pontius
Pilatus orang yang fenomenal pada masanya dengan keputusannya yang keliru dalam
pengadilan sesat (menghukum mati orang tak ber-salah), tanpa hati nurani
menyalibkan Yesus, sekalipun telah memeriksanya dengan seksama dan nyakin tidak
menemukan kesalahan apapun pada-nya sebagaimana kesaksian Lukas 23:4 “Kata
Pilatus kepada imam-imam kepala dan seluruh orang banyak itu: "Aku tidak
mendapati kesalahan apa pun pada orang ini." Ayat 14: “Kamu lihat sendiri
bahwa aku telah memeriksa-Nya, dan dari kesalahan-kesalahan yang kamu tu-duhkan
kepada-Nya tidak ada yang kudapati pada-Nya.”
Pilatus
nyakin berdasarkan pemerik-saannya sebagai hakim pengadilan Romawi bahkan
dikuatkan oleh pemeriksaan Herodes sebagai raja, tidak menemukan kesalahan
apapun sebagaimana dituduhkan pada Yesus, tetapi Pilatus tetap pada putusan
pengadilan sesatnya yang disengaja olehnya, menyesah, menyiksa dan menghukum
mati orang yang tidak bersalah bernama Yesus.
Pengkhotbah
3:16 menulis "di tempat pengadilan, di situ pun terdapat keti-dakadilan,
dan di tempat keadilan, di situ pun terdapat ketidak adilan". Ruang
pengadilan apapun menjadi hampa makna dan kehilangan kebenaran, sebab para
hakim yang memutus perkara dihatinya sudah didahului dengan ketidak-adilan.
Penyebab hal ini terjadi karena adanya rasa takut terhadap manusia dan bukan
lagi kepada Tuhan, sehingga tidak berani menyatakan keadilan sekalipun
perpampang jelas dihadapannya.
Pada
dasarnya Pontius Pilatus selaku hakim tidak mendapati kesalahan pada Yesus, dan
ingin melepaskan Yesus (ayat 20). Dua kali memeriksa perkara Yesus (ayat 3 dan
14) dan tiga kali berunding dengan para imam Yahudi dan menyatakan bahwa Yesus
tidak bersalah (ayat 13-23). Akan tetapi para imam dan rakyat terus mendesak
Pilatus menuntut kematian Yesus; dan karena suara mereka besar dan teriakan
mereka keras, mereka menang karena teriakan mereka itu (ayat 23) dan akhirnya
Pilatus meng-hukum mati Yesus (ayat 24).
Mengapa
Pontius Pilatus berani me-lawan hati nuraninya sendiri? Ternya-ta dorongan
mempertahankan posisi sebagai seorang kepala, sebagai penguasa, jauh lebih kuat
ketimbang mengikuti kata hatinya sebagai se-orang hakim. Ia lebih memilih menu-ruti
tuntutan rakyat agar tidak terjadi keributan, agar tidak ada kesulitan baginya,
agar ia tetap disukai para imam Yahudi, ketimbang melakukan apa yang benar yang
ia tahu dan nyakini sekalipun.
Sebagai
seorang pejabat politik, Pontius Pilatus sungguh mengetahui pentingnya
berkompromi dalam menghadapi masalah dan ia mena-warkan pilihan pembebasan
Barabas atau Yesus, bernegosiasi dengan baik dan menawarkan penyiksaan Yesus
sebagai ganti hukuman mati, kalau perlu mengambil jalan tengah dan cuci tangan
tidak terlibat dengan mengirimkan Yesus kepada Raja He-rodes, semua itu
dilakukan Pontius Pilatus semata-mata agar ia selamat dalam perkara ini dan
lepas tangan seakan-akan ia tidak terlibat dalam penetapan hukuman mati kepada
Yesus. Pilatus melihat Yesus tidak lebih sebagai ancaman politik saja,
ketimbang sebagai seorang pribadi yang benar dan berintegritas walau-pun ia
tahu bahwa Yesus itu adalah orang benar.
Ketika
taruhannya sangat besar me-mang tidak mudah bagi seseorang tetap berdiri di
atas kebenaran dan menjalankan keadilan. Apalagi kalau yang dicapai saat ini
bukanlah hasil kerja sendiri, tetapi hasil dari sese-orang yang sebelumnya
pernah ada sehingga ragu pada keputusan sen-diri, ragu pada hukum dan pada
akhirnya ragu pada kemampuan diri sendiri.
Seperti
Pontius Pilatus dalam ber-tindak: dengan cepat menggerahkan segala daya
membungkam kebenaran dan melihat orang lain sebagai lawan-lawan yang
mendatangkan masalah dan harus segera diselesaikan, ke-timbang seorang manusia
yang harus dihargai. Maka Pontius Pilatus meng-gerakkan dan melakukan apapun
untuk menjaga kekuasaan itu tetap ada sekalipun harus memobilisasi para pasukan
dan dayang-dayang menutupi keadaan yang terjadi mengikuti kehendak orang banyak
karena suara mereka.
Kita
pun berpeluang menjadi seperti Pontius Pilatus, ketika mengetahui apa yang
benar yang terjadi, tetapi memutuskan untuk tidak melakukan-nya hanya demi kepentingan
diri sendiri dan juga kepentingan orang-orang yang ada di sekeliling kita yang
selalu membisikkan pikiran negatif yang mengintimidasi dan akhirnya suara
merekalah yang menang, ka-rena lebih keras dan diulang berkali-kali dan
akhirnya Pontius Pilatuspun menyerah pada keinginan orang banyak.
Melalui
perenungan ini sebuah pem-belajaran: kita belajar untuk tetap berdiri di atas
kebenaran, apapun risikonya harus menjalaninya sebab itulah yang dikehendaki
Tuhan pada kita. Tuhan Yesus memberkati.
Penulis: Pdt. Drs. Mawardin Zega, M.Th Pimred MATAHATI.TV & MATAHATI.NEWS

Tidak ada komentar:
Posting Komentar