CINTA
BETSYEBA DAN DAUD, 2 Samuel 11.
Oleh: Fransina Ndolu, S.Th., M.Pd.K*
Cinta tidak selamanya tulus. Cinta tidak
selamanya indah. Cinta bisa juga dijadikan alat, dijadikan ancaman pada
seseorang yang mendorongnya melakukan perbuatan brutal dan bar bar, dapat
diduga hal ini dilakukan Betsyeba ketika ia mengirim berita kepada Daud dengan
dua kata saja "aku mengandung". Apa yang terjadi kemudian, seorang
raja yang demikian hebat, terkenal dan baik, jatuh dalam kejahatan kemanusiaan
yang luar biasa. Uria orang Het isuami Betsyeba selingkuhannya, seorang pahlawan
yang begitu setia pada Daud diperintahkan untuk dibunuh lewat tangan bangsa
lain oleh Daud hanya untuk menutupi perselingkuhannya dengan Betsyeba. Begitu
dasyatnya akibat perselingkuhan itu, begitu mengerikan cinta yang
ditutup-tutupi itu. Banyak yang bertanya adakah cinta Betsyeba masihkah
dianggap murni?
PENDAHULUAN
Penulis Alkitab memaparkan bahwa tiap
tokoh atau orang dalam Alkitab, memiliki kelebihan dan kekurangan
masing-masing, mereka bukanlah orang
suci atau sempurna, namun memiliki
kejelekan atau sisi gelapnya agar kita belajar dari mereka. Dalam konteks diskusi ini, kita
belajar dari kisah Betsyeba dan Daud bagaimana mereka menempatkan cinta? Apakah
sudah pada tempatnya? Namun sebelumnya mari kita mengenali siapakah Betsyeba
dan Daud.
Betsyeba dalam bahasa Ibrani berarti
perempuan kelimpahan atau putri yang diikat janji. Betsyeba adalah cucu
Ahitofel, salah satu penasehat utama Daud, 2 Samuel 15:12, anaknya bernama
Eliam yang menjadi orang kepercayaan
Daud, 2 Samuel 23:34. Eliam inilah ayah
Betsyeba, ia merupakan salah satu dari 30 pahlawan dari raja Daud,. Betsyeba
menikah dengan Uria orang Het, 2 samuel 11:3. Uria mengabdi pada raja Daud
sebagai perwira kerajaan. Betsyeba adalah wanita yang elok parasnya, ia sangat
cantik.
Sementara Daud merupakan raja kedua yang paling populer di kerajaan
Israel,. Nama Daud artinya yang dikasihi. Daud dilahirkan di Betlehem, Efrata
di wilayah Yehuda. Ayahnya bernama Isai, ia adalah putra bungsu dari 8
bersaudara. Masa remajanya dilewati sebagai seorang gembala kambing domba. Alkitab memaparkan bahwa Daud memiliki fisik
kemerah-merahan, matanya indah dan parasnya elok. Daud menjadi raja kerajaan
Israel selama 40 tahun, 1 Raja-raja 2:11. Daud tidak pernah absen dari medan
tempur, saat musim perang tiba. Namun hari itu naas bagi Daud melewatkan pertempuran Israel melawan Amon. Memilih ber-istirahat di Yerusalem istana
kerajaan dan waktu yang tidak tepat karena saat itu musim perang para raja, 2
Samuel 11:1. Dalam istirahat itu Daud mengabaikan pertahanan dirinya, ia
menjadi lengah terhadap dosa seksualitas, 2 Samuel 11.
Fransina Ndolu, STh., MPdK
DAUD JATUH CINTA PADA PANDANGAM PERTAMA.
Daud tidak dapat menahan dirinya saat
melihat wanita cantik yang sedang mandi, yaitu Betsyeba, 2 samuel 11: 2. Daud jatuh dalam dosa
perselingkuhan dengan Betsyeba, yang adalah istri Uria orang Het,
bawahannya yang sangat setia kepadanya. Berawal dari pandangan pertama
timbul keinginan untuk tidur dengan wanita cantik itu, walau ia tahu telah
bersuami. Keinginan itu disemai
dari mata turun ke hati, dikelola
disana. Dosa ingin itu disirami, oh indah ya, cantik ya, menarik hati dan tidak
pada tempatnya yang kemudian lahirlah dalam tindakan nyata. Bukankah dosa awal dalam kejadian 3:6 Adam dan Hawa
jatuh, tidak saja jatuh karena makan buah pengetahuan yang baik dan jahat itu? Namun
karena ingin. Dosa awal atau dosa asal karena keinginan. Mereka ingin makan
buah itu karena menarik hati, kemudian mendorong mereka untuk ingin makan. Keinginannya
disemai, maka lahirlah tindakan.
PENEMPATAN EKSPRESI CINTA YANG SALAH.
Sayangnya Daud dan Betsyeba menempatkan
cinta tidak pada porsinya., dimana nafsu Daud ini telah membutakan mata hati
mereka dan akalnya bahwa Betsyeba ini adalah istri Uria, salah satu perwiranya
yang sangat loyal dan setia kepadanya. Daud dan Betsyeba tidak peduli kalau Uria
sedang berjuang dan bertarung nyawa di medan perang.
Penempatan cinta yang salah ini telah
menyeret mereka jatuh dalam dosa perselingkuhan dan perzinahan, 2 Samuel 11:4. Akibatnya
Betsyeba mengandung, lalu dikirimlah berita itu kepada Daud "aku
mengandung" . Dua kata ‘aku mengandung’ itu telah menjungkirbalikan akal
sehat Daud, dosa pertama berusaha ditutupi, maka melahirkan dosa berikutnya
lagi, jika tidak bertobat.
Upaya menutupi aib, kepanikan terhadap
kata aku mengandung Daud segera memerintahkan Uria (suami Betsyeba) ditarik
dari medan pertempuran, sang raja memerintahkan orang Het itu, untuk istirahat di rumah, maka Daud bisa
terhindar dari tuduhan bahwa ia telah menghamili betsyeba. Namun Daud gagal menu-tupi jejak
permainannya yang kotor. Uria tidak mau sekalipun diulang beberapa kali, Uria
adalah seorang pahlawan Dn setia kepada raja, 2 Samuel 11 :11. Dosa telah
menutupi mata hati nurani Daud. Dosa awal diikuti dosa selanjutnya. Setelah
gagal dengan trik liciknya, Daud sengaja mengirim Uria ke garis paling depan,
pertempuran yang paling ganas. Sang raja ingin membunuh perwiranya sendiri, secara
sistematis.
Daud sebagai raja memberi surat perintah
kepada Yoab panglima perangnya untuk menempatkan Uria di barisan paling depan
dan membiarkan orang Het itu tanpa perlindungan, 2 Samuel 11:15. Hasilnya menjadi apa yang diharapankan Daud
yaitu Uria gugur di medan perang, 2 Samuel 11:24.
SOLUSINYA PERTOBATAN MENJADI LANGKAH SELANJUTNYA.
Setelah kematian anak pertama mereka,
berdua menyesali dosa-dosa mereka dihadapan Allah. Tuhan menganugerahkan seorang anak lelaki di
masa selanjutnya yaitu Salomo yang artinya damai sejahtera. Salomo merupakan
simbol kasih Tuhan terhadap Daud dan Betsyeba, bahkan Nabi Natan memanggil Salomo
dengan sebutan Yedijah artinya kekasih Tuhan, 2 Samuel 12:25-25. Implikasinya
bagi kita saat ini bahwa dalam Alkitab para penulis Alkitab memaparkan secara jelas
dan transparan dimana para tokoh- tokoh Alkitab atau orang-orang dalam Alkitab
tidak ada yg sempurna atau suci, mereka memiliki sisi gelap dan disitu kita
belajar dan bertobat jika jatuh di area perselingkuhan dan perzinahan agar
mengalami pemulihan dari Tuhan. Bagi
orang percaya kita belajar mawas diri, menjaga hidup dan keluarga kita dari
bahaya perselingkuhan dan perzinahan. Tidak ada yang kebal dengan dosa,
khususnya dosa perselingkuhan dan perzinahan dizaman ini.
*Penulis adalah Dosen STT Paulus
Jakarta.
Editor: Ega Mawardin - Redaksi MATAHATI.TV